Friday, October 11, 2013

Menelusuri Jejak-Jejak Gereja Terbesar di Saudi Arabia

Kristina, begitulah kebanyakan orang di kampung itu menyebut namanya. Kulitnya tak terlalu putih, tak pula terlalu hitam. Matanya coklat muda, rambutnya ikal tebal hitam gelap, alis matanya lebat, bibirnya tak terlalu tipis pun tak juga tebal.
.
Bukan keinginannya jika ternyata ia terlahir dari ibu berdarah Turki-Spanyol dan ayah berdarah Jawa-Porto. Bukan kemauannya pula jika ia tumbuh dan besar di kampung Tugu. Tapi atas kemauannya juga ia pindah dan menetap di luar Pulau Jawa. Atas dorongan hatinya pula Kristina tercebur di dunia Antropologi.
.
Begitu keras dorongan hatinya untuk menelusuri jejak-jejak peradaban manusia di masa silam. Begitu menggebu-gebu jiwanya untuk menggali lebih jauh ke ribuan tahun lalu demi menemukan 'tempat' di mana manusia kali pertama bertemu, bersujud dan menghadapkan wajahnya kepada Sang Pencipta.
.
Abdal Hikam hanyalah seorang lelaki biasa paruh baya yang telah menabung 7 tahun lamanya, rupiah demi rupiah, untuk menggenapi Perukunan Besar yaitu pergi ke Tanah Suci. Dan bulan lalu bersukacitalah handai taulannya karena Abdal Hikam - guru ngaji yang baik hatinya - bisa berangkat Haji tahun ini.
.
Berduyun-duyun orang kampung mengantar Abdal Hikam ke asrama haji, ada yang bersepeda, bermotor, bermobil, bahkan berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak 11 Km ke gerbang asrama haji.
.
Kristina tak perlu menabung untuk pergi dan menelusuri empat kota besar di Saudi, segala biaya dan kebutuhannya ditanggung sepenuhnya oleh kantor di nana Kristina mengabdi.
.
Kepergiannya ke bandara hanya berteman sopir saja, itu pun selama di perjalanan lebih banyak diamnya ketimbang obrolan sambil lalu. Suara sopir hanya terdengar saat keluar masuk tiga gerbang pintu tol saja. Selebihnya hanya terdengar deru mesin mobil dan hembusan udara dari AC mobil belaka.
.
"Bayar tol, Non!!"
.
"Oh.... ya...... ini...... Terima kasih"
.
Hingga akhirnya terbanglah Kristina dan Abdal Hikam ke Saudi Arabia dan tentu saja dalam pesawat yang berbeda, di hari yang berbeda pula. Tapi mereka tiba di bandara Jeddah di hari yang sama.
.
Di bandara, Abdal Hikam yang keluar dari rombongannya berjumpa Kristina dengan pakaian ala wanita Serbia, bergaun hijau gelap longgar hingga ke mata kaki dan kerudung corak bunga-bunga yang hanya dilingkarkan di leher jenjangnya. Kristina langsung tahu siapa Abdal Hikam demi melihat segala atribut yang tersemat di badannya.
.
"Selamat siang...."
.
"Indonesia?"
.
"Ya........ Aku dari Kampung Tugu"
.
Tak perlu banyak bertanya, Abdal Hikam pun sudah mengumpulan begitu banyak ihwal latar belakang Kristina. Tas ransel besar, kamera, topi lebar dan kalung yang sederhana dan ada benda yang sekilas terlihat samar-samar walaupun kecil saja, sebentuk simbol yang tergantung di ujung kalungnya.
.
"Tak yakin aku engkau akan menginjakkan kaki di Tanah Haram. Pemerintah di sini tentu akan melarang engkau, Saudariku"
.
"Aku hanya ingin mengambil gambar Ka'bah dan sekitarnya, kalaulah ada ingin juga kubidik rumah ibadah lainnya. Sungguh itu adalah tempat ibadah terbesar di planet bumi ini"
.
"Kalau tak bisa dan tak ada, bagaimana?"
.
"Sudilah tuan membawa kamera saya. Biar kutunggu di sini saja atau di kota lainnya"
.
"Jadilah itu. Perlu kuberikan sesuatu sebagai jaminan?"
.
"Biarlah Tuhan menjadi saksinya. Aku percaya tuan, baik kini ataupun nanti-nanti"
.
Dan pada akhirnya Kristina dan Abdal Hikam bersepakat, walau hanya kali pertama mereka bersua di negeri orang.
.
"Atau kukirim via WhatsApp untuk sekadar menggugurkan keinginan engkau itu, Saudariku. Tentu akan lama jika harus menunggu ini kamera sampai kembali di tanganmu"
.
"Deal..... Ini nomorku, tuan"
.
Lima belas menit kemudian...... Bruuuk...... Abdal Hikam terjatuh terkena serangan jantung ringan.
.
Kristina terkejut, terpana dan tak menyangka akan kejadian seperti ini. Tubuh Abdal Hikam terkulai di lantai bandara, dan tentu saja menarik perhatian orang-orang di situ, terutama rombongan Abdal Hikam.
.
Kristina tahu sedikit soal P3K. Ditolongnya Abdal Hikam agar bisa mendapat pasokan udara ke paru-parunya.
.
"Haram..... haram..... haram.....", teriak beberapa orang.
.
Keriuhan sedikit reda ketika Abdal Hikam siuman.
.
"Terima kasih telah menyelamatkanku......", ucap Abdal Hikam lirih.
.
Dan pada hari yang cerah itu Abdal Hikam 'melihat' gereja terbesar muncul di Saudi Arabia, tegak berdiri dengan anggun di hadapannya, sebuah gereja yang bersemayam di dalam hati dan jiwa Kristina.
.
Sudahkah 'aku' berbuat baik dan menolong orang lain hari ini? kemarin? kemarin dulu? begitu mungkin pikir Abdal Hikam. How about me?