Tuesday, July 26, 2011

Base 14

Mein Kampf : Perjuanganku – Sebuah Tinjauan


Sambil jalan-jalan, sambil naik angkot, sambil naik busway yang naik turun ngga bayar lagi, bisa ditulis menjadi satu kalimat. Sambil ngobrol, sambil nonton TV, sambil nyablon, sambil ngelamun, sambil foto-foto, bisa ditulis menjadi satu halaman. Baca majalah, buku, brosur, poster, undangan, spanduk yang simpang siur di jalan-jalan protokol dan simpang jalan, bisa ditulis menjadi satu buletin. Tiap-tiap kita menulis sebenarnya kita sudah membaca dua empat kali.
Mein Kampf – Sebuah Tinjaun
Orang kecil berambisi besar, setelah era Napoleon Bonaparte menandakan bahwa kekurangan bukanlah suatu penghalang. Kita mengenal sosok Adolf sebagai orang yang penuh wibawa. Tak tampak bila ia sebenarnya tak begitu tinggi. Banyak yang mengidentikkan ia dengan comedian film bisu Charlie Chaplin karena dua sosok ini memiliki kumis yang khas, hanya teronggok di bagian tengah antara hidung dan bibir atas.
Adolf menunjukkan tajinya, ketika setelah perang dunia I ekonomi Jerman mengalami kebangkrutan. Banyak pabrik di Jerman terpaksa ditutup. Enam juta orang hidup dalam kemelaratan, tanpa pekerjaan, dan pada era itu, Jerman dilanda keputusasaan.
Baru pada decade 30-an, Adolf mulai menunjukkan taring melalui ide-ide yang super gila. Mencoba menempatkan ras Arya sebagai pemimpin dunia. Dalam kerangka sejarah, ini dicatat sebagai pertarungan ras-ras manusia. Sampai pada pernyataan bahwa ras-ras rendahan seperti Yahudi dan Slavia harus dilenyapkan. Tidak sedikit ia kemudian menciptakan kamp-kamp konsentrasi untuk menyortir ras tersebut. Hal ini kemudian diangkat ke layar-layar lebar semisal Schindler’s list dan La Vida e Bella yang berhasil menyabet penghargaan di beberapa festival film.
Adolf kemudian menggelar teror “Labensraum” atau konsep ruang hidup. Jerman kemudian melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia. Ras-ras manusia di dunia seakan tinggal menunggu kapan waktunya tiba diekspansi oleh Hitler. Dunia perang, dunia politik, ekonomi, semua coba direngkuhnya, demi cita-cita tertinggi menjadi ras paling tinggi.
Ambisi-ambisi inilah yang dituangkan dalam sebuah kumpulan tulisan adolf berjudul Mein Kampf (Perjuanganku). Buku ini juga sampai dianggap sebagai Injil bagi kaum Nazi. Pada kenyataannya Mein Kampf ditulis oleh Adolf di dalam penjara, dimana di dalamnya termuat scenario agar Jerman dapat menguasai dunia.
“Sehingga semuanya menjadi sia-sia. Semua pengorbanan dan pengabdian sia-sia; kelaparan dan kehausan selama berbulan-bulan seringkali tanpa akhir sia-sia; sia-sia pula selama berjam-jam kami berdiam dengan ketakutan yang mematikan yang menggayuti hati kami, dimana kami akan menjalankan tugas kami; dan sia-sia pula kematian dua juta teman kami. Akankah kuburan ratusan ribu orang ini terbuka, kuburan mereka yang dengan kesetiaan pada tanah air telah berlalu tanpa pernah kembali? Tidak akankan mereka membuka dan mengirim lumpur-lumpur diam – dan pahlawan-pahlawan terbungkus darah muncul sebagai roh yang membalas dendam pada tanah air yang telah menipu mereka dengan cemoohan tentang pengorbanan tertinggi yang bisa dilakukan seorang manusia bagi rakyatnya di dunia ini?”
“Apakah ini makna pengorbanan yang dibuat ibu Jerman kepada tanah air, ketika dengan hati yang sedih dia membiarkan anak-anak mudanya bertempur dan tidak pernah melihat mereka kembali? Apakah semua ini terjadi sehingga sekelompok bajingan tengik dapat menguasai tanah air kita?”