Thursday, April 11, 2013

Nenek Sakti Sakit

Nenekku tidak tahu dengan pasti tanggal dan tahunnya beliau dilahirkan. Kalau ditanya berapa umurnya, beliau akan menjawab, “Sekitar 80 tahunan.” Dan biasanya yang bertanya akan percaya. Termasuk aku sendiri.
Dilihat secara fisik, 80 tahun memang kira-kira pas bahkan mungkin lebih.  Wajah nenekku memang sudah keriput. Giginya sudah tanggal semua.  Jika kala tersenyum, nampak giginya yang putih dan tersusun rapi itu bukan gigi asli. Gigi palsu yang dipakainya sejak puluhan tahun silam.
Aku banyak menyaksikan kematian tetangga-tetanggaku yang umurnya setara dengan nenekku. Mereka semua sudah meninggal tahunan lalu. Aku juga menyaksikan banyak dari tetanggaku yang meninggal meski umurnya jauh lebih muda di bawah nenekku. Rata-rata mereka meninggal ketika cucu mereka duduk di SMP.  Nenekku punya cucu yang sudah lulus sarjana, menikah dan punya anak.
Semenjak ditinggal kakek puluhan tahun lalu, nenekku hidup sendiri di rumah cukup besar di desa. Tetangga dekat di kampung membantu nenekku dengan keperluan sehari-hari berhubung kami semua kini tinggal di kota besar. Setiap bulan kami - para cucu gantian menjenguk.  Orang tua kami sudah tidak begitu kuat untuk melakukan perjalanan jauh.  Jadi praktis nenekku lebih sering harus mandiri.  Dan sepertinya nenekku lebih suka begitu. Karena tawaran untuk tinggal di tempat anak-anaknya selalu ditolaknya.  Pernah ia mencoba hidup dengan bulik, tapi cuma betah seminggu.  Ia sudah kangen sama rumah di kampung.
Kakekku meninggal pada umur 65 tahunan. Padahal waktu itu kakek masih kelihatan muda.  Giginya masih utuh dan kuat. Kakekku orangnya keras, suka ngomong blak-blakan, dan suka sekali keluyuran. Tamu yang mencari kakekku usianya bermacam-macam.  Rata-rata lebih muda dari kakekku.
Hampir setiap hari ia pergi ke luar kampung naik sepeda kesayangannya.  Kadang jalan kaki juga.  Kadang ia tak pulang ke rumah. Ketika esoknya tiba, pakaian dan bajunya nampak lusuh. Ketika saya tanya pada seorang pemuda yang pulang bersamanya, kakek baru saja pergi semedi cari wangsit. Kakek menginap di sebuah tempat yang kabarnya wingit.  Waktu itu aku duduk di SMP. Tidak begitu paham apa yang dilakukan oleh kakek.
Kakek memang seorang kejawen.  Sering ia bakar menyan dan semedi di kamar. Bau kemenyan mengisi udara di sekitar rumah. Kakek juga merokok yang asapnya berbau persis kemenyan.
“Aku kalau pingin mati tinggal manggil malaikat kapan saja menurut kemauanku,” begitu kata kakek suatu saat tanpa aku tanya.
Aku tidak percaya pada omongannya.  Bahkan terasa geli.  Malaikat kok bisa dipanggil kayak dokter saja.  Tapi setelah aku besar, ada orang bilang bahwa apa yang dikatakan kakek itu adalah ilmu kebatinan orang Jawa. Katanya memang bisa dilakukan. Bisa meninggalkan raga setiap saat setelah puasa dan meditasi. Aku tetap tidak percaya.
Kakek selalu sibuk berjualan berbagai macam barang. Namun sepertinya kakek tidak pernah mendapat untung besar.  Setiap kali barang dagangannya selalu berubah-ubah. Kadang hasil palawija, buah-buahan, tembakau dan pernah juga jualan susu kaleng. Barang-barang itu menumpuk di ruang belakang.
Kakek dan nenek jarang sekali aku temui duduk dan ngobrol bersama dengan asyik.  Sesekali saja mereka sekilas bicara.  Setelah itu mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Namun sering kakek menasehati cucu-cucunya untuk selalu mendengarkan apa yang dinasehatkan dan diucapkan nenek.
Kepergian kakek meninggalkan misteri buatku hingga saat ini. Misteri itu membuatku marah, sedih, menyesal, dan lain-lain perasaan campur aduk.  Kakekku meninggal cukup mendadak.  Ia cuma sakit tidak lebih dari seminggu.  Ia masih bisa berjalan mengecek aliran selokan dekat rumah pada pagi hari sebelum siangnya meninggal dunia.
Siang itu udara panas sekali.  Aku lagi berada di rumah teman ketika pembantu RT menemuiku dan mengatakan bahwa kakek menyuruhku untuk membelikan pisang hijau di pasar. Karena panas, aku bilang pada pembantu, nanti aku beli agak sore biar cuaca agak dingin.  Pasar desa kami terletak sekitar lima kilometer dari tempatku.  Naik sepeda dalam cuaca panas memang tidak mengundang selera banyak orang.
Tapi satu jam kemudian, pembantu RT itu datang lagi dan mengabarkan bahwa kakek telah meninggal dunia. Aku tidak percaya dengan pemberitahuannya. Namun sesampainya di rumah, aku melihat beberapa tetangga sudah berada di kamar kakek. Kulihat nenek duduk di samping kasur dan tubuh kakek terbaring di kasur ditutup kain jarik.
Aneh, aku tidak merasa berduka tapi sebaliknya malah ingin marah.  Aku merasa dipermainkan oleh kakek. Kenapa tadi minta pisang hijau segala.  Kenapa repot-repot kalau memang mau meninggalkan diriku.
Berubah
Sepeninggal kakek, aku sering mimpi didatangi kakek saat tidur siang atau malam. Aku sering terbangun dengan keringat dingin dan perasaan mencekam. Kadang kakek datang dan memegangi kakiku. Kadang meniupi mukaku.  Kadang hanya duduk saja di belakang punggungku tanpa aku kuasa melihatnya. Hanya kurasakan gerakan tubuhnya. Tapi lama-lama mimpi itu hilang dengan sendirinya.  Tapi bekas mimpi itu masih melekat di otakku hingga kini, puluhan tahun kemudian.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah kakek meninggal dulu atas kemauannya? Ia panggil malaikat sebagaimana ia pernah ucapkan dulu? Apa yang membuat kakek memutuskan untuk memanggil malaikat? Meski aku tidak percaya dengan kemampuan kakek itu, tapi membuatku penasaran.  Kadang pingin marah, kadang merasa bersalah dan kadang membuatku berpikir keras mencari sebab-sebab kenapa kakek meninggal.
Setahun setelah kakek meninggal, nenek tiba-tiba rajin sholat. Aku tidak pernah melihat nenek sholat sebelumnya. Kakekku memang tidak ketat dalam mendidik agama buat anak-anaknya.  Menurut kakek, agama itu sama saja. Semua mencari jalan kesempurnaan hidup menuju ke alam abadi.
Keluarga besar kakek punya agama beda-beda.  Bahkan keluarga bulikku, empat anaknya menganut agama beda-beda. Yang sulung Islam. Yang kedua Katholik. Yang ketiga Kristen.  Yang keempat Islam. Beberapa cucu kakek menikah dengan pasangan yang beda agama. Anak-anak bulik tidak keberatan pindah agama. Semua biasa dan wajar saja. Tidak ada yang mencela atau menghina.  Mereka hidup sebagaimana layaknya keluarga lainnya.
Hal sama juga terjadi di keluarga pakde.  Agama putra-putra pakde juga macam-macam. Seolah agama bukanlah sebuah batasan, bukan sebuah harga mati dan kaku yang melekat pada pribadi orang.  Agama adalah urusan pribadi orang, masalah kasat mata, masalah rohani, masalah hubungan personal individu dengan penciptanya.
Pada saat tradisi kumpul keluarga bersama pada hari raya, masalah agama tidak pernah kami bicarakan dalam pertemuan keluarga. Tapi dengan senang hati saling mengingatkan saat waktunya sholat. Menyiapkan sajadah, tikar dan sebagainya. Anggota keluarga yang merasa dirinya Islam bisa sholat bersama. Sementara yang lainnya ngobrol kesana-kemari tanpa saling merasa terganggu, mengganggu atau diganggu. Mungkin bagi keluarga lain terlihat aneh. Tapi bagi kami biasa saja. Malah aku merasa bangga bisa punya keluarga besar semacam ini.
Beberapa keluarga juga kumpul saat hari Natal dan tahun baru. Peristiwa yang sama terjadi. Masih saling mengingatkan jika waktunya sholat tiba. Gantian yang menyediakan tikar atau sajadah sholat.  Pagi atau petangnya beberapa keluarga pergi ke gereja. Meski ada yang beragama Katholik atau Kristen tapi nggak mau ke gereja tidak disindir atau dimarahi. Tidak ada yang memperdulikan. Itu urusan rohaninya.
Hingga kini nenek masih rajin menunaikan sholat lima kali dalam sehari dengan akurasi ketepatan waktunya yang luar biasa.  Karena usianya yang lanjut nenek tidak pernah puasa. Cerita yang kudapat tentang keluarga nenek memang tergolong keluarga Islam yang taat.  Saat berkunjung ke kampung asli nenek, keluarga nenek punya surau di samping rumah.  Surau itu hingga kini masih ada dengan perbaikan sana-sini.
Bagi nenek, hidup bisa mencapai usia cukup tinggi itu bukanlah hal luar biasa. Kalau ditanya rahasia umur panjang, nenek selalu terkekeh-kekeh.
“Jangan punya hutang,” selalu begitu jawabnya.
Maka yang mendengar pun ikut terkekeh-kekeh. Nenek tidak pernah serius bicara soal hidup. Yang penting cucu-cucunya tidak ada yang punya hutang, itu .  Hari-harinya dilalui biasa saja. Bangun pagi, sholat, minum teh, sarapan, duduk-duduk di halaman depan nunggu tukang sayur, bersih-bersih sekitar rumah, bikin sarapan dan seterusnya. Semua dilakukan secara rutin dan hampir tepat waktu.
“Kalau nggak dapat keringat, badan rasanya capek,” kata nenek saat duduk-duduk di bawah pohon beristirahat dari bersih-bersih sekitar rumah. Peluhnya masih bercucuran.
Mungkin usaha cari keringat yang dilakukan secara rutin tiap hari itulah yang membuat nenek selalu sehat dan berumur panjang. Dan pikiran yang tidak terlalu tegang dalam hidup.  Cuma satu masalah yang membuatnya sedih, yakni jika ada keluarga yang punya tanggungan hutang.
Jatuh Sakit
Di suatu petang hari, tiba-tiba saya mendapat sms dari pembantu di kampung. Mengabarkan bahwa nenek lagi sakit.