Showing posts with label ASAHI IMANKU. Show all posts
Showing posts with label ASAHI IMANKU. Show all posts
Monday, June 18, 2012
Thursday, June 7, 2012
Tuesday, June 5, 2012
Saturday, June 2, 2012
Friday, May 4, 2012
Mendengar dengan Satu Mata, Melihat dengan Satu Hati
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Para Pendukung Kandidat
di Semua Pilkada Di Indonesia harus semakin cerdas terhadap Politik Indonesia,
jangan sampai mendukung hanya karena putra daerah, jangan pula memilih karena
hanya tokoh tersebut satu partai, jangan pula memilih hanya karena satu suku,
tetapi pilihlah dengan pendekatan Rasional dan memang layak terpilih. Memilih
Gubernur atau Walikota bukan memilih Indonesian Idol, Bukan Memilih Putri
Indonesia Tervaforit tetapi Kita Memilih Mereka karena MEMANG MEREKA LAYAK
DIPILIH MENJADI PEMIMPIN.
Malam ini (4/5/2012),
Saya mencoba mencari Artike-Artikel di Google.com Ada Sebuah kalimat Krisis
BBM, Saya klik ternyata tersambung ke Facebook dan yang lebih parahnya lagi
Facebook tersebut adalah Fans Page Resmi SRIWIJAYAPOST.COM yang merupakan Koran
Utama di Palembang, Sumatera Selatan.
Admin SRIWIJAYA POST
Menulis “ Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di wilayah
Sumsel membuat Pemprov Sumsel resah. Pemprov akan memanggil pihak Pertamina
untuk mengkonfirmasi situasi ini. Komentar fbers?” dan dikomentari
lebih dari Banyak Pembaca Sriwijayapost.com dan DILIKE oleh 41 Orang
Pengunjung.
Hampir semua memang
menyalahkan Pertamina, tetapi tak satupun yang mempersoalkan Gubernur SUMSEL
Alex Noerdin yang hanya sibuk mengurusi pencalonanya menjadi Gubernur DKI
Jakarta 2012, Masalah di tempat asal menumpuk tetapi ingin mengurus ditempat
lain. Saya kira sesungguhnya apa yang diinginkan oleh Kandidat-Kandidat yang
sudah menjabat menjadi Gubernur dan Walikota di daerah lain ini. Di Solo juga
misalnya TV One dan Metro TV memberitakan kerusuhan Sosial yang menegangkan dan
mencekam, Kemana Jokowi? Di Jakarta mengurus pencalonan dirinya menjadi
Gubernur DKI Jakarta. Saya benar-benar ga ngerti dengan Pemimpin kita, Menjabat
menjadi Pemimpin tertinggi di daerahnya masing-masing tetapi ditinggalkan.
Saya benar-benar tidak
mengerti, Masalah Di Daerah yang dipimpin sangat banyak tetapi mencalonkan lagi
di tempat lain. Tolong Jawab Ini….
Wednesday, April 18, 2012
Dongeng Tanda Menjelang Matinya Sebuah Blog
.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda 100 Hari
Sebelum Meninggal.
Ini adalah tanda
pertama dari Tuhan kepada hamba-Nya dan hanya akan disadari oleh mereka yang
dikehendakinya. Semua orang akan mendapat tanda ini, hanya saja banyak yang
tidak menyadarinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda ini akan
berlaku lazimnya selepas waktu Ashar, seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut
hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil,
contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika
diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan
bergetar. .
.
.
.
.
.
.
.
Tanda ini rasanya
nikmat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik di hati bahwa mungkin ini adalah
tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan
kehadiran tanda ini.
.
.
.
.
.
.
.
Bagi mereka yang
tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa
memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa ada manfaat.
.
.
.
.
.
.
.
Bagi yang sadar
dengan kehadiran tanda ini, maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan
masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa
atau ditinggalkan sesudah mati.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda 40 hari Sebelum
Meninggal.
Tanda ini juga akan
berlaku sesudah waktu Ashar, bahagian pusat kita akan berdenyut-denyut pada
ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas
arash ALLAH SWT, maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai
membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mulai mengikuti
kita sepanjang masa.
.
.
.
.
.
.
.
Akan terjadi malaikat
maut ini memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang
terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung dan linglung seketika.
.
.
.
.
.
.
.
Adapun malaikat maut
ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan
dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda 7 Hari Sebelum
Meninggal.
Adapun tanda ini akan
diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan dimana orang
sakit yang tidak makan, secara tiba-tiba ia berselera untuk makan.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda 3 Hari Sebelum
Meninggal.
Pada ketika ini akan
terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu di antara dahi kanan dan
kiri, jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya
perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang
yang akan memandikan kita nanti.
.
.
.
.
.
.
.
Ketika ini juga mata
hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan
perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian
sisi. Telinganya akan layu, bagian ujungnya akan berangsur-angsur masuk ke
dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan
sukar ditegakkan.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda 1 Hari Sebelum
Meninggal.
Akan berlaku sesudah
Ashar ketika kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di
kawasan ubun-ubun dimana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui
waktu ashar keesokan harinya.
.
.
.
.
.
.
.
Tanda Akhir Hidup.
Akan terjadi keadaan
bahwa kita akan merasakan sejuk di bagian pusat dan rasa itu akan turun ke pinggang
dan seterusnya akan naik ke bagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus
mengucap kalimat SYAHADAT dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat
maut untuk menjemput kita kembali kepada-Nya yang telah menghidupkan kita dan
sekarang akan mematikan pula.
.
.
.
.
.
.
.
Tuesday, April 17, 2012
Surat Wasiat Kakek Megu Untuk Paman Tercinta(?)
.
.
.
.
.
Sebuah
keluarga besar sedang dilanda musibah, karena kakek Megu yang sangat dihormati
sedang sakit berat. Dokter mengatakan bahwa sakit kakek Megu adalah kanker
paru-paru yang hidupnya hanya tergantung bantuan alat napas oksigen.
Karena
sepertinya sudah mendekati ajal Paman Tercinta sebagai sesepuh keluarga segera
mengumpulkan semua keluarga besar untuk mengadakan doa bersama.
.
.
.
.
.
Saat
memimpin doa, tiba-tiba kakek Megu mukanya pucat membiru dan napasnya
tersengal-sengal seperti kehabisan napas. Dengan bahasa isyarat Kakek Megu
meniru orang menulis.
Paman
Tercinta langsung tanggap segera mengambil secarik kertas dan alat tulis. Dgn
nafas tersengal-sengal, kakek Megu menulis surat. Setelah itu kakek Megu memberikan
surat kepada Paman Tercinta.
.
.
.
.
.
Paman
Tercinta menyimpan surat di saku, “rasanya koq gak tepat kalau membaca surat
wasiat saat ini” pikir Paman Tercinta. Setelah menyimpan surat, pak Mudhin
meneruskan doanya. Tidak lama setelah itu Kakek Megu tidak tertolong dipanggil Yang
Maha Kuasa.
Banyak
orang merasa kehilangan karena kakek Megu adalah orang yang sabar, bicara lemah
lembut dan pelan. Pas acara 7 harinya jenat kakek Megu, Paman Tercinta diundang
lagi. Setelah mimpin doa, kemudian teringat bahwa ada surat titipan kakek Megu ketika
mendekati ajalnya.
.
.
.
.
.
“Waduh
untung aku masih ingat ada titipan surat kakek Megu”, pikir Paman Tercinta.
“Saudara-saudaraku
sekalian, mohon maaf saya baru teringat bahwa selama ini saya mengantongi surat
titipan Kakek Megu ketika beberapa detik sebelum meninggal. Karena ini amanat
saat belum pernah membaca dan membukanya”.
.
.
.
.
.
Melihat
kakeknya yang sangat bijaksana dan sangat kaya semasa hidupnya, semua keluarga
pasti menyangka isinya pasti warisan atau nasihat ke anak cucunya, sehingga Paman
Tercinta segera membacakannya dengan tak sabar. Kemudian Paman Tercinta
mengambil surat di saku dan membaca di depan semua anggota keluarga.
.
.
.
.
.
Ternyata
bunyinya:
“Paman
Tercinta, mohon maaf, bisakah Paman Tercinta pindahkan kakinya karena menginjak
selang oksigenku. Napasku tercekik, Paman Tercinta. Tolong Paman Tercinta”.
.
.
.
.
Besok Besuk Lagi Yaaaa.......
.
.
.
.
Hukum menjenguk orang sakit adalah fardhu kifayah.
Artinya, bila ada sebagian orang yang melakukannya
maka gugur kewajiban dari yang lain.
Bila tidak ada seorang pun yang melakukannya,
maka wajib bagi orang yang mengetahui keberadaan si sakit
untuk menjenguknya.
.
.
.
.
Kemudian yang perlu diketahui,
orang sakit yang dituntunkan untuk dijenguk
adalah yang terbaring di rumahnya (atau di rumah sakit)
dan tidak keluar darinya.
.
.
.
.
.
Adapun orang yang menderita sakit yang ringan,
yang tidak menghalanginya untuk keluar dari rumah
dan bergaul dengan orang-orang,
maka tidak perlu dijenguk.
.
.
.
.
.
Namun bagi orang yang mengetahui sakitnya
hendaknya menanyakan keadaannya.
.
.
.
.
.
Demikian penjelasan
Syaikh yang mulia Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin
dalam kitabnya
Syarhu Riyadhish Shalihin (3/55).
.
.
.
.
.
Besuk besuk lagi yaaaaaaa.......
.
.
.
.
.
INSYA 4JJI
.
.
.
.
.
Sunday, April 15, 2012
Empat Lilin dan Seorang Anak Manusia
Ada 4 lilin yang sedang menyala. Sedikit demi
sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan
mereka.
Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah
Damai."
"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka
lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin
pertama padam.
Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau
mengenalku. Tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin
memadamkannya.
Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara:
”Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.
Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci.
Bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin
ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar,
dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“Eh apa yang terjadi?? Kalianharus
tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu lilin keempat berkata:
"Jangan takut. Janganlah menangis.
Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga
lilin lainnya."
”Akulah HARAPAN.“
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil
Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN.
Jangan sampai kita kehilangan HARAPAN.
Saturday, April 7, 2012
Kucari Cahaya dalam Terang
Sejarah manusia, sejarah sebuah bangsa, kaum,
suku, puak, kampung dan masyarakat sama halnya dengan tumbuhan yang kita tanam.
Sama halnya dengan alur alam, sama halnya dengan air laut. Dia pernah terang pernah
juga gelap. Pernah meraih kejayaan, juga mengalami kemunduran.
Mungkin pernah, di suatu waktu, ke kampungmu
datang seorang Ulama. Bahkan seharusnya seorang ulama itu harus benar-benar
asli putra daerah, orang tempatan. Tapi tidak apalah, sebab, siapa pun dia,
ketika memiliki ilmu agama yang mumpuni dan mampu memberikan respon terhadap
masalah umat, patut sekali dia diberi predikat ulama.
Suatu waktu ke kampungku hijrah seorang Ulama
dari kampung asalnya. Mengenai, kesahajaan dalam hidup ulama tersebut, hanya
dapat saya serap informasinya dari cerita-cerita, walaupun, di usia senjanya,
saya pernah dididik selama sembilan tahun lebih. Anda bisa jadi lebih faham
tentang kesederhanaan dan kesahajaan dalam hidup. Saeutik
Mahi Loba Nyesa. Ya,
wajar bisa menjadi sebuah alasan, sebab keadaan lingkungan sosial tidak terlalu
dijejali oleh tuntutan keinginan untuk
memiliki sesuatu karena memang sesuatu itu tidak ada. Itu cara berpikir
kita saat ini.
Namun yang saya ingin katakan adalah tentang
sebuah cahaya. Ulama tersebut dengan sikap kesederhanaannya mampu mempengaruhi
pikiran orang-orang. Anda pernah
mengalami hal seperti ini, merindukan kehadiran seseorang saat orang itu tidak
ada. Apa sebab? Sebetulnya bukan hanya menginginkan kehadiran
sosoknya, berupa raga, namun hati itulah yang menjadi penggerak sampai adanya
kerinduan kepada seseorang. Hati adalah sopir yang mengendarai badan ini.
Adanya badan yang dikendalikan oleh hati pun
menjadi sesuatu yang benar-benar membuat orang-orang menjadi nyaman, merasa
keberadaan hidupnya diakui bahwa mereka memang ada. Nah, ceritanya, hal
eksistensi manusia sebagai individu ataupun mahluk sosial mewujud jika di sekeliling
mereka tersinari oleh cahaya. Cahaya inilah yang selalu dirindukan oleh setiap
orang ketika kegelapan menjadi hal nyata di sekeliling mereka.
Ketika ulama tersebut meninggal, seolah
cahaya itu padam. Dan orang-orang hidup seperti di sebuah ruangan pengap dengan
tanpa satu titik pun sinar. Tentu saja, sepercik api akan lebih mereka rindukan
dari apa pun. Lantas, dicari-carilah cahaya tersebut. Dengan kejernihan cara
pandang apa pun, orang akan lebih menghendaki lingkungannya diterangi oleh
cahaya dari pada harus hidup pengap, meraba-raba dalam kegelapan.
Di dalam Kitab Suci, entah berapa banyak
dalil yang mengupas tentang cahaya ini. Seperti: Allah akan dan telah mengeluarkan
orang-orang beriman dari kegelapan ke cahaya. Dalam setiap dalil
tersebut dipertegas dengan sebuah proses. Artinya sangat tidak mungkin jika
tanpa usaha dari kita cahaya tersebut akan didapatkan.
Tidak jauh berbeda, dengan proses penciptaan
sesuatu yang bisa mengeluarkan cahaya. Misalkan, jika seorang ulama
dianalogikan sebagai sebuah pelita yang bisa menghasilkan cahaya, maka di sana
harus ada proses kreatif dari ummat untuk mencari dan menghasilkan sumber
cahaya tersebut. Bukan wujudnya melainkan pancarannya.
Kita sering mengutuk PLN ketika tiba-tiba di
malam hari listrik dipadamkan. Sumpah serapah terhadap kinerja PLN pun keluar
tidak terbendung. Tidak sedikit yang berkata: PLN Payah! Sebenarnya bukan
karena PLN-nya yang payah, ini disebabkan karena kita memang membutuhkan
cahaya. Dan satu percik api yang dihasilkan oleh korek api ketika lampu padam
akan menenangkan kita, membuat kita merasa lega. Sampai sumpah-serapah kepada
PLN pun bisa diminimalisir.
Proses kreasi kita mana yang telah mengarah
kepada penciptaan sumber cahaya? Di sebuah masyarakat akan lebih mudah
mendapatkan ganti seorang Ketua RT daripada seseorang yang bisa menggantikan
kepergian seorang ulama. Artinya bukan karena ulama ini langka, sebab di sana
ada tugas berat, dan ada kreasi lain yang ikut campur tangan dalam penciptaan
sumber cahaya ini.
Sebab lain bisa jadi karena: memang tidak
mungkin semua orang harus menjadi ulama, ulama bukan profesi, semakin diangkatnya
rasa kebanggaan manusia dalam mempelajari ilmu-ilmu agama. Untuk point terakhir
memang terdengar sangat transcendental. Hanya saja, faktanya memang demikian.
Anehnya, sampai saat ini selalu saja kita memilah-milah antara ilmu agama
dengan ilmu umum. Saya pertegas, tidak ada itu pemisahan rigid terhadap ilmu.
Ini hanya disebabkan oleh cara pandang kita saja dalam memberi tafsir terhadap
ilmu.
Nah, hanya ulama-ulama yang diberi cahaya
oleh Sang Sumber Cahaya lah yang akan menjadi penerang ummat. Ulama yang tidak
akan mengajak ummat untuk membenci penganut keyakinan lain, ulama
yang tidak akan menceramahi ummatnya dengan apa yang tidak dan belum dia
kerjakan. Saya selalu malu dengan kalimat yang dicetak tebal
ini, sebab sampai detik ini, belum genap puluhan persen apa yang saya ucap dan
tulis sejalan dengan apa yang saya kerjakan.
Rusak dan semakin gelapnya tatanan sosial
karena memang sumber penerang itu telah tiada. Apa yang diperbuat ummat ketika
seorang yang mengaku ulama pewaris para nabi mengajak umat untuk membenci orang
yang belum bisa melakukan kebaikan. Kita selalu membuat dua kutub dalam
kehidupan ini, tapi celakanya, kita terlalu ambisi untuk memaksakan agar kutub
yang kita tempati menyerang kutub yang lainnya, pun sebaliknya. Rasulullah
pernah dilempari batu oleh Suku Thaif, ada alasan sejarah mengapa Rasul tidak melawan?
Ada yang memiliki alasan sebab waktu itu Rasul belum memiliki kekuatan secara
politis untuk melawan. Nah, penafsiran seperti ini yang menjadi penyebab
rusaknya pemahaman umat terhadap moralitas Agama. Sebab, landasan berpijak
agama bukan berada di atas fondasi dendam, kekuatan politis, balas membalas.
Sila bandingkan dengan sejarah Rasulullah ketika di Madinah. Di dalam Quran dan
Hadits yang saya tahu, Agama sama sekali tidak mengajarkan agar cahaya
dinyalakan dengan ujung pedang, kecuali oleh nyalanya hati, kasih sayang kita
kepada sesama manusia.
Tugas berat memang mencari sumber cahaya
ketika lingkungan kita sudah teramat gelap.
Subscribe to:
Posts (Atom)









