Thursday, August 21, 2014

21 AGUSTUS : HARI KEBANGKITAN DAN KEMENANGAN KERAJAAN KAUM PAGAN, NASHORO, SYIAH, AHMADIAH DAN PKI SINTING

21 Agustus 2014

Karen Agustiawan, Direktur Utama Pertamina

Melawan Godaan Harvard dan "Sapi Perah"


SM/dokKaren Agustiawan

Di tengah hiruk pikuk isu politik mengenai gugatan hasil pemilu presiden ke Mahkamah Konstitusi (MK), publik dikejutkan dengan berita mundurnya Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan. Sebab, saat kariernya bersinar dia justru hengkang dan lebih tertarik menerima tawaran mengajar di salah satu universitas paling bergengsi di AS, Harvard.

SOSOK Karen memang fenomenal. Dia adalah wanita pertama yang menjabat sebagai pemimpin perusahaan migas BUMN dalam sejarah Indonesia. Wanita kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 inilah yang berhasil membongkar tradisi bahwa industri tambang, apalagi di perusahaan sebesar Pertamina, lebih pantas disandang kaum pria.

Wanita bernama lengkap Galaila Karen Kardinah itu sudah malang melintang di industri migas sejak 1984. Setelah menamatkan sarjana ilmu teknik fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1978-1983, Karen langsung memulai karier di industri migas berga­bung dengan MobilOil Indonesia, menjadi analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi selama 1984-1986.

Posisi Karen meningkat men­­jadi seismic processor and quality controller MobilOil Indo­ne­sia untuk beberapa proyek seis­mik Rokan, Sumatera Uta­ra, dan Madura pada 1987-1988.

Selanjutnya, 1989-1992, karier Karen naik saat ditugaskan MobilOil Dallas ke AS, menjadi seismic processor dan seismic interpreter untuk beberapa proyek di mancanegara. Pada 1992-1993, Karen kembali ke Tanah Air menjadi project leader di bagian eksplorasi MobilOil yang menangani seluruh aplikasi studi G & G dan infrastruktur.

  Pada 1993-1994, Karen sempat meninggalkan dunia migas saat mengikuti suaminya, Herman Agustiawan (anggota Dewan Energi Nasional dari unsur konsumen) untuk meng­ambil program doktoral di Southern Methodist University, Dallas, AS. Sepulang dari negeri Paman Sam, ia kembali masuk ke MobilOil Indonesia untuk meneruskan tugas sebagai pimpinan proyek di bagian eksplorasi dari 1994-1996. Setelah itu, pada akhir 1996, Karen keluar dari MobilOil Indonesia yang kini sudah diakuisisi Exxon dan bergabung menjadi ExxonMobil Oil Indonesia.

  Pada 1998, Karen ditarik sebagai Product Manager G&G And Data Management Appli­cations di CGG Petrosystems Indonesia. Ia bertanggung jawab atas pengembangan bisnis dan pemasaran perusahaan-perusahaan migas, termasuk Perta­mina. Setahun kemudian berga­bung Landmark Concurrent Solusi Indonesia sebagai spesialis pengembangan pasar dan integrated information management (IIM).

  Pada 2000, Karen diangkat menjadi business development manager untuk beberapa klien, seperti ExxonMobil, Pertamina, BP Migas, dan Ditjen Migas Departemen ESDM. Pada kesempatan ini Karen sukses menjalankan beberapa studi eksplorasi untuk beberapa unit bisnis Pertamina, antara lain di Jambi, Cepu, dan Prabumulih. Keberhasilan tersebut membuatnya dipercaya perusahaan konsultan migas Halliburton Indo­nesia untuk mengisi posisi Commercial Manager for Con­sult­ing and Project Mana­gement pada 2002-2006. Dia bertanggung jawab melakukan pembinaan hubungan dengan De­partemen ESDM, BP Migas, dan Ditjen Migas, termasuk Perta­mina. Jabatan ini membuatnya lebih mengenal para pejabat tinggi di sektor migas.

  Terpikat dengan pengalaman dan prestasi Karen yang cemerlang, Dirut Pertamina waktu itu, Ari H Soemarno menariknya sebagai staf ahli pada Desember 2006. Dua tahun kemudian, pada Maret 2008, pemerintah mengangkatnya sebagai Direktur Hulu menggantikan Sukusen Soemarinda.

  Belum setahun menjabat direktur hulu, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil meng­angkatnya sebagai Dirut Perta­mina sejak 5 Februari 2009, karena Karen dinilai cukup kompeten untuk menduduki jabatan tersebut. Sofyan menyatakan dari uji kompetensi maupun interview terhadap beberapa calon, hanya Karen yang memenuhi kriteria. Terlebih Karen juga memiliki track record yang lumayan bagus.

Dongkrak Produksi

  Sebelum pilihan jatuh ke tangan Karen, bursa calon Dirut Pertamina diramaikan sejumlah nama. Tak tanggung-tanggung, di antara mereka ada Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal, Direktur Umum dan SDM Waluyo, mantan wakil ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas, mantan mentamben Kuntoro Mangkusubroto, dan mantan Senior VP JP Morgan Indonesia Gita Wirjawan.

  Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang kali pertama mengusulkan nama Karen meng­ungkapkan, sejak awal pihaknya selaku kementerian teknis memang ingin Pertamina dipimpin orang-orang yang mengerti betul sektor migas. Dengan latar belakang pengalamannya di sektor hulu, diharapkan Karen bisa mendongkrak produksi migas Pertamina.

  Pilihan pemerintah terbukti. Selama menjabat, Karen berhasil mendongkrak kenaikan laba Pertamina dua kali lipat dari Rp 17,1 triliun (2007) menjadi Rp 35,77 triliun (2013). Ia juga berhasil membawa Pertamina masuk dalam jajaran perusahaan Fortune Global 500 pada 2013, peringkat 122. Selain itu, pada 2014, Pertamina juga berhasil bertahan di daftar Fortune Global 500, yakni pada peringkat 123.

  Karen tercatat dua kali dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pelaku bisnis wanita berpengaruh se-Asia. Namanya disejajarkan dengan menteri keuangan yang kini menjabat Managing Director IMF, Sri Mulyani Indra­wati, dan Siti Hartati Murdaya yang masuk dalam majalah For­bes. Selama masa jabatannya, Pertamina telah mengakuisisi beberapa blok migas di luar ne­geri, termasuk di Aljazair dan Irak.

  Dia juga mengawasi usahanya untuk membeli distributor gas nasional Indonesia, Peru­sahaan Gas Negara. Pertamina memiliki pendapatan sebesar 52,6 miliar dolar AS dalam sembilan bulan pertama pada 2013. Angka ini sekitar 80 persen dari target dan berharap meningkat­kan menjadi 79 miliar dolar AS pada 2014.

  Kesuksesannya mengelola BUMN tak membuat Karen kehilangan kodradnya sebagai wanita. Dalam surat pengunduran dirinya, Karen memberikan alasan yang sifatnya pribadi, yakni ingin mengurus keluarga dan dirinya sendiri untuk mengajar di Universitas Harvard, Boston, Amerika.

  Pada awal Ramadan tahun lalu, ia dihadapkan pada situasi yang sulit, antara perannya sebagai ibu sekaligus istri dan perannya sebagai pimpinan sebuah BUMN. Pasalnya, Karen memiliki tradisi pada hari pertama puasa wajib dijalani dengan buka bersama keluarga dan salat Tarawih berjamaah.

Saat itu, bertepatan dengan jadwal pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media nasional di sebuah hotel. Tak ingin meninggalkan komitmennya bersama keluarga, dia membawa keluarganya ke pertemuan tersebut, termasuk sang suami.

Tidak Nyaman 

Sekali pun mengendalikan perusahaan sebesar Pertamina merupakan tantangan besar yang berhasil ditundukkannya, rupanya memimpin BUMN paling ”basah” yang kerap dija­dikan ”sapi perah” para pe­nguasa dan politikus di DPR membuat Karen tidak nyaman. Apalagi ketika dirinya harus berurusan dengan Komisi Pembe­rantasan Korupsi (KPK) karena urusan perah-memerah ini.

  Tahun lalu, Karen dimintai keterangan penyidik KPK tentang aliran dana ke Komisi VII DPR terkait dugaan penerimaan gratifikasi oleh Mantan Sekjen Kementerian ESDM Waryono Karno.

Mantan kepala SKK Migas Rudi Rubiandini pernah meminta Karen agar Pertamina ikut patungan untuk memberikan uang kepada Komisi VII yang sedang membahas APBN Per­ubahan 2013.  Karen ikut diperiksa karena adanya rekaman pembicaraan telepon dengan Rudi yang menyebut-nyebut istilah ”tutup kendang-buka kendang”. Namun Karen menolak tegas permintaan itu.

”Saya sudah menjelaskan semua kepada penyidik. Saya ingin tegaskan ke seluruh wartawan bahwa tidak sepeser pun uang saya berikan untuk THR ke Komisi VII. Selama saya menjadi Dirut itu tidak akan terjadi. Dan, BUMN tidak akan dijadikan sapi perah selama saya menjadi Dirut Perta­mina,” tegasnya.

  Meski bebas dari jeratan KPK, Karen mengaku sempat nervous saat memasuki gedung KPK. ”Orang profesional kaya saya, masuk ke KPK itu agak ngeri ya. Grogi Pak. Saya tidak tahu apa yang mau ditanya. Saya tidak tahu apa itu saksi, bagai­mana fungsinya. Pertama-tama saya dikasih tahu tapi nggak begitu jelas maksudnya. Lama-lama mengerti,” tandasnya.

  Selain tawaran mengajar di Universitas Harvard berbekal pengalamannya segudang di dunia migas yang cukup ber­gengsi, boleh jadi ketidaknyamanan menghadapi upaya politikus menjadikan BUMN sebagai ”sapi perah” inilah yang mendorong dia buru-buru angkat koper dari Pertamina. (Fauzan Jayadi-71)

***