Tuesday, July 26, 2011

120 Menit Pertama

Lurik SBY Vs Lurik Nazarudin


Bu Eni penjual batik di Tanah Abang tampak duduk lesu, hanya bersih-bersih saja. Tak banyak pengunjung datang ke kiosnya, hanya lewat, melihat sebentar, lalu pergi.

Tak mengerti mengapa batiknya tak ada yang mencolek sedikit pun, padahal, di tahun 2009 kemarin batiknya laris manis terjual habis. Kini tak ada lagi yang mau membeli batiknya.

Tetangga kios bilang, sebaiknya inovasi sedikit sama barang dagangannya, jual yang lagi digandrungi saat ini, apalagi masuk bulan puasa, pasti orang lebih suka busana muslim, begitu usulnya. Kalo dulu model Manohara yang lagi ngetren, mungkin sekarang bisa jual busana muslim ala Timur Tengah atau Bollywood, dan buat menjaring pembeli dari kaum adam, jual aja batik ‘Lurik Nazarudin’, jangan pajang lagi lurik SBY, ga bakalan laku, simpan aja di gudang atau dibakar.

Pilihan warna juga sepertinya pengaruh, katanya lagi. Hindari warna terang secerah langit, pajang saja warna yang kalem, sejuk, krem misalnya atau keemasan, atau kalo mau ekstrem boleh juga batik merah bermotik hitam.

Dan bu Eni pun tergerak juga hatinya, ia pun menuju konveksi langganannya. Dipesannya busana muslim banyak-banyak, dibuatnya lurik yang baru, mudah-mudahan laku, mumpung orangnya belum tertembak mati.
Bu Eni kini boleh bernafas lega, satu dua potong busana muslimnya laku terjual. Apalagi nanti banyak artis yang alim mendadak, mendadak alim, yang biasa buka-bukaan pas masuk bulan puasa akan memakai busana muslim yang super longgar, pakai cadar segala.

Sambil jual dagangannya, bu Eni pasti selalu memegang BB-nya buat update status, dan tag sana-sini barang-barang dagangannya.

Tiba-tiba ada pembeli datang, “Mau beli batik, bu. Lurik Nazarudin, itu loh yang pada bagian dadanya ada moti-motif bintik bercak darah muncrat tertembus peluru”.

Bu Eni, bengong, heran, atas permintaan pembelinya ini. “Ngga ada tuh, mas, yang ada batik biasa aja”.
Si Pembeli sambil senyum, lalu mengambil dua potong batik jualan bu Eni, lalu pergi.

Bu Eni baru tersadar tak kala mengingat kalau di dada sang pembeli tersemat nametag bertuliskan “Nazarudin”.