Wednesday, October 2, 2013

Tiga Suami Maya (Part 2)

Maya pun meninggalkan Bagas yang masih terpaku dengan apa yang baru dia dengar, lupa kini Bagas dengan tujuannya ke toko itu. Dan dia melihat Maya mengacungkan buku di tangan kiri dan kanannya.
“Aku beli buku kau lima…….”
.
Rencana selanjutnya setelah membeli novel untuk pacar barunya, Maya akan ke terbang ke Bedugul. Permintaan yang aneh memang, novelnya harus dibeli di Medan, padahal di Denpasar kan ada juga toko buku.
.
Lima bulan kemudian Maya pun hamil lagi. Dokter kantor pastikan itu saat Maya periksa petang harinya. Siapakah ayah dari bayi di dalam kandungan Maya?
.
.
.
"Bu..... buuu..... Bangun..... sebentar lagi pesawat tiba di Kuala Namu"
"Eh... ah..... uh...... Ya.... ya.... terima kasih....."
.
Maya terbangun dengan kaget. Di pesawat? aku dalam pesawat? Secara reflek tangan kanan Maya mengusap perutnya? Aku tidak hamil?
.
Maya melihat tanggal di ponselnya, 2 October. Helaan napas panjangnya berhembus dari mulut Maya. Selanjutnya, tanpa diperintah pramugari, Maya memasang seatbeltnya.
.
Medan.... kenapa selalu begini kalau aku mengunjungimu? Maya hanya tersenyum kecil saja. Adakah hal yang pernah tertinggal di sini? Bagaimana kalau aku terima saja tawaran Boss untuk menetap di Medan menjadi kepala cabang?
.
Dan pesawat pun mendarat mulus di tanah Kuala Namu.
.
Medaaan...... aku dataaang......
.
.
.
untuk Maya yang cintanya kepada Zulham terkubur di perkebunan sawit Sungai Kumpe, hanyut terbawa aliran Sungai Aek Nauli, tersapu dan terbawa terbang melayang-layang bersama angin ke Bagansiapi-api.....
.
fly where the wins blow, lay to the river flow....
.