Saturday, August 16, 2014

PRABOWO TAK SIAP MENANG

Mengapa Sulit Bagi Prabowo Menerima Kekalahan?

Ellen Maringka

15 Jul 2014 | 06:46

You find that you have peace of mind and can enjoy yourself, get more sleep, and rest when you know that it was a one hundred percent effort that you gave - win or lose.(Gordie Howe)

Seharusnya Prabowo dan kelompok pendukungnya sudah memberikan selamat kepada Jokowi dan mayoritas rakyat Indonesia yang telah ikut berpesta demokrasi memilih pemimpin yang baru sebagai Presiden RI ke 7.

Menyalahkan quick count dan mengatakan bahwa itu semua bohong, sama dengan mempecundangi diri sendiri dan melempar kotoran di wajah sendiri, mengingat dalam Pileg barusan, semua kubu menerima dengan baik dan tidak ada caci maki yang mempertanyakan kebenaran dan validnya hasil perhitungan quick count oleh lembaga lembaga survey terpercaya (termasuk oleh Litbang Kompas).Dan memang sepanjang sejarah Pemilihan di Inodnesia, hasil quick count yang perbedaannya diatas satu persen, belum pernah kemudian hasilnya terbalik dan tidak sesuai kenyataan.

Secara ilmu Statistik, ini semua dapat dipertanggung jawabkan, karena quick count mengambil real data yang merepresentasikan gambaran aktual secara demografis.

Jadi apakah kubu Prabowo sekarang hendak mengatakan bahwa hasil quick count dalam pileg barusan yang menempatkan Gerindra sebagai pemenang ketiga pemilu, dan Golkar sebagai pemenang kedua, adalah rekayasa dan dibayar ?.

Anehnya juga, Presiden SBY ketika pileg barusan begitu cepatnya memberi ucapan selamat kepada kubu PDI-P berdasarkan perhitungan cepat, dan tidak menunggu sampai hasil resmi dari KPU diumumkan. Yang memang pada kenyataannya tidak berbeda jauh (kurang dari satu persen).

Tapi kali ini, semua terlihat ragu ragu dan malah sok' bijaksana mengatakan mari tunggu keputusan dan pengumuman KPU. Padahal rakyat juga sudah bisa membaca bahwa apapun keputusan KPU, hampir  pasti akan digugat oleh kubu Prabowo jika tidak memenangkan mereka.

Silahkan saja, namanya juga usaha.... Tapi percayalah, dengan optimis saya mengatakan bahwa Jokowi - JK akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada 22 Oktober mendatang. Ini sudah menjadi kehendak mayoritas rakyat Indonesia, dan Tuhan merestui.

Kembali kepada judul tulisan diatas, Prabowo yang selama ini selalu mengusung tema "Tegas, berwibawa, dan mengutamakan rakyat", kok sepertinya kontradiksi sekali dengan sikapnya menghadapi hasil perhitungan quick count oleh lembaga survey yang kredibel, dan malah mengumumkan dirinya sebagai pemenang versi quick count abal abal dan versi TV One ?.

Bukankah jiwa ksatria itu adalah memenangi pertarungan dengan cara jujur dan terhormat, dan menerima kekalahan dengan besar hati tanpa harus merasa hancur ?.

Entah kenapa saya mendadak ingat.... Prabowo memang sulit menerima kekalahan, sama sulitnya beliau menerima kenyataan bahwa dirinya diberhentikan (kalau tidak mau dibilang dipecat)  dari militer dalam karirnya yang terbilang sedang berada di puncak.

Pak Prabowo.... sepahit apapun kenyataan yang terjadi .... menghadapinya dengan ikhlas dan bersikap ksatria adalah cara terbaik mempersiapkan diri menjadi pemenang dalam pertarungan berikutnya. Karena menerima kekalahan bukan berarti hancur, tapi justru memberi pelajaran berharga bahwa cara yang ditempuh sehingga kalah, agar jangan digunakan lagi dalam pertarungan berikutnya.

Life goes on Pak Prabowo... and I wish you all the best. Masih banyak cara  membaktikan diri bagi tanah air tercinta.  Cara yang paling sederhana adalah  dengan menjadi warga negara yang baik dan taat hukum.

Salam hangat selalu, Indonesia hebat!. Jokowi Yessss!
.
.