Thursday, December 15, 2016

gie

Kriiing..… kriiing….. kriiing…..
.
Tepat pukul 7.30 jam weker itu berbunyi lagi.
.
Kali ini Ryan bangun dengan malas-malasan dan ogah-ogahan. Kalau bukan hari Rabu, bakalannya Ryan menarik lagi selimut tebalnya. Mending ngorok lagi.
.
Kenapa dengan hari Rabu?
Rupanya ada kuliah Kimia Kayu di R203 jam 9 pagi ini. Kuliah Kimia Kayu? Ryan kan ngga suka kimia?
Untuk semester ini, Ryan harus suka. Karena di antara 44 mahasiswa yang mengambil matakuliah ini, ada Leila Montolalu, gadis incarannya. Dia suka kuliah di bangku tengah, dan Ryan biasanya mengambil tempat di kursi paling belakang agar bisa mengawasi gerak-geriknya.
.
Aneh memang, di saat para mahasiswa berebutan duduk di kursi paling depan untuk mata kuliah Kimia Kayu, Leila suka di tengah dan Ryan selalu duduk paling belakang. Dan yang mengajar itu profesor gaek, Pak Wasrin Tarumingkeng. Kalo ngasih kuliah suaranya begitu halus nyaris tak terdengar bagai desiran angin menerpa helaian daun jati, dan tak ada satupun mahasiswa yang berani mengeluarkan suara, batuk, dehem, menjatuhkan pulpen, garuk-garuk atau kentut sekalipun. Tertib, khusu’, takzim menyimak materi yang diajarkan.
.
Betul saja, begitu Ryan masuk R203, kursi bagian depan sudah penuh, mungkin dipesan via online barangkali. Dan Ryan tak peduli, karena kursi favoritnya ngga bakal ada yang ngisi. Paling belakang, paling atas dan paling sudut. Mantabs brooh.
.
Pak Wasrin pun masuk ruangan dan semua mahasiswa langsung terdiam tak bersuara, membuka laptopnya perlahan-lahan, membuka textbooknya dengan hati-hati, dan menarik retsletingnya sehalus dan sepelan mungkin (maklum tas ranselnya bikinan lokal).
.
“Analisa struktur kimia Coniferales untuk Pulp”, Pak Wasrin membuka kuliah sambil menyalakan overhead proyektor dan sebagian lampu ruangan pun diredupkan.
.
Ryan membuka tab-nya. Dan matanya terus mengawasi Leila hingga kuliah hampir usia. Saat itu Pak Wasrin sedang menampilkan 5 soal untuk dibahas.
.
“Tuan Ryan, silahkan maju. Kerjakan soal nomor 1. Jika benar, saya masukkan untuk nilai quiz dan kamu boleh pulang duluan”, suara Pak Wasrin mengagetkan seisi ruangan.
.
Pada bagian ini memang semua mahasiswa harap-harap cemas ditunjuk oleh sang professor. Perasaan mereka pun lega saat Ryan yang ditunjuk, dan entah kenapa selalu Ryan yang menjadi incaran pak Wasrin.
.
Sret… sret… sret….
.
Tak butuh waktu lama, sepertiga whiteboard sudah penuh dengan coretan Ryan. Pak Wasrin manggut-manggut saja. Spidol kembali diserahkan ke sang professor.
.
“Good….”, hanya itu suara yang selalu keluar dari mulut Pak Wasrin.
.
Ryan pun hendak melangkah keluar R203.
.
“Sebentar……. Bagaimana kalau kamu tunjuk satu orang untuk mengerjakan satu soal lagi, Ryan. Dan kalau jawabannya benar, kalian boleh keluar duluan……”
.
Ryan tertegun sejenak. Dan matanya memandang ke arah Leila. Dan dia akan pilihkan soal yang Ryan tahu pasti itu akan bisa dikerjakan oleh Leila.
.
“Leila, Prof…..”
.
Leila pun maju ke muka kelas. Dan mengerjakan soal yang dipilihkan Ryan.
.
Sret….. sret…… sret….. Selesai. Jawabannya pun benar. Pak Profesor manggut-manggut untuk yang kedua kalinya.
.
Ryan dan Leila pun melangkah bersama keluar ruangan. Hati Ryan berbunga-bunga, perasaan Leila pun cerah ceria.
.
“Ke Takol, yuk?”, ajak Ryan.
.
Leila hanya mengangguk. Dan mereka pun turun ke lantai satu dan menuju ke luar langsung ke bangku taman di bawah pohon yang rindang, Takol sebutannya.
.
“Ryan…..”, Leila membuka percakapan sambil mengeluarkan dua bungkus RotiBoyz dari tasnya.
Ryan menoleh agak kaget.
.
Ternyata Leila agresif juga.
.
“Sebenarnya aku sudah lama memperhatikan kamu. Juga saat kamu mendaftar di kelas kimia kayu”
.
“Oh…. Eh….. ah…. iya sih… aku lagi suka sama kimia kok….”
.
Hening sesaat.
.
“Kamu mau ngga jadi pacar aku?”
Bagai petir di siang bolong, Ryan kaget bukan alang kepalang. Kok malah dia yang ditembak duluan. Jadi grogi Ryan, duduknya pun bagai orang sedang wasiran.
.
“Kalau jawabannya ya, cukup kecup pipi aku. Ambil Rotiboyz ini kalau jawabannya tidak”, Leila memberi opsi yang cukup susah bagi Ryan. Rotiboyz adalah kesukaannya. Dua biji lagi.
.
Ragu-ragu Ryan memilihnya.
.
Lalu…..
.
Cup…. Cup…. Cup…. Ajinomoto….. Sedaaap…..
.
Leila senang betul cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Lalu mereka pun menyantap Rotiboyz itu. Diambilnya lagi dua bungkus Rotiboyz dari dalam tasnya. Busseeettt, jualan roti ya???
.
Tak lama kelas Kimia Kayu bubar. Dan Riana tampak menghampiri mereka berdua.
.
“Ooohh…. Di sini rupanya sayangku ya? Lagi ngapain, Ryan? Ngerayu Leila yaaah???”, ujar Riana sambil merebut roti di tangan Ryan.
.
Leila memperhatikan Riana yang begitu mesra sama Ryan.
.
“Kenalin. Aku Riana, pacar keduanya Ryan….. kamu Leila ya??”
“Iya….”, merah padam muka Leila lalu berdiri dan mengambil roti yang ada di tangan Ryan.
.
“Kita putus!!!!”, Leila pun meninggalkan Ryan dan Riana.
.
“Bhuahahaha…..”, Riana terbahak-bahak melihat kelakuan Leila yang cemburu dan polah Ryan yang blingsatan.
.
Ryan pun setengah berlari mengejar Leila yang hampir menyentuh pintu gerbang.
.
“Kita selesaikan di rumah, kak Riana. AWAS LOE!!!!….”
.
Ryan makin mangkel sama kakaknya yang usil, si Riana yang selalui ngintilin kemana pun Ryan pergi untuk mencari bunga mawar yang baru mekar.
.
Dasar kak Riana….. Nyesel juga Ryan satu kampus sama kakak kembarnya, walau beda fakultas.