Wednesday, October 2, 2013

Dilema Tiga Suami Maya (Full Version) Part 1

"Ke Medan? Berapa lama, Mi?"
"Enam hari. Tiga hari di kota, tiga hari di perkebunan, Pi"
.
Sarapan pagi ini sama seperti sarapan di hari-hari yang lain. Maya dan Aji hanya sarapan berdua saja, dua buah hatinya belum bangun. Tere baru terdengar suaranya menjelang pukul 5.30, Zumi biasanya jam 6 baru turun menuju meja makan. Saat Tere dan Zumi sarapan, mami dan papinya sudah berangkat ke kantor atau terbang ke luar kota.
.
"Perlu saya antar, Mi? Aku tak terlalu sibuk hari ini....."
"Enam menit lagi taxi yang dipesan kantor datang kok, Pi. Udah ya..... Mami ke depan duluan"
.
Maya mengecup dengan hangat bibir Aji, suaminya yang paling dicintainya dan sangat penuh perhatian dan pengertian.
.
"Maaang....... Mang Tomooo….. tas mami tolong dibawa ke depan, yaaa!!!......"
.
Aji tak perlu berkata dua kali, Mang Tomo cukup tajam pendengarannya dan segera membawa dua tas besar di ruang tamu itu ke muka rumah dan dibawa ke bagasi taxi. Taxi pun siap berangkat dan Aji hanya berdiri di serambi depan.
.
Aji melambai membalas sun jauh dari Maya yang duduk di sisi kanan di belakang sang pengemudi taxi. Setelah taxi menghilang, Aji naik ke mobilnya dimana Pak Halim dengan sabar menunggu di belakang kemudi.
.
"Senayan, Pak...."
.
Pak Halim hanya mengangguk dan melajukan mobilnya membelah jalan di kompleks perumahan yang tak lagi sunyi di kawasan Raffles Hill.
.
Di meja makan tampak Tere dan Zumi sedang bercanda.
.
"Nasi goreng ya, biii......."
"Zumi telor ceplok aja, biii....."
.
Zumi melirik Tere yang kayaknya belum mandi.
.
"Gak kuliah, loe?!"
"Sore..... Pagi dan siang ini kosong"
"Ikut futsal aja, yuk? Tar Zumi kenalin sama anak-anak futsal.... Jam 9 ada latihan nih di Point One Cibubur"
"Hmmm..... boleh.... asyik juga kedengerannya..."
.
Selesai sarapan dan beres-beres, Tere dan Zumi pun meluncur ke stadion futsal di kawasan Cibubur. Mereka naik motor ke sana, karena hanya berjarak 12 menit saja.
.
.
Sampai di bandara Soekarno-Hatta, sambil duduk di ruang tunggu, Maya membuka salah satu akun g+ via ponselnya. terlihat akun Togu di list hangouts. Tiket di tangannya dilirik sebentar. Kursi 11A, Rabu 02-10-13.
.
"Aku sedang di Soetta, 15 menit lagi terbang"
"dijemput?"
"tak perlu"
.
Maya pun menjepret suasana ruang runggu bandara dan di-share di akun g+ dengan nama samaran Luna. Tak lama ada notif koment dan tanda 17+ di foto tadi.
.
"awesome..... love it.... visit me?", sebuah akun bernama Bayu berkomentar di foto yang diupload Maya.
"thx.... not now, honey......"
“okey…. Bedugul can wait you any time…..”
.
Koment dari Togu masuk, “seperti biasa, always ramai di sini….”
.
“Kirim-kirim foto laaah….. biar aku tahu kau sedang apa ketika aku sampai di rumah….”, Maya menimpali.
.
Tak lama Togu kirim foto nila bakar, tampaknya dishoot dari belakang rumah di Jl. Kalimantan.
.
“Ikaaan…… I’m comiiing….”
.
Dan Maya pun menikmati perjalanan ini dengan tidur saja, bahkan sajian yang diberikan pramugari tak sempat disentuhnya, padahal menunya lumayan enak, ikan cakalang dan cah kangkung.
.
.
.
Selang dua jam pesawat pun sudah landing di Kuala Namu, dan 15 menit sesudahnya terlihat Maya sudah berdiri di lobi luar bandara dan menghubungi Zulham via WhatsApp. Begitulah, taxi bandara pun siap membawa Maya ke rumah megah bergaya klasik di tengah kota.
.
“Aku dalam perjalanan pulang….. naik taxi, Bang”
Tak lama ada jawaban dari Zulham.
“Loh, cepat sekali tugas ke Jakartanya…… untung ada Kak Tari di sini, Biar dia masak untuk kau ya?”
“makasih, Bang”
.
Sopir taxi melirik ke Maya lewat kaca spion, wanita yang tampak begitu muda dan energik. Tampaknya baru dari tugas ke Pusat ibu ini, pikir pak sopir. Muda, cantik, gesit dan pintar sepertinya. Beruntungnya lelaki yang menikah dengan wanita ini, pak sopir masih melamunkan Maya.
.
“Kenapa, pak sopir? Kok diam melamun saja. Sakitkah?”
“Oh… eh… ah….. ngga, ito. Eh, ibu….. saya sehat kok, hanya sedang menghayal saja.”
“Menghayal apa? Jupe ya? atau Depe? Atau Farah Queen?”
“Ngga… bukan…..”
“Atau aku?”
.
Jebret…. Sebuah petir menghantam kepala pak sopir. Tak bisa ia menjawab pertanyaan terakhir itu. Kok ceplas ceplos amat ya? pikirnya.
.
“Sedang mikiran yang lain kok, bu”
.
Tak barapa lama, Maya pun sampai di rumahnya yang megah walaupun sudah termakan usia. Pintu besinya baru berganti warna, lebih gelap, coklat tua. Daun-daun berguguran menutupi jalan setapak menuju beranda rumah.
.
“Cukup, pak?”
“Cukup…. Cukup, bu….. Sudah lebih dari cukup ini”
“Terima kasih sudah mengantar saya, pak”
.
Dan sopir taxi pun membawa mobilnya pergi meninggalkan Maya yang masih asyik dengan ponselnya. Dari kaca spion si sopir masih saja mengawasi gerak gerik Maya hingga masuk ke dalam rumah.
.
Empat jam berlalu, Maya sedang duduk di ruang tengah, sendiri. Zulham tampak sudah berpakaian rapi.
.
“Masih capek, Dinda?”
“Eh, Abang….. ngga terlalu capek. Ini aku sedang pilah-pila buah tangan untuk teman kantor…. Rapi kali Abang niiih…. Hendak membawa aku kemanakah?”
“Itulah….. tadi orang gudang bilang, ada barang masuk yang musti aku periksa. Selepas dari sana kita ke tempat favorit di Bukit. Bagaimana?”
“Ke gudang. Aku ikut ke gudang?”
“Hmmm…. Ngga… ngga ikut juga ngga apa-apa. Kau temani kakakku Tari saja di sini…”
“Jadilah itu….”
.
Dan Zulham pun pergi ke gudang tokonya di pinggir kota sendiri bersama mobil peninggalan ayah Maya. Beruntungnya Zulham menikah dengan Maya, dapat toko, perusahaan agen gas, dan mobil yang masih layak jalan.
.
Maya menghampiri kak Tari di ruang keluarga, sedang nonton dia.
.
“Masakan kak Tari mantap kali loh, maknyuuus….”
“Mayaaa…. Mayaaa…. Pandainya kau bikin aku melambung tinggi…. Masakanku hanya disentuh sedikit oleh Zulham…”
“Kanda Zul memang bukan penikmat kuliner, kak….. Lidahnya hanya terbiasa dengan bau gas dan gudang saja dia….”
.
Mereka pun tertawa-tawa lepas saja mengiringi matahari yang mulai condong ke timur.
.
“Habis ini aku hendak mengantar oleh-oleh ke teman kantor, kak Tari. Menginap aku nanti di Toba…”
“Tak lelah kah badan kau itu, Maya? Istirahat sajalah dulu….”
.
Maya tak menjawab itu, dan kak Tari sudah paham akan tabiat Maya yang tak bisa dilarang. Setelah rapi-rapi Maya pun pergi meninggalkan rumah peninggalan ayahnya. Biarlah dirawat rumah ini oleh kak Tari dan kanda Zulham.
.
Tak lama Maya sudah tiba di rumah di bilangan Jl. Kalimantan.
.
“Hay… hay…. Maya istriku yang seksi…….”
“Togu suamiku yang gagah perkasaaa……..”
.
Maya dan Togu pun melepas kangen mereka hingga pagi menjelang. Dan di pagi yang masih dingin itu, Togu sudah menyiapkan omelet kesukaan Maya serta segelas jus tomat.
.
“Masih kau pakai saja ponsel itu Togu….. cinta kali kau dengan barang pemberianku itu….”
“tak mau aku ganti apa yang kudapat dari kau, Maya sayang…”
“Nih….. aku ada punya yang baru untuk kau…… 5 inchi dia punya lebar….. dan bisa kau pasang dua nomor di dalamnya”
“Ow… ow….. makasih manisku…….”
.
Dan sorenya Maya pun meninggalkan Togu yang masih terbawa rasa suka cita akan pemberian Maya istrinya, ponsel baru, laptop baru, segepok uang dan kenikmatan yang tiada taranya tadi malam. Tak mengapa istrinya sibuk di Jakarta, toh ia punya juga pacar mahasiswi di sini.
.
Melewati Medan Mall, Maya singgah di toko buku. Ia ingat akan permintaan pacar barunya, sebuah novel karya Jeffrey Archer. Dan masuklah Maya ke toko buku yag tak terlalu ramai pengunjung. Yah, jaman sekarang tak lagi banyak orang membeli buku, pelan tapi pasti, e-books sudah menggantikan buku dalam bentuk fisik.
.
Di sudut bagian buku baru, Maya melihat seorang pemuda yang asyik sekali mengamati sebuah buku yang bertumpuk rapi dan artistik di situ. Kadang diambil, diamati, dibolak-balik, lalu diletakkan lagi. Kadang dijepret dari tiga sudut yang berbeda.
.
“Menarikkah buku itu?”, Maya membuka pembicaraan.
“Oh…. Hallo, kak…. Eh, bu… eh, mbak…..”, pemuda itu gugup begitu tahu ada yang memperhatikan.
.
Maya ikut mengambil buku itu.
.
“Dari gambarnya kelihatannya bukan buku yang ringan untuk dibaca….”
“Iya, kak. Itu kumpulan dari beberapa tulisan dari orang yang berbeda. Aku ada di halaman 67….”, berkata pemuda itu sambil tersipu-sipu.
“Wow…. A writer? Beruntungnya aku bertemu kamu…. Maya… Namaku Maya…”
“Bagas….”
“Orang Jawa?”
“Blasteran…. Sendirian saja ke sini? Tak kulihat ada sesiapa di dekat kak Maya….”
“Maya… panggil Maya saja…. Terdengar tua sekali aku ini…. Aku biasa sendiri ke manapun aku pergi….”
“Hmmmm…..”
“Kenapa?”
“Wanita secantik kau…. Tak percaya aku jika kau bepergian sendiri saja, pasti adalah yang mengawalnya…..”
“Jadi kamu mau menjadi pengawalku?”
.
Bagas tak menjawab, makin merah padam wajahnya menghadapi Maya yang begitu lugas dan cantik jelita ini.
.
“Kalau kau mau, jadilah suamiku yang ke-empat. Mau?”
.
WHAT?! Sudah punya suami, tiga pulak?! Bagas pun hanya garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
.
“Ya sudah….. ini kartu namaku…. Hubungi aku kalau kau berubah pikiran….”
.
....... to be continued.....