Saturday, April 7, 2012

Kucari Cahaya dalam Terang



Sejarah manusia, sejarah sebuah bangsa, kaum, suku, puak, kampung dan masyarakat sama halnya dengan tumbuhan yang kita tanam. Sama halnya dengan alur alam, sama halnya dengan air laut. Dia pernah terang pernah juga gelap. Pernah meraih kejayaan, juga mengalami kemunduran.
Mungkin pernah, di suatu waktu, ke kampungmu datang seorang Ulama. Bahkan seharusnya seorang ulama itu harus benar-benar asli putra daerah, orang tempatan. Tapi tidak apalah, sebab, siapa pun dia, ketika memiliki ilmu agama yang mumpuni dan mampu memberikan respon terhadap masalah umat, patut sekali dia diberi predikat ulama.
Suatu waktu ke kampungku hijrah seorang Ulama dari kampung asalnya. Mengenai, kesahajaan dalam hidup ulama tersebut, hanya dapat saya serap informasinya dari cerita-cerita, walaupun, di usia senjanya, saya pernah dididik selama sembilan tahun lebih. Anda bisa jadi lebih faham tentang kesederhanaan dan kesahajaan dalam hidup. Saeutik Mahi Loba Nyesa. Ya, wajar bisa menjadi sebuah alasan, sebab keadaan lingkungan sosial tidak terlalu dijejali oleh tuntutan keinginan untuk memiliki sesuatu karena memang sesuatu itu tidak ada. Itu cara berpikir kita saat ini.
Namun yang saya ingin katakan adalah tentang sebuah cahaya. Ulama tersebut dengan sikap kesederhanaannya mampu mempengaruhi pikiran orang-orang. Anda pernah mengalami hal seperti ini, merindukan kehadiran seseorang saat orang itu tidak ada. Apa sebab? Sebetulnya bukan hanya menginginkan  kehadiran sosoknya, berupa raga, namun hati itulah yang menjadi penggerak sampai adanya kerinduan kepada seseorang. Hati adalah sopir yang mengendarai badan ini.
Adanya badan yang dikendalikan oleh hati pun menjadi sesuatu yang benar-benar membuat orang-orang menjadi nyaman, merasa keberadaan hidupnya diakui bahwa mereka memang ada. Nah, ceritanya, hal eksistensi manusia sebagai individu ataupun mahluk sosial mewujud jika di sekeliling mereka tersinari oleh cahaya. Cahaya inilah yang selalu dirindukan oleh setiap orang ketika kegelapan menjadi hal nyata di sekeliling mereka.
Ketika ulama tersebut meninggal, seolah cahaya itu padam. Dan orang-orang hidup seperti di sebuah ruangan pengap dengan tanpa satu titik pun sinar. Tentu saja, sepercik api akan lebih mereka rindukan dari apa pun. Lantas, dicari-carilah cahaya tersebut. Dengan kejernihan cara pandang apa pun, orang akan lebih menghendaki lingkungannya diterangi oleh cahaya dari pada harus hidup pengap, meraba-raba dalam kegelapan.
Di dalam Kitab Suci, entah berapa banyak dalil yang mengupas tentang cahaya ini. Seperti: Allah akan dan telah mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan ke cahaya. Dalam setiap dalil tersebut dipertegas dengan sebuah proses. Artinya sangat tidak mungkin jika tanpa usaha dari kita cahaya tersebut akan didapatkan.
Tidak jauh berbeda, dengan proses penciptaan sesuatu yang bisa mengeluarkan cahaya. Misalkan, jika seorang ulama dianalogikan sebagai sebuah pelita yang bisa menghasilkan cahaya, maka di sana harus ada proses kreatif dari ummat untuk mencari dan menghasilkan sumber cahaya tersebut. Bukan wujudnya melainkan pancarannya.
Kita sering mengutuk PLN ketika tiba-tiba di malam hari listrik dipadamkan. Sumpah serapah terhadap kinerja PLN pun keluar tidak terbendung. Tidak sedikit yang berkata: PLN Payah! Sebenarnya bukan karena PLN-nya yang payah, ini disebabkan karena kita memang membutuhkan cahaya. Dan satu percik api yang dihasilkan oleh korek api ketika lampu padam akan menenangkan kita, membuat kita merasa lega. Sampai sumpah-serapah kepada PLN pun bisa diminimalisir.
Proses kreasi kita mana yang telah mengarah kepada penciptaan sumber cahaya? Di sebuah masyarakat akan lebih mudah mendapatkan ganti seorang Ketua RT daripada seseorang yang bisa menggantikan kepergian seorang ulama. Artinya bukan karena ulama ini langka, sebab di sana ada tugas berat, dan ada kreasi lain yang ikut campur tangan dalam penciptaan sumber cahaya ini.
Sebab lain bisa jadi karena: memang tidak mungkin semua orang harus menjadi ulama, ulama bukan profesi, semakin diangkatnya rasa kebanggaan manusia dalam mempelajari ilmu-ilmu agama. Untuk point terakhir memang terdengar sangat transcendental. Hanya saja, faktanya memang demikian. Anehnya, sampai saat ini selalu saja kita memilah-milah antara ilmu agama dengan ilmu umum. Saya pertegas, tidak ada itu pemisahan rigid terhadap ilmu. Ini hanya disebabkan oleh cara pandang kita saja dalam memberi tafsir terhadap ilmu.
Nah, hanya ulama-ulama yang diberi cahaya oleh Sang Sumber Cahaya lah yang akan menjadi penerang ummat. Ulama yang tidak akan mengajak ummat untuk membenci penganut keyakinan lain, ulama yang tidak akan menceramahi ummatnya dengan apa yang tidak dan belum dia kerjakan. Saya selalu malu dengan kalimat yang dicetak tebal ini, sebab sampai detik ini, belum genap puluhan persen apa yang saya ucap dan tulis sejalan dengan apa yang saya kerjakan.
Rusak dan semakin gelapnya tatanan sosial karena memang sumber penerang itu telah tiada. Apa yang diperbuat ummat ketika seorang yang mengaku ulama pewaris para nabi mengajak umat untuk membenci orang yang belum bisa melakukan kebaikan. Kita selalu membuat dua kutub dalam kehidupan ini, tapi celakanya, kita terlalu ambisi untuk memaksakan agar kutub yang kita tempati menyerang kutub yang lainnya, pun sebaliknya. Rasulullah pernah dilempari batu oleh Suku Thaif, ada alasan sejarah mengapa Rasul tidak melawan? Ada yang memiliki alasan sebab waktu itu Rasul belum memiliki kekuatan secara politis untuk melawan. Nah, penafsiran seperti ini yang menjadi penyebab rusaknya pemahaman umat terhadap moralitas Agama. Sebab, landasan berpijak agama bukan berada di atas fondasi dendam, kekuatan politis, balas membalas. Sila bandingkan dengan sejarah Rasulullah ketika di Madinah. Di dalam Quran dan Hadits yang saya tahu, Agama sama sekali tidak mengajarkan agar cahaya dinyalakan dengan ujung pedang, kecuali oleh nyalanya hati, kasih sayang kita kepada sesama manusia.
Tugas berat memang mencari sumber cahaya ketika lingkungan kita sudah teramat gelap.