Tuesday, July 26, 2011

2 Jam Pertama

Menuai Badai


Menyimak apa yang terjadi setahun belakangan ini, begitu banyak angin ditabur selama pemerintahan ini berjalan. Kalau angin itu terus saja ditabur lalu berkumpul menjadi satu, maka bukan tak mungkin akan menuai badai yang akan memporakporandakan segala apa saja yang dilaluinya. Kalaulah pemerintah bisa pandai-pandai menghalau badainya, maka hari-hari berikutnya akan bisa dilalui dengan cerah, sebiru langit di angkasa.

Mengutip apa yang ditengarai dua tahun lalu, sepertinya bisa jadi bahan perenungan untuk melangkah merapikan pemerintahan saat ini. Misalnya :
  1. Kemenangan pasangan presiden SBY-Boediono diperoleh dengan menang lewat pengadilan dalam Gugatan Hasil Pemilu oleh rivalnya pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. Yang dipersoalkan waktu itu adalah tentang DPT dan DPS serta bersih dan jujurnya hasil pemilu itu sendiri.
  2. Pelantikan Presiden RI terpilih SBY  ditandai dengan  adanya kekeliruan  sang ketua MPR  Pak Taufik Kiemas dalam  membaca nama sang Presiden.
  3. Pelantikan dilakukan pada hari Selasa dimana dikenal dalam  kitab-kitab langit bahwa hari Selasa itulah Yang Maha Kuasa Atas Segala menciptakan bencana dan malapetaka.
  4. Sebelum Pelantikan SBY-Boediono beberapa hari sebelumnya  didahului dengan beberapa gempa bumi yang banyak menimbulkan korban dan kerugian.
  5. Saat pelantikan Menteri-menteri oleh Presiden SBY ; pengambilan sumpah para menteri tanpa mencantumkan kesetiaan kepada Pancasila tetapi hanya kepada UUD 1945 tanpa  menyebut Pancasila sebelumnya.
  6. Perubahan secara mendadak nama menteri kesehatan kepada orang yang sebelumnya oleh Siti Fadilah disebut membawa keluar negeri Virus H1N1 tanpa ijin dan  tanpa wewenang  walaupun oleh beliau dikatakan telah meminta maaf dan sudah dimaafkan.
Masih banyak waktu untuk merapikan barisan dan menepis badai yang menerpa dari delapan penjuru mata angin.

Caranya tak sulit sepertinya, penuhi saja apa yang menjadi janji saat pemilu pilpres dulu, pemberantasan KKN, mengentaskan kemiskinan, prestasi di kawasan regional dan intrenasional, dan lain-lainnya, yang sepertinya banyak orang yang merekam janji-janji tersebut.

Kalau itu tak dilakukan maka bukan tak mungkin badainya akan makin menggelora, membahana dan makin hitam pekat melingkupi atap langit negeri ini.

Dan lagu yang dinyanyikan oleh maestro Indonesia, alm. Chrisye, “Badai Pasti Berlalu”, akankah kembali mengudara. Kalau dulu digambarkan oleh figure sang Jenderal Berbintang Lima Melingkar berbaju Putih-putih sebagai nahkoda kapal NKRI, kalau versi sekarang entah akan dibuat seperti apa.