Friday, July 15, 2011

CAD 61

Nawang Bertutur


Dulu, waktu masih sekolah di SD, kira-kira kelas tiga gitu deh, aku kebagian masuk siang, karena memang ruang kelas kurang, jadi tidak bisa semua masuk pagi.

Sekolahku di pinggir sawah, dari rumahku kira-kira berjarak 1 km. Untuk mencapai sekolah, ada beberapa pilihan rute jalur jalan yg bisa dilalui. Karena bosan lewat pinggir jalan raya antar propinsi yang cenderung ramai, terkadang aku bersama dua temanku sering melewati sawah di belakang rumah hingga tembus ke jalan raya dekat sekolah.

Kami melewati juga komplek kuburan kecil dekat Balai Kesehatan Ibu dan Anak. Setiap kali melewati komplek kuburan itu, ada yang mengganggu pikiranku, aku melihat beberapa gundukkan lilin, dekat pusara yang dibangun tinggi ditutup dengan sesuatu yang mirip toples besar di setiap ujungnya. Ada perasaan takut untuk mendekat, maklum, seringkali kami dengan teman-teman mendengar cerita horor dekat kuburan.

Tapi pada suatu hari, aku tidak tahan untuk mendekat pada gundukan-gundukan lilin yang mengitari pusara. Aku mencoba mencongkel, dan ternyata bisa, dengan semangat aku mencongkeli semua gundukkan liin itu. Aku senang sekali. Dengan riang kubawa lilin-lilin itu pulang.

Sudah terbayang di kepalaku, aku ingin meniru bapak penjual mainan dari lilin, yang berbentuk aneka buah-buahan dibentuk dengan cetakan. Untuk membeli mainan itu, aku tidak cukup punya uang saku dan sekarang aku punya lilin tanpa harus membeli, aku ingin membuat mainan itu, hmmm.

Karena untuk membentuk mainan lilin itu perlu cetakan, aku mencari buah pepaya muda yang kubelah jadi dua, kubuang biji-bijinya dan kupakai untuk mencetak lilin yang aku lelehkan dengan cara memanaskannya dalam wajan kecil di atas kompor.

Hmmm, semua sudah siap, aku tuang lilin leleh itu ke sebelah cetakan buah, kemudian aku tutup dengan belahan pasangannya.. Aku bolak-balik posisinya agar lilin menyebar merata ke dinding dalam cetakan buah pepaya itu.., setelah yakin rata, pelan-pelan aku masukkan ke dalam air di ember, dengan pelan-pelan pula aku buka cetakan itu, dan benar…, lilin itu terbentuk, mirip dengan buah pepaya.., hhhmm…, walau belum seindah punya bapak penjual mainan, tapi aku senang sekali.

Aku merasa ada yang kurang dari mainan buatanku, lilin kurang menyebar merata, aku ingin mengulanginya lagi. Aku tuang lagi lilin cair itu ke cetakan, entah bagaimana lilin itu tidak tetuang ke cetakan, tapi ke kaki kiriku, duuuuuuuuhhh, panas sekali, spontan aku teriak dan berusaha melepaskan lilin panas itu dari kulit kakiku.

O oh, ternyata kulitku ikut terkelupas, pedih dan panas jadi satu, tapi aku hanya meringis kesakitan. Ibuku yang panik, sambil berusaha menolongku, juga dengan marah-marah karena aku ngambil lilin itu dari kuburan. Duh, maafkan aku Ibu, praktis kakiku jadi terluka, meski diobati, tapi ternyata luka itu bernanah.

Karena aku orangnya tak bisa diam, tetap saja main ke sawah, main ke sungai, hingga infeksi terjadi, kakiku mesti diperban, gak boleh main, di rumah aja, he he he, … akhirnya benar-benar aku harus bobok siang.

Untuk urusan bobo siang ini memang aku sering mbelot, he he he, … bersama tiga mas-masku, kami sering kompak malah kabur ke sungai. Di saat ibu menemani tidur siang kami, dan akhirnya ibu tertidur duluan, kami berjingkat lewat pintu belakang, lari menuju sungai.

Pada waktu itu, kami memang dilarang mandi di sungai, Ibu khawatir terjadi sesuatu dengan kami. Sungai di arah belakang rumah kami sering banjir tiba-tiba.

Walaupun siang bolong, panas, kami tetap mandi di sungai. He he he, … cuma di saat jam tidur siang ini kami bisa lakukan, karena di luar jam tidur siang, kami tidak lepas dari pengawasan Ibu. Sungguh, maafkan kami Ibu, kami hanya ingin merasakan sejuknya air sungai, merasakan arusnya yang meliuk-liuk di antara batuan, yang sengaja kami ikuti dengan menaiki batang pisang.

Bentuk sungai di daerah kami ada yang berkelok tajam, yang tepat di kelokan itu terbentuk areal yang banyak air, dalam, tenang, tapi menghanyutkan. Kami menyebutnya areal ini “kedung”. Untuk orang yang lebih dewasa, kedung merupakan tempat berenang yang pas, tapi buat kami anak kecil, sungguh, itu menakutkan !
Ada teman kami yang hampir tenggelam, ternyata ada arus pusaran air yang bisa membawa kami ke dasar sungai, seraaaaamm, dan ini yang dikhawatirkan ibu. Biasanya ketiga mas-ku, selalu menjaga aku agar tidak ikut masuk ke areal kedung ini. He he he, makasih buat mas-masku yang memberi petualangan seru, setiap kali jam tidur siang.

Setelah puas mandi, kami tidak langsung pulang. Mas-masku selalu menunggu hingga rambutku kering, agar tidak ketahuan Ibu kalau kami mandi di sungai, he he he, … ternyata mereka memikirkan ini hingga detail ya.
Biasanya kami menghabiskan waktu dengan mencari udang di balik bebatuan yang kami susun di lekukan-lekukan batuan di hari sebelumnya. Atau kami mencari ikan wader dengan cara membuat jebakan dari tanah liat, kami bentuk seperti mangkok, kami tempel di dinding batuan di balik jeram, kami beri rumput dan air, maka ikan wader yang terbawa jeram akan melompat ke mangkok tanah liat yang kami pasang itu. Mudah bukan ?

Kadang kalau kami mendapatkan ikan wader dan udang agak banyak, kami susun dalam ikatan tali batang rumput, hingga dapat 3 ikatan. Sayang juga kalau gak dibawa pulang, he he he, … maka selanjutnya kami bergegas pulang, lewat pintu belakang rumah, berkompromi dengan yu Kem, pembantu yang biasa memasak buat kami.

Biasanya yu Kem mau berbaik hati untuk menggorengkan ikan wader itu, tapi jangan sampai ketahuan Ibu, he he he, … kami memakannya di pekarangan belakang rumah, di bawah pohon bambu, tempat biasa kami bermain.

Sore hari, ketika Ibu bangun, kami sudah di rumah lagi, menjalankan tugas masing-masing. Aku membantu mencuci piring, mas-masku ada yang kebagian menyapu ruang depan, ruang tengah, ada yang membersihkan lampu teplok dan petromax, untuk persiapan kalau listrik diesel di desa kami mati. He he he, … maklum, waktu itu memang belum ada listrik yang lebih baik di desa kami.

Urusan tidak tidur siang ini tidak selalu kami habiskan di sungai. Kadang aku diajak mas-masku untuk memancing belut, bahkan dibuatkan pancing khusus untukku, yang terbuat dari tali plastik rafia yang dipilin dan diikat ujungnya agar tidak lepas. He he he, … ini adalah trik agar aku tidak bawel mengganggu mereka saat mereka harus tenang memancing belut.

Acara mancing biasanya diawali dengan mencari cacing, tugas ini selalu aku yang menjalankan bersama mas ku yang paling kecil. Kami mencongkel tanah dekat comberan belakang rumah. Kami hafal dengan tanah yang biasanya jadi rumah cacing, di atas permukaan tanah gembur itu selalu ada bekas tanah yang melingkar-lingkar.

Kami mendapatkan banyak cacing. Sssssssttt, tapi kami juga suka mencari jalan pintas. Kami membuat larutan air sabun, kami tumpahkan di atas rumah cacing, maka cacing-cacing itu akan bermunculan ke permukaan tanah dengan sendirinya, kami tinggal menangkapnya. Ha ha ha, maafkan kami ya cacing.
Kedua masku yang lain, sudah siap dengan alat pancingnya. Perburuan dimulai ! Kami menuju ke aliran irigasi yang melewati desa kami. Dengan santainya mas-masku mengamati setiap lubang di dinding aliran air itu, hiiiiiiii…, padahal sepertinya jorok sekali.

Aku nggak mau ikutan, aku hanya membawakan cacingnya untuk umpan, mengisikan umpan itu dan menyerahkan ke mereka. Setiap kali mereka harus kecewa, karena ternyata lubang itu tidak berpenghuni, gak ada belutnya.

Akhirnya perburuan berpindah ke comberan-comberan tetangga yang mengalir dari areal sumur kerek mereka. Nah, di sini aku mau ikutan, karena arealnya lebih bersih, tidak dalam, tidak harus nyebur ke dalam got.

Setelah beberapa kali aku mencoba, akhirnya di suatu lubang yang tidak terlalu besar, aku merasakan ada tarikkan dari dalam, duuuuuhhhh, deg-degan, riang, aku menjerit, aku berusaha menarik tali pancing rafia itu, berraaaaat…, akhirnya mas ku membantu, dan berhasil! Ha ha ha, … sensasinya tidak terlupakan hingga kini!

Belut itu meronta, masih terkait di pancingku, aku nggak bisa memegangnya, ha ha ha, … dia licin sekali, lincah, kuat ! Masku menolong kembali, dengan menarik belut itu dari kepala hingga ekornya, hingga terdengar bunyi gemeretak tulangnya pada patah. Duuuh, kasihan sekali belut itu, tapi akhirnya belut itu diam, tidak meronta lagi, dan aku bisa memegangnya.

Kali itu, aku tidak bisa menyembunyikan pada Ibu, karena aku bangga sekali bisa mendapatkan belut itu, aku berlari pulang, memamerkan belutku pada ibu, he he he, … dan terimakasih ya Bu, atas tidak marahnya ibu waktu itu.

(catatan kecil Nawang yang tak kecil lagi)