Sunday, April 15, 2012

Bin(a)tang



Buat apa kau sengaja berdoa di bukit Tursina? Tuhan takkan mendengar. Buktinya aku tetap lelaki tak setia. Ke Golgota pun sama hasilnya. Meski kau lari bolak balik Safa Marwa, Tuhan masih tuli untuk kesekian kali. Percuma saja, tak ada sejarahnya Tuhan mengabulkan doa perempuan. Bagaimana kalau kau tunjukkan padaku bintangmu. Lalu aku tebak peruntungan cintamu dan kau berpura sumringah seperti para remaja. Bukankah sandiwara itu lebih baik. Sekedar membuang jauh gambaran suram kisahmu yang kerap hadir dengan ribuan cermin.
Seperti bintang yang gampang jatuh. Begitu juga cintaku. Tiada yang abadi di dunia ini, Sayang. Di balik langit sana ada ratusan bidadari. Kalau aku selingkuh dengan mereka, bukankah cinta kita telah sirna? Tetapi kau selalu menggenggam waktu seolah takkan mengubah kenangan. Kelak di atas sana kau temukan pangeran tampan berkuda putih yang menghadiahimu sepatu kaca. Pasti kau melupakanku dan asik bercumbu. Betapa beruntungnya dirimu karena aku takkan gelap mata. Gerhana telah menungguku dengan tarian bidadari sempoyongan. Jangan cemburu seperti itu padaku. Cantik atau jelek kau tak jauh berbeda dengan mereka. Setidaknya saat aku buta.
Kau takkan mampu menghentikan waktu saat warna warni senja berpaling darimu. Seperti kelamnya malam. Terkadang ramai ditaburi bintang. Terkadang sunyi dan membosankan. Bintang-bintang tetap bersinar karena sejatinya langit berlubang. Seperti lubang kelinci atau cacing barangkali. Tergantung seberapa jauh kau pandangi. Menurutmu Tuhan sedang melempar berlian tatkala hujan? Atau cuma ingin membuat badanmu menggigil? Saat itu aku akan memelukmu dan memberikan kehangatan. Lalu kau termakan ide kolektif bahwa cinta benar-benar ada. Tetapi kucoba menganggap dirimu tiada. Akan kutanyakan padamu bagaimana kita mengukir cerita cinta?
Aku menganggap kedipan bintang ibarat genting rumah kita yang bocor. Seringkali membuatku paranoid apabila kita sedang bercinta. Siapa tau ada yang iseng mengintip. Bayangkan suatu ketika gravitasi tak mampu menahan kita berdiri, kemudian tubuh kita terhisap ke dalam lubang itu. Kira-kira di manakah kita berada. Apa gravitasi tetap menyanggah cinta kita? Aku rasa tidak, meskipun kerap kau katakan cinta ini abadi. Namun, yang kita butuhkan sekarang bukan cinta. Jangan bicara soal cinta dan moral. Bukan pula ide besar tentang keadilan. Sebab kita masih lapar. Ya, kita orang yang lapar. Karenanya malam ini aku akan mencuri untukmu. Untuk benih yang kutanam dalam dirimu. Kau harus merelakanku.
Izinkan aku mencuri, Sayang. Malam ini kuendapkan langkah menghindari sinaran bintang. Di ujung mataku nampak sangat jelas kerumunan manusia yang tengah mengerubungi sebuah gudang penimbunan. Mereka membiarkan truk-truk besar keluar masuk dan menurunkan muatan. Puluhan tong digelindingkan. Aku tahu mereka sedang menyelundupkan minyak. Kalau saja salah satunya bisa kucuri, pasti esok hari kita takkan kelaparan. Seragam mereka beragam. Ada seragam coklat, putih, biru, merah, kuning. Ada yang berpeci, berjas, atau bersafari. Rupanya mereka sama tergiurnya denganku yang menyelinap dengan kaki telanjang. Sempat hatiku meragu. Sekali lagi aku berdoa dalam hati sekaligus meminta izinmu. Namun, walaupun kau tak mengizinkan, tetap akan kulakukan.
Di sana rezeki kita menunggu. Tak urung lagi niatku sangat ingin meraihnya. Supaya isi tong itu bisa kujual lagi secara eceran di pinggir jalan dengan harga tinggi. Menghidupi hidup kita di dunia yang serakah. Toh mereka juga mencuri. Makanya kuringankan dosa mereka. Ada baiknya takkan kuberitahu dari mana asal barang itu agar kau tak cerewet sesampainya aku di rumah. Lagipula Persetan dengan dosa. Tentunya mereka takkan mau bersedekah kepadaku. Dan sudah kukatakan kalau aku bukan suami akhiratmu. Bagiku itu cuma dongeng. Kita tak lagi hidup di masa romantisisme berjaya. Kalaupun masih zaman, biarkan pencurian ini sebagai bukti tanda cintaku. Atau sekedar nasibku yang harus mengurusimu. Takkan kubiarkan kau mati bersama ragamu yang berbadan dua itu.
Kudengar suasana di kota teramat parah. Kerusuhan terjadi silih berganti. Di jalanan dan juga di perkantoran. Orang biasa sampai yang diistimewakan. Semua menyuarakan kebenaran dan angka. Cuma pemilik modal yang bernyali, sementara lainnya dibungkam oleh kelaparan. Jauh dari peradaban dan keadaban. Lambat laun kerumunan orang itu berkurang. Satu per satu menghambur pergi. Saat mereka mengunci lumbung minyak itu, kuyakin waktunya telah tiba. Hanya dua penjaga yang tersisa dan sangat mudah kulumpuhkan. Dengan susah payah kuangkut tong itu dengan menggunakan gerobak yang sehari-hari kugunakan untuk menambang batu kapur. Sudah kebayang berapa kiranya keuntungan yang kudapat ketika harga bensin benar jadi naik.
Angin malam boleh berhembus merasuk tulang. Suara batukku mulai bengek tak karuan. Tetapi tubuhku takkan menyerah. Sekuat tenaga menarik beban itu walau napasku terengah. Apakah bintang yang kau lihat ketika senja itu adalah nyata? Semoga bintang kemujuranku memang bersinar kali ini. Begitu atap rumah kita yang compang camping itu tertangkap mata. Segera kupercepat langkahku, tak perduli menginjak batu atau duri. Dadaku kian memegap dan jantungku berdegup kencang. Sayangku, mungkin kau masih terlelap. Tetapi kupastikan malam berikutnya tidurmu lebih nyenyak. Karena perut kita telah kenyang. Namun, sungguh mengejutkan melihatmu masih menantiku datang. Kau menyambutku dengan omelan penuh ketakutan. Cukup! Hentikan ocehan itu! Aku jamin perbuatanku takkan ketahuan. Apalagi setelah kupindahkan semua isi tong itu ke wadah berbeda.
Haruskah kutitipkan asa di kala fajar? Ke mana bintang harapanku menghilang? Suara gaduh diselingi jeritanmu kontan membangunkanku. Mereka mengobrak abrik rumah kita dan menuduhku telah merampas hak para nelayan dengan menyelundupkan solar. Saat itu baru kutahu yang kucuri bukanlah bensin. Percuma aku memberikan penjelasan tentang perbuatanku semalam. Mereka memegangi istriku yang terus mengiba. Tetapi gerombolan manusia itu tak mau mendengar seolah berhasil menemukan biang keladi kesengsaraan. Padahal aku sama laparnya dengan mereka. Namun, kemiskinanku hanya dianggap topeng belaka. Di antara hantaman dan cacian mereka, teringat ucapanmu bahwa mencuri tak pernah bisa membuat kita kenyang.
Lihatlah bagaimana aku mengkhianatimu. Sudah kubilang aku bukanlah lelaki setia. Kuharap bayi kita tak mengenal kata serakah di masa depan. Sekarang jiwaku melayang menyaksikanmu meratapi jasadku. Sudahlah, lepaskan aku pergi. Biarkan aku terhisap jauh ke dalam lembah tak bertuan. Menantimu datang menyingkap tabir abadi dan menemukan cinta yang hakiki.