Tuesday, August 5, 2014

TUJUH SETAN DESA : PKI SIH GAK BAHAYA, TAPI REVOLUSI MENTAL PKI SINTING ITULAH YANG BIKIN ANCOOOR....

Mantan Wakil Gubernur Jakarta dalam salah satu acara dialog di sebuah stasiun Televisi mengungkapkan adanya kekhawatiran akan bangkitnya PKI yang mendompleng salah satu kekuatan partai besar dan Capres yang sedang naik daun.Kekuatiran ini dimaklumi mengingat beberapa pertanda yang cukup mencolok.

Masih menurut prijanto, yang merupakan seorang purnawirawan Perwira tinggi TNI tersebut. Salah satu yang cukup mencolok dapat dilihat dari terkait usulan pembubaran Babinsa yang biasa disebut PKI sebagai "7 Setan Desa". "Adu domba, saling fitnah, lempar isu sembunyi tangan yang dilakukan oleh para purnawirawan Jenderal seolah ingin mengobok-obak institusi TNI AD juga sangat mirip dengan suasana kebatinan saat PKI akan lakukan kudeta 1965," beber mantan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut. Ujarnya.

Sebenarnya saya risih menuliskan masalah sensitif seperti ini. Namun saya ingin kembali mengingatkan bahayanya PKI. Kita memang tak boleh mendiskriminasikan apa lg menyalahkan secara membabi buta keluarga / keturunan yang dulu pernah terkait dengan PKI namun kita juga tak mau PKI tumbuh dan berkembang lagi di negara kita karena sejarah dan pengalaman buruk yang pernah kita alami di masa silam.

Lalu kenapa kekhawatiran itu akhirnya muncul ? pertama ketika Anggota DPR dari PDIP Ribka Tjiptaning yang beberapa waktu lampau menerbitkan buku "Aku Bangga Menjadi Anak PKI" sempat menuai kontroversi.

Kekuatiran juga hadir tatkala Anggota DPR dari PDIP lainnya Rieke Dyah Pitaloka atau kerap disapa oneng melakukan pertemuan dengan Eks Anggota PKI di banyuwangi. Walaupun ketika itu Rieke membantah dan beralasan pertemuan itu utk sosialisasi masalah kesehatan, namun dari pihak Kapolres banyuwangi sendiri menganggap acara tersebut illegal karena surat ijin yang diajukan tidak sesuai dgn acara yg diselenggarakan.

Info lain yang kami dapatkan masih menyangkut PKI juga datang dari Timses pemenangan jokowi Prof. DR Musdah Mulia, yang mengakui wacana penghapusan Tap MPRS XXV/1966 tentang larangan paham komunisme jika jokowi menang dalam pilpres.

Lalu apa yang salah dari itu semua? apakah komunisme seburuk itu? Saya tidak bilang sekonyong-konyong bahwa komunisme itu buruk, lihat saja Soviet dimasa lalu dan China yang sekarang menjadi negara adidaya terbesar dunia dengan tetap mempertahankan ideologi komunismenya. lalu apa yang salah dari komunisme di Indonesia?? Yang salah jika itu sebuah kecelakaan sejarah dimana ada sebuah partai, namanya Partai Komunis Indonesia (PKI), pernah mau mengambil kekuasaan dengan cara inkonstitusional, dan dengan keji mengabisi lawan politiknya, termasuk para jenderal tatkala itu.

Kita memang tak boleh sembarang menuding seseorang adalah PKI. Sehingga tiba-tiba semua orang ingin menjauh dari Karl Marx (sang pencetus ideologi komunisme) atau seolah Marx itu racun fikiran. Padahal orang yang bilang anti komunis atau mereka (Eks anggota PKI) sendiri belum tentu pernah baca bukunya Marx. Apalagi memahami Das Kapital, masterpiece-nya Marx.
Mereka yang menyebut Marx biang kekacauan dunia dengan komunismenya. Ibarat kayak anak kecil takut hantu, tapi sebenarnya dia belum pernah melihat hantu. Dia cuma lihat dari film atau cerita-cerita dari orang tua tetntang gambaran hantu yang menyeramkan itu.

Luruskan jika saya salah, tapi teori Das Kapital yang dicetuskan Marx itu bukanlah teori-teori kekejaman seperti yang dilakukan oleh PKI. Tapi konsep sebenarnya yang dituangkan karl Marx adalah tentang Filsafat Ekonomi. Ide dan fikiran tentang ekonomi. Bahkan hari ini buku itu di jual bebas, harganya sekitar Rp 350.000,- satu paket, berisi 3 jilid buku. Buku inilah yang juga dibaca Che guevara, tokoh revolusioner Amerika Latin yang juga merupakan kawan dari Ir. Soekarno. Tidak ada yang salah dengan Marx. tapi yang salah adalah PKI yang tak bisa mengejawantahkan ajaran Karl Marx dan justru ingin mengambil kekuasaan pemerintah dengan jalan kudeta. Jadi sekali lagi yang salah itu PKI, bukan Karl Marx. Harus jelas dan tegas terlebih dahulu batasan ini.

Sebab jika ini dibiarkan, generasi mendatang tidak mau lagi membaca buku tentang Karl Marx, Engels, Sigmund Freud, Gramsci, David Ricardo Adam Smith,dll karena kita sudah mengkotak-kotakan ilmu pengetahuan atau bahkan kita larang. Yang ini jangan dibaca karena sosialis, yang sana juga jangan karena kapitalis. Mentok akhirnya penerus kita akhirnya cuma baca komik sinchan.

Sekali lagi kita boleh baca semuanya, kita boleh mempelajari, memahami semua ideologi, karena di sana banyak ilmu pengetahuan. Tapi yang perlu digaris bawahi pada akhirnya kita sebagai manusia cerdas, memiliki hati nurani dan berakal dapat memilah dengan sendirinya mana ajaran yang baik, benar dan bisa di aplikasikan dalam kehidupan dan mana ajaran yang harus ditinggalkan karena menyalahi aturan dan kaidah.

Menurut saya tak salah kita mempelajari Teori ideologi komunisme yang diajarkan oleh Marx. Mempelajari namun bukan berarti kita menerapkannya dalam kehidupan bernegara di Indonesia yang berideologi Pancasila dan berke TUHAN nan.

Sekali lagi boleh membaca dan mempelajari sebuah ideologi, namun yang salah adalah jika kita ingin berupaya menghidupkan kembali PKI yang melakukan tindakan-tindakan dan perbuatan keji serta menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Jadi hati-hati tatkala menuding Prabowo melakukan segala cara utk menang (seperti yang sering diucapkan anies baswedan di tayangan Metro TV), karena bisa jadi justru hal itu berbalik dilakukan oleh pihaknya sendiri.
.
.