Showing posts with label Cineplex27. Show all posts
Showing posts with label Cineplex27. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

Freedom For Free DOM, Bebas Untuk Bebas


Freedom Writers



Kisah ini sangat menakjubkan dan mengritik para tenaga pengajar yang kebanyakan melakukan generalisasi pada anak didik. Erin Gruwell telah melakukan pendidikan yang humanis, membebaskan, dan beralaskan kasih. Ini adalah kisah nyata tentang kelas 203, dimana Erin Gruwell melakukan pendidikan yang benar-benar menakjubkan. Gruwell telah mendobrak paradigma pendidikan dan memberi pandangan baru sebagai solusi.
Kelas 203. Ia masih lengang meskipun bel tanda masuk telah berdering. Meja para murid penuh coretan. Beberapa halaman buku pelajaran hilang bekas sobekan. Papan tulis penuh dengan kotoran debu. Penutup jendela kelas rusak. Kelas 203 lebih mirip sebuah bui daripada ruang pendidikan. Mayoritas guru melihat kelas itu sebagai ruang gelap tanpa harapan. Rapor akademik kelas itu merah. Kata “pendidikan” absen dari ruang itu. Yang ada cuma “pendisiplinan.” Satu per satu murid memasuki kelas karena digiring petugas piket sekolah. Mereka harus dipaksa belajar karena mereka tidak memiliki hasrat sedikit pun akan pendidikan. Para guru mengibarkan bendera putih. Para murid akan menghilang satu per satu dari ruang kelas untuk selamanya.
Kelas 203 kontras dengan kelas di seberangnya. Para guru sudah hadir di kelas sebelum jam tatap muka mulai. Ia sudah menuliskan materi pelajaran di papan tulis. Hanya guru dengan predikat teladan mendapatkan izin mengajar di kelas itu. Meja para murid tertata rapi dan bersih dari coretan. Tahun ajaran baru ditandai dengan buku pelajaran baru. Para murid bergegas memasuki kelas begitu bel masuk berbunyi. Ruang kelas itu hanya terbuka bagi para murid dengan rapor akademik istimewa. Mayoritas murid berkulit putih dengan perkecualian segelintir murid dari ras lain. Mereka tak pernah menginjakkan kaki mereka di kelas seberang karena terbentang sekat pemisah di antara keduanya.
Para murid kelas 203 melihat Erin Gruwell, guru baru mereka, dengan tatapan kebencian pada hari-hari pertama tahun ajaran. Mereka memandangnya sebagai sipir bui yang berdiri di depan kelas untuk mendisiplinkan para narapidana sekolah. Ia menjadi bagian dari struktur sekolah yang melihat para murid sebagai barang antik. Ia dianggap sama saja dengan para guru sebelumnya yang selalu mengeluarkan kartu merah untuk mendisiplinkan perilaku mereka. Ia terlibat dalam institusi pendidikan yang terperosok dalam dosa. Profesi guru telah lama hilang dari ruang kelas itu. Gruwell mencita-citakan sebuah rumah pendidikan bagi para muridnya. Rumah pendidikan di atas pondasi guru, murid, administrasi, dan dunia sekitarnya.
Gruwell tidak mulai dengan pelajaran tata bahasa, melainkan tata bangsa Amerika. Sekat pembatas antarmanusia itu tercipta antarruang kelas dan bahkan dalam satu ruang kelas. Para muridnya berasal dari latar belakang imigran, manusia perahu, korban penggusuran, pengedar obat terlarang, pernikahan dini, dan mereka yang terpinggirkan dari komunitasnya. Kelas didesain berdasar sekat-sekat pembatas. Menyeberang sekat menimbulkan ancaman kehidupan bagi penghuni sekat lain. Gruwell mencabut jerat-jerat penyekat itu dari ruang kelas. Ia mendesain ulang kelas itu menjadi jaring-jaring perjumpaan. Ia membuka mata terhadap konteks hidup para muridnya. Ia mendambakan kelas itu berubah dari penjara menjadi rumah. Jika Holocaust adalah nama sebuah sekat masa lalu dalam sejarah dunia, rasialisme adalah sekat modern dalam masyarakat Amerika. Pendidikan tak akan berlangsung selama rasialisme menjadi salah satu pilarnya.
Gruwell mengalami reorientasi atas profesinya sebagai pendidik saat ia membaca fragmen kehidupan para muridnya. Fragmen hidup dalam buku harian itu bergenang air mata. Ketulusan Gruwell dalam mendampingi mereka mengembalikan identitasnya sebagai guru. Drama pendidikan mencapai klimaks ketika Gruwell dan para murid membongkar model pendidikan lama yang deformatif dan mendesain model pendidikan baru yang transformatif. Para guru lain dan dewan sekolah mencecar Gruwell dengan tanggapan pedas, “Kelas 203 adalah kasus khusus yang sulit diterapkan di tingkat pendidikan yang setara. Metode pendidikanmu sangat tidak praktis.” “Saya ingin menyalakan lilin di ruang gelap pendidikan. Saya berani mengambil risiko menerapkan metode pendidikan yang didakwa tidak praktis ini, karena hidup para murid berharga di mata saya sebagai seorang guru,” demikian Gruwell menuliskan dalam buku hariannya.

Wednesday, April 11, 2012

Ketika Pasien Bertemu Dokter Untuk yang Terakhir Kalinya


Siang Sebagai Luna Maya, Malam Jadi Tukul Arwana


Humor Tak (Harus) Lucu #004



Anak-anak sekarang pelajaran fikih…” kata bu guru suatu pagi di kelas yang murid-muridnya selalu bersemangat. “Ibu ingin mulai pelajaran ini dengan pertanyaan. Kamu semua suka ikan laut?,” tanyanya dengan ramah.
Suka bu…..,” suara membahana menggetarkan gendang telinga. Ternyata semua menjawab suka.
Saya gak bu…,” tiba-tiba kacong bersuara lain.
“ Ibu bisa tahu alasannya cong…?,”
Ibu tahu orang sering bilangbuang ke laut ajee….kan. Nah…sejak istilah ini muncul saya jijik sama ikan laut. Bayangin bu…ikan laut sekarang makan apa saja karena semua orang banyak membuang …(tidak berani ia menyebutnya) ke laut.”
Ibu guru mesem. Tapi temannya tak kuasa menahan tawa. “Cong…segitukah kamu nafsirin ya….”
Stop.Stop. sekarang ibu tanya lagi, bisa nyebut kamu ikan laut apa yang paling kamu suka?
cumi bu….asal cuma-cuma,” Ari menyambut pertanyaan ibu-ibu dengan senyum.
Ikan paus …asal kecil kayak teri,” rahmah tak mau kalah.
Kalau saya udang bu….asal gak dibalik batu…,” yang lain menjawab.
Tongkol bu…pas saya lagi sedih
Oke cukup..cukup…semua ikan yang kamu sebut halal enggak?”
Kacong yang tidak suka ikan laut tiba-tiba bersuara lagi, “Semua yang ada di laut HALAL dimakan bu….. kecuali satu, KAPAL SELAM…..”

Tuesday, April 10, 2012

Panggil Saja Megu, Jangan Ragu Apalagi Begu



.
.
.
.
"Aku berangkat, kakak!" seru Megumi sambil menutup pintu rumah.
"Hati-hati ya…!" seru kakaknya tak kalah kencang dari dalam rumah.
Megumi berjalan santai menuju sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Megumi adalah siswi pindahan dari Osaka. Sebenarnya dia orang Tokyo, hanya saja waktu umur 7 tahun, orang tuanya pindah tugas dan Megumi serta kakaknya terpaksa pindah rumah juga. Tapi 2 tahun yang lalu, tepatnya ketika Megumi baru lulus SMP, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan ketika berangkat menuju perpisahan di sekolah Megumi.
Saat itu Megumi merasa sangat terpukul. Kehilangan ayah dan ibu sekaligus di hari dia lulus dari SMP dengan nilai terbaik, adalah hal terburuk sepanjang masa. Selama berhari-hari dia tak henti-hentinya menangisi kepergian orang tuanya. Tapi setelah kakaknya memberi kepercayaan padanya, dia merasa lebih baik.
Dia yang baru lulus SMP dan kakaknya yang mahasiswa baru, membuat mereka harus bekerja keras untuk menghidupi diri mereka sendiri. Kakaknya bekerja paruh waktu di café dekat rumahnya dan biasanya dibantu oleh Megumi. Gaji mereka cukup untuk makan selama sebulan, walaupun hidup mereka tak terlalu mewah juga.
Setelah 2 tahun di Osaka, mereka mendapatkan pesan dari bibi yang ada di Tokyo agar mereka pulang ke sana. Bibinya sudah menyediakan rumah untuk mereka berdua dan juga sebuah pekerjaan. Rumah itu dulu adalah rumah Megumi dan kakaknya. Bibinya bilang, waktu mereka akan pindah ke Osaka, ayah Megumi membiarkan bibinya tinggal di sana, tapi seiring berjalannya waktu dan bibi Megumi pun bisa membeli rumah sendiri dan mempunyai usaha yang cukup berjalan, dia ingin berbalas budi pada keluarga Megumi lewat Megumi dan kakaknya. Sekarang Megumi dan kakaknya membantu mengurus toko bunga yang dikelola bibinya. Hidup mereka sekarang jauh lebih beruntung dan tercukupi.
Megumi sampai di depan gerbang masuk sekolahnya. SMA Okazaki, itulah nama sekolahnya. Sambil tersenyum senang dia memasuki area sekolah. Kemarin kakaknya sudah mengurus kepindahan Megumi, jadi sekarang dia hanya perlu mencari kantor guru untuk menanyakan dimana kelasnya. Tapi sekolah ini cukup besar, dan membuat Megumi sedikit ragu untuk berkeliling. Bukan karena takut tersesat, sebab dia mempunyai kemampuan ingatan fotografis, kemungkinan tersesat sangatlah sedikit. Hanya saja dia takut waktunya terbuang banyak dan dia bisa terlambat masuk kelas.
"Gomen kudasai… A, anou… Bisa bantu aku?" tanya Megumi pada seorang gadis sebayanya yang sedang duduk di bawah pohon dekat lorong. Bertanya sebenarnya agak buruk, tapi setidaknya Megumi ingin mendapatkan teman di hari pertamanya masuk sekolah.
"Kau siapa? Murid baru?" gadis itu balik bertanya dan berdiri di depan Megumi sambil mengamatinya.
"I, iya… Aku baru pindah dari Osaka… Kemarin kakakku sudah mengurusi kepindahanku, aku harus ke kantor guru… Bisa tolong antar aku? Aku takut bel akan segera berbunyi…" pinta Megumi.
"Baiklah, ikut aku…" gadis itu berjalan di samping Megumi sambil menggandeng tangannya.
"Terima kasih…" Megumi tersenyum. Teman pertamanya adalah orang yang baik dan ramah, dia bersyukur akan itu.
"Sumimasen ga, onamaewa?" tanya Megumi setelah mereka berjalan di lorong-lorong kelas. Sepanjang dia berjalan, banyak anak yang menatap heran padanya. Mungkin hal itu dikarenakan mereka belum pernah melihatnya. Tapi Megumi tidak merasa terganggu dengan tatapan itu, karena dia yakin mereka tak berniat jahat.
"Atashi no namae wa Honjou Akame desu, murid kelas 2… Kau sendiri?" Akame balas bertanya.
"Watashi wa Minami Megumi desu… Akame-san, yoroshiku…" kata Megumi sambil tersenyum.
"Yoroshiku…"
"Hei, kita sudah sampai…" kata Akame sambil berhenti di depan pintu yang bertuliskan 'kantor guru'. Perjalanan menuju kantor guru ternyata tidaklah memakan cukup waktu. Megumi jadi sedikit malu, seharusnya dia tadi mencari dulu baru bertanya.
"Ii yo, Arigatou gozaimasu Akame-san… Sumimasen…" kata Megumi.
"Daijoubu desu…" Akame pergi meninggalkan Megumi.
Megumi membuka pintu itu dengan perlahan dan melihat ke dalam. Banyak orang di sana.
"Gomen kudasai… Saya siswi baru di sini…" kata Megumi.
"Oh, kamu… Ke sini…!" panggil seorang guru laki-laki dari sudut ruangan.
"Hai!" Megumi berjalan menuju meja guru tersebut.
"Kau Minami Megumi? Aku wali kelasmu yang baru… Kelasmu di 2B…" kata guru itu ramah.
"Benarkah? Arigatou gozaimasu, sensei…"
"Namaku Toura Oguri… Baiklah, bel sudah berbunyi, segera persiapkan dirimu, kita akan menuju kelas barumu…" kata Toura-sensei setelah mendengar bel sekolah berbunyi.
"Hai…"
.
"Perkenalkan ini siswi pindahan, namanya Minami Megumi..." kata Toura-sensei sambil mempersilahkan Megumi untuk memperkenalkan diri.
"Watashi wa Minami Megumi desu, panggil aku Megu… Yoroshiku…" sapa Megumi sambil membungkukkan badan.
Toura-sensei menyuruhnya duduk di bangku kosong baris ke 4 dari pintu kelas. Megumi berjalan tenang menuju bangkunya. Dan setelah duduk, ternyata di samping kanannya adalah tempat duduk Akame, yang sekelas dengannya.
"Akame-san…" panggil Megumi lirih.
"Oh hai Megu…" Akame tersenyum.
Dan pelajaran pun dimulai dengan tenang.
.
.
"Kau tinggal di mana, Megu?"
"Oh, aku tinggal bersama kakakku di rumah kami yang lama… Dekat perempatan setelah jalan besar di depan…"
"Berdua saja?"
"Iya, orang tuaku meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu… Karena itu, kami kembali ke rumah kami yang lama…" jelas Megumi sambil mengunyah roti isinya.
"Gomen, membuatmu mengingat hal itu…" kata Akame lirih.
"Tidak apa-apa Akame-san…"
"Panggil aku Akame saja ya, aku juga memanggilmu Megu kan?" pinta Akame.
"Baiklah…"
Mereka lalu melanjutkan makan roti di bawah pohon di sudut taman sekolah. Setelah menyadari bahwa mereka sekelas, dengan sekejap mereka sudah menjadi teman akrab. Megumi sangat senang dengan sikap Akame yang ramah dan tidak keberatan jika Megumi bertanya seputar sekolah. Mungkin ini akan jadi hari yang menyenangkan.
Megumi masih mengunyah roti isinya, dia mengedarkan pandangan ke kelas-kelas dan beberapa siswa yang berkeliaran di sana. Sekolah ini bukan hanya luas dan megah, tapi juga bersih dan nyaman. Seragam yang dia gunakan pun terlihat sangat rapi. Sekolah yang nyaris sempurna.
Tengah asyiknya dia melihat pemandangan menyenangkan di sekolahnya, matanya berhenti pada satu titik. Dia menangkap seorang siswa laki-laki yang sedang duduk sambil membaca buku di bawah pohon yang tak jauh darinya. Orang itu kelihatannya sedang sendirian dan tak menunggu seseorang. Entah kenapa, Megumi merasa ada yang janggal dengan anak itu. Dia putuskan untuk bertanya pada Akame.
"Akame… Siapa nama orang itu? Dia sekelas dengan kita, kan?" tanya Megumi sambil menunjuk ke arah siswa tadi. Megumi masih ingat dengan jelas, bahwa siswa itu duduk di samping kiri belakang Megumi. Dengan ingatan fotografisnya dia ingat wajah semua teman sekelasnya walau dia hanya melihat sekilas ketika salam perkenalan.
"Kau ingat ya, padahal tadi kau langsung duduk…" Akame berkata dengan nada heran.
"Ini karena aku mempunyai kemampuan ingatan fotografis… Aku bisa mengingat apa pun yang baru aku temui dalam sekali lihat…" jelas Megumi canggung.
"Sugoi…" Akame terkejut.
"Lalu, siapa namanya?" ulang Megumi.
"Amakusa Ryuu…" jawab Akame singkat.
'Amakusa Ryuu?' ulang Megumi dalam hati.
"Seperti apa orangnya?"
"Seperti yang kau lihat, dia suka menyendiri dan jarang berbicara, dia juga pintar… Tapi dia orangnya dingin… Tak banyak anak yang mau berteman dengannya…" jelas Akame.
"Eh? Kenapa?"
"Entahlah… Kau tertarik dengannya?"
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa aneh…" kata Megumi ragu. Dia memandang sekilas pada Ryuu.
"Hmp…" Akame bergumam sambil tersenyum penuh arti pada Megumi.
.
.
Butiran salju-salju kecil berjatuhan dari langit yang biru. Turun bebas dengan tenang dan mendarat di dedaunan pohon ginko, namun ada juga yang membentuk lautan es di jalanan, walaupun itu tidak tebal. Ini adalah awal musim dingin, menurut ramalan cuaca, salju baru akan turun besok dengan jumlah yang cukup banyak. Mungkin ini permulaan dari musim dingin yang indah itu.
Semua anak keluar menuju gerbang sekolah. Beberapa dari mereka banyak yang berjalan bergerombol. Ada beberapa yang sedang memperbincangkan tentang salju yang baru turun, tapi ada juga yang membicarakan hal lain.
Megumi berjalan berdampingan dengan Akame. Sejak tadi mereka asyik membicarakan tentang keseharian masing-masing. Megumi menjadi tahu bahwa Akame ternyata anak seorang pengusaha restoran yang cukup ternama di Tokyo. Akame juga anak yang pintar dan tahu banyak hal. Dia cantik, berkulit putih dengan rambut hitam yang di kuncir di belakang, dia memakai kaca mata dengan frame abu-abu, membuatnya terkesan seperti gadis dewasa dan pintar. Megumi sangat mengaguminya. Sebenarnya Akame memang anak yang cukup dewasa pemikirannya, jadi dari penampilan luar, sepertinya akan banyak laki-laki yang menyukainya.
"Hati-hati pulangnya ya… Aku yakin dengan ingatan fotografismu itu, kau tak akan lupa jalan pulang!" seru Akame sambil melambaikan tangan dan tertawa pada Megumi.
"Iya! Kau juga hati-hati…"
Megumi berjalan pelan menyusuri jalanan yang masih dihiasi oleh salju kecil yang meleleh di tangan. Jalan ini lumayan sepi, tapi Megumi tak begitu khawatir. Setelah berjalan beberapa lama, dia menoleh ke belakang. Berharap dia tak berjalan sendirian, karena itu akan terasa membosankan. Mungkin saja dia bisa bertemu siswa lain yang sebaya dan bisa diajak berteman.
Megumi menoleh, dia melihat sesosok orang sedang berjalan santai di belakangnya. Jarak antara dia dan orang itu sekitar 10 meter. Setelah Megumi mengamati sekilas orang itu, dia yakin bahwa orang itu adalah Amakusa Ryuu. Dia tak akan lupa, dengan wajah dan seragamnya. Seragam semua siswa memang sama, tapi dia bisa tahu bahwa itu Ryuu tanpa menjelaskan dengan detail. Dia hanya tahu, itulah masalahnya.
Handphone Megumi bergetar, dia berhenti berjalan dan memeriksa. Tepat ketika dia membuka handphone, Ryuu berjalan melewatinya. Megumi merasa ada aura yang aneh dari Ryuu. Jadi sekilas dia lihat Ryuu, lalu kembali berfokus pada handphonenya. Ternyata ada pesan dari Akame, tadi Megumi memang sudah memberi tahu nomor ponselnya pada Akame.
'Ada apa?' pikir Megumi sambil membuka pesan.
Megu, kau bilang bibimu punya toko bunga… Bisa kirimkan satu bunga untukku?
Dari Akame Honjou.
Megumi tersenyum senang membaca pesan itu. Lalu dengan sigap dia membalas.
Tentu saja!
Megumi menutup handphonenya dan kembali berjalan. Setelah beberapa langkah, dia tiba-tiba teringat dengan Ryuu. Sepertinya benar apa yang dibilang Akame bahwa dia dingin, sebab ketika tadi Ryuu melewatinya, Ryuu seperti tak menyadari kehadirannya. Ryuu hanya berjalan tanpa mengalihkan pandangannya.
'Di awal musim dingin, bertemu orang seperti dia…' pikir Megumi.
.
.                  
Bagaimana bunganya? Kau suka?
Megumi mengirim pesan pada Akame untuk memastikan apakah Akame menyukai pemberian darinya itu. Sekarang dia sedang membantu kakaknya di toko bunga. Kakaknya sudah pulang dari kampus dan membantu sejak satu jam yang lalu. Megumi sangat menyukai pekerjaan ini. Setiap hari dia bisa melihat berbagai bunga yang indah. Pekerjaan yang sangat menyenangkan.
Aku suka… Ini bunga Geranium kan? Kenapa mememberiku bunga ini?
Dari Akame.
Megumi tersenyum puas. Dengan cepat dia mengetik balasannya.
Bunga Geranium mempunyai arti persahabatan… Aku harap kita bisa menjadi teman baik, Akame…
Selang beberapa menit, pesan balasan dari Akame datang.
Aku kira jika persahabatan kau akan memberiku bunga mawar kuning, ternyata tidak… Kau sudah tahu banyak tentang floriography ya? Tentu saja kita akan bersahabat…
Megumi senang mengetahui reaksi dari Akame. Dia harus berterima kasih pada kakaknya yang memilihkan bunga itu.
Aku tahu itu dari kakakku…
Megumi menutup handphonenya dan duduk di kursi kasir sambil memegang bunga Gloxinia. Saat ini yang ada di toko hanya dia, bibi, dan kakaknya. Pegawai yang lain sedang mengantarkan pesanan. Kakak Megumi yang sedang menata beberapa bunga yang baru datang, membuka pembicaraan pada Megumi.
"Bagaimana hari pertamamu? Baik atau buruk?" tanya kakaknya tanpa memandang Megumi.
"Eh, baik kok… Aku menemukan teman yang baik di sana…"
"Oh ya? Syukurlah… Siapa?"
"Honjou Akame, anak pemilik restoran Ayagi… Dia pintar dan dewasa... Dia juga ramah dan sederhana… Gadis yang menyenangkan…"
"Hee… Begitu…" desah kakaknya.
"Apa hanya dia yang kau temui hari ini?" tanya bibinya yang muncul dari ruangan tempat menaruh pembungkus-pembungkus bunga. Dia keluar sambil membawa satu pembungkus, mungkin dia akan merangkai bunga untuk pesanan.
"Sebenarnya ada satu orang lagi…" kata Megumi sambil menggumam.
"Siapa?" sambung bibinya.
"Amakusa Ryuu…" sebut Megumi lirih.
"Seperti apa orangnya?"
"Dia dingin dan terkesan tak peduli… Tapi Akame bilang, dia anak yang pintar…" jelas Megumi dengan ragu.
"Kau bertemu di mana?"
"Di perjalanan menuju rumah… Dia berjalan di belakangku… Tapi ketika aku berhenti, dia melewatiku begitu saja… Sepertinya rumahnya ada di arah yang sama denganku…"
"Mungkin dia benar-benar orang yang dingin, Megu…" kata bibinya.
"Aku rasa tidak… Mungkin karena aku siswa baru, makanya dia tak mengenaliku…" balas Megumi. Dia tak ingin berperasangka buruk terhadap orang baru ditemuinya. Bahkan Megumi belum mengenal sepenuhnya, dan belum pernah bicara langsung. Dia rasa menilai orang tanpa mendalami karakter adalah hal yang salah.
"Itu sebabnya, kau memegang bunga Gloxinia?" tanya kakaknya sedari tadi diam mendengarkan percakapan Megumi dan bibinya.
"Eh? Memangnya kenapa dengan bunga ini? Apa ada arti spesial?" Megumi yang tadi asal mengambil bunga, tak mengetahui bahwa dia memegang bunga Gloxinia. Megumi belum banyak tahu tentang bahasa bunga atau biasa disebut dengan floriography. Tapi beda dengan kakaknya yang sudah mendalami bidang ini, entah untuk apa.
"Gloxinia mempunyai arti cinta pada pandangan pertama… Apa kau merasa begitu pada Ryuu, Megu?" goda kakaknya sambil tertawa.
"Tidak kok… Aku hanya asal mengambil… Bukan berarti itu menggambarkan perasaanku!" elak Megumi dengan wajah merah karena tersipu malu dan melempar bunga tadi ke meja di depannya. Megumi berpikir, mulai sekarang dia harus berhati-hati dalam mengambil bunga, karena arti dari bunga itu bisa membahayakannya dari ancaman godaan kakaknya.
"Sudahlah, aku hanya bercanda… Kalau dia benar-benar orang yang dingin, beri dia bunga Agnus castus yang artinya dingin…" jelas kakaknya.
"Apa iya aku harus memberinya kaktus?" Megumi ragu dengan pendapat kakaknya.
"Tidak juga… Kau bisa memberinya yang lain…" balas kakaknya.        
"Apa?"
"Cinta…"
"Eh?"
"Kalau kau memberikan cintamu padanya, dia mungkin akan meleleh dan berubah menjadi lilin yang menghangatkan tubuh!" goda kakaknya.
"Kakak…"
.
.
Megumi berjalan cepat menuju kelasnya. Kurang dari lima menit, pelajaran akan dimulai. Dia bisa celaka jika sampai terlambat. Dia tak mau, image'nya sebagai siswa baru rusak hanya karena dia terlambat. Ini semua gara-gara dia kesiangan bangun. Dan sialnya, kakaknya pun juga begitu, jadi antara mereka tak ada yang saling membangunkan.
Megumi kesiangan karena semalam dia tak bisa tidur, dia memikirkan tentang Ryuu. Entah kenapa bisa begitu, tapi yang jelas Megumi memang memikirkannya. Hal yang dikatakan kakaknya dan juga Akame turut mewarnai jalan pikiran Megumi tentang Ryuu. Tentang Ryuu yang dingin tapi pintar, juga tentang sikapnya yang misterius. Megumi merasa ada yang salah dengan Ryuu. Dan sudah dia pikirkan semalaman pun, dia belum tahu kesalahan apa itu.
Sempat berpikir untuk dekat dengan Ryuu. Karena ada dua sisi di pikiran dan hatinya, bahwa dia ingin berteman dan juga sedikit penasaran. Aneh memang, mendekati seseoarng hanya untuk mengetahui kesalahan dalam kehidupannya. Tapi bagaimana pun juga, ada sesuatu dalam diri Ryuu yang harus dia pecahkan.
Terlalu banyak berpikir, tanpa sadar Megumi menabrak seseorang di koridor menuju kelasnya. Keduanya sama-sama terjatuh kesakitan. Megumi memegangi bahunya, sedangkan orang yang ditabrak memegangi punggungnya. Megumi yang sadar segera berdiri dan berniat minta maaf. Di dalam hati dia mengumpat, kenapa bisa seceroboh ini. Dia sempat khawatir bahwa orang yang ditabraknya akan memarahinya habis-habisan dengan alasan umum 'jalan tidak pakai mata'. Bisa-bisa jika hal itu terjadi, dia akan mendapatkan musuh pertama di hari keduanya masuk sekolah.
"Ah, maaf… Aku tidak sengaja…" kata Megumi dengan nada cemas sambil menunduk. Hatinya terus berdoa semoga orang ini tak salah paham padanya. Tapi di satu sisi, dia juga agak bingung kenapa berlebihan memikirkan Ryuu sampai-sampai dia akan mendapat masalah.
"Iya… Tidak apa-apa…" kata orang itu dingin.
Dari suaranya Megumi tahu bahwa orang ini laki-laki. Dengan perasaan was-was, dia mendongakkan kepala. Maksud hati, ingin melihat korban dari kecerobohannya. Siapa tahu, Megumi bisa menebus kesalahannya suatu saat nanti. Saat kepalanya hampir sejajar dengan wajah si korban, sebab laki-laki ini ternyata lebih tinggi darinya, Megumi membeku seketika. Orang yang ditabraknya, tak lain adalah…
'Ryuu…'
Megumi tak berani menatap mata bahkan wajah orang yang di hadapannya sekarang. Orang yang ditabraknya karena sedang asyik memikirkan orang lain, ternyata adalah orang itu sendiri. Betapa terkejutnya Megumi sampai dia hanya bisa diam dan tak lagi memikirkan tentang telatnya dia masuk kelas. Matanya menatap lantai dengan pikiran yang tertuju dalam satu titik.
'Ryuu… Amakusa Ryuu di depanku sekarang…' hanya itu satu-satunya kalimat yang muncul dalam pikiran dan hatinya. Dengan susah payah, dia berkutat dengan kalimat itu. Tanpa tahu kalimat selanjutnya.
Ryuu menatap heran pada Megumi. Dia tahu bahwa Megumi adalah murid pindahan yang baru datang kemarin dan sekelas dengannya. Dia juga tahu, kalau Megumi adalah gadis yang pulang dengannya kemarin di bawah salju-salju kecil yang turun dari awan biru. Megumi yang tak berani menatapnya, membuat Ryuu enggan berlama-lama di sana. Sehingga dia putuskan pergi meninggalkan Megumi yang masih sendirian tertunduk sambil berpikir.
Ryuu berlalu begitu saja di depan Megumi. Megumi hanya bisa menatap hampa kepergian Ryuu. Dia tak tahu kenapa semuanya terasa aneh dan semakin aneh. Matanya seakan tak mau lepas sampai Ryuu hilang karena masuk kelas. Sampai saat itu, Megumi baru sadar bahwa dia tadi sedang bermasalah dengan bel masuk kelas yang hampir berbunyi. Megumi berlari menuju kelasnya dan sejenak melepaskan Ryuu dari pikirannya.
.
.
"Kenapa murung begitu? Ada yang salah?" tanya Akame.
Ketika masuk kelas tadi, raut wajah Megumi sedikit aneh. Megumi yang Akame kenal kemarin adalah anak yang ceria dan murah senyum. Awalnya Akame berpikir bahwa ada masalah dalam kehidupan Megumi. Tapi pada saat pelajaran dimulai, Megumi terlihat biasa saja dan seperti tak punya beban berat. Megumi tetap aktif dan tak berbeda. Hanya saja, ketika jam istirahat, Megumi kembali memunculkan raut wajahnya itu. Oleh karenanya, Akame mengajak Megumi ke taman sekolah untuk menanyakan keadaannya. Akame ingin membantu, apa bila Megumi sedang kesulitan.
"Tidak ada…" jawab Megumi singkat.
"Kau sakit? Atau lapar?"
"Tidak, Akame…"
"Lantas kau kenapa? Berbagilah denganku!" desak Akame. Sebenarnya Akame agak canggung juga, karena memaksa teman barunya untuk bercerita. Tapi Akame benar-benar ingin membantu. Dan jika Megumi tak mau bercerita, Akame mungkin akan menurut.
"Tadi aku bertemu dengan Ryuu…" kata Megumi sambil menatap wajah Akame. Dia memutuskan untuk berbicara, setelah diam beberapa saat.
"Eh?"
"Waktu aku hampir terlambat, kami bertabrakan di koridor kelas… Kemarin juga aku bertemu dengannya waktu pulang sekolah…" Megumi mulai menjelaskan.
Akame diam sambil menatap Megumi. Dalam hatinya, dia senang karena Megumi mau berbagi. Tapi di sisi hatinya yang lain, berbeda.
"Lalu?" hanya kalimat singkat, yang mampu keluar dari mulut Akame.
"Sebenarnya sih, itu bukan masalah besar… Tapi entah kenapa aku terus memikirkan tentang dia…" kata Megumi tersenyum canggung. Merasa dia begitu bodoh. Membesarkan masalah sekecil itu.
"Kau dapat apa dari analisismu?" tanya Akame.
"Aku tidak tahu… Aku masih bingung… Anou Menurutmu, dia orangnya seperti apa?"
"Kan kau sudah tanya itu, kemarin…"
"Oh, benar juga ya…" Megumi menunduk. "Tapi aku merasa ada yang salah…" gumamnya, pada dirinya sendiri.
"Tidak ada yang salah, Megu…" Akame tersenyum.
"Eh?" Megumi tak menyangka kalau Akame akan mendengarkan gumamannya tadi.
Karena kata-kata Akame itu, dia kembali berpikir. Memecahkan misteri terbesarnya saat ini. Tentang Ryuu. Semuanya tentang Amakusa Ryuu. Sempat terbesit untuk mendekati Ryuu, tapi dia menolak. Dia takut Ryuu akan membencinya jika dia bertindak kelewatan. Ditambah lagi, sudah dua kali bertemu, Ryuu tak pernah mengenalinya. Tapi di sudut hatinya, dia ingin berteman dengan Ryuu. Sangat ingin. Sampai-sampai dia merasa lebih ingin menjadi teman Ryuu dari pada mendapat teman seluruh sekolah. Tapi itu konyol.
Setelah berpikir, Megumi merasa kekonyolan tak selamanya akan merugikan. Mungkin tak apa-apa, kalau dia menuruti keinginan hatinya. Itu bukan hal yang buruk. Dan akhirnya Megumi putuskan untuk menjadi teman Ryuu.
.
.
Cuaca yang sangat cerah. Salju kembali turun. Namun kali ini dengan volume yang lebih banyak dari pada kemarin. Salju yang turun dari langit, menghiasi pinggiran jalan. Warna putih mulai bercampur dengan warna-warna kota. Membuat kontras di sana sini.
Angin kecil berhembus pelan meniup batang-batang pohon yang daunnya tertutup salju putih. Memberi kesan dingin yang menusuk tulang. Awan putih dilandasi langit biru, masih terus dengan senang hati memuntahkan isi perutnya menjadi butiran-butiran es kecil. Menjadikan suasana yang damai dalam awal musim dingin.
Megumi berjalan agak terburu-buru, sambil matanya terus melihat kanan kiri secara bergantian. Retinanya berusaha mencari sesosok orang yang ingin ditemuinya sekarang. Jika kemarin orang tersebut melewati jalan ini, seharusnya kemungkinan akan bertemu hari ini masih ada. Kecuali jika kemarin, orang itu berniat mampir ke suatu tempat dan bukannya pulang. Habislah sudah usaha Megumi bila kenyataan kedua yang harus dia terima.
Napasnya yang menggebu dan memunculkan asap putih dari dalam mulutnya, membuat Megumi berhenti sebentar dari acaranya berlari. Keringat dingin bercampur suhu yang nyaris minus, membuat tubuh Megumi menjadi sedikit aneh. Dia memutuskan untuk berjalan dengan tenang sebelum dia pingsan di tengah kota karena kehabisan napas di udara dingin.
Sambil merapatkan jas seragamnya, matanya masih mencari sosok itu. Depan belakang sudah dilihatnya. Tapi orang itu belum tampak juga. Megumi berdesah kecewa. Niatnya untuk menemui Ryuu dan memulai hubungan yang baik, nampaknya harus ditunda jika hari ini mereka tak bisa pulang bersama. Padahal seluruh hatinya sudah menerima rencana baik itu. Hanya saja, belum terlaksana.
Di bawah pohon ginko yang daunnya mulai habis, seorang laki-laki berdiri diam mengawasi dengan mata menerawang. Rambutnya diterbangkan dengan lembut oleh angin kecil yang berhembus. Matanya dengan sigap melihat seorang gadis yang sedang kedinginan dan sepertinya mencari seseorang. Entah kenapa, penglihatannya hanya terfokus pada objek itu. Objek yang sangat dikenalnya. Yaitu gadis yang bertabrakan dengannya tadi pagi dikoridor kelas. Megumi.
Dengan langkah bimbang, dia memutuskan untuk pergi dari tempat persembunyiannya. Karena sebenarnya dia sudah pulang duluan dan sengaja menunggu di balik pohon ginko untuk melihat gadis itu. Gadis yang entah kenapa selalu muncul dalam pikirannya sejak pertama kali dia melihat. Gadis yang member sensasi aneh dalam hatinya.
Perasaan cemas menyelimutinya. Berharap gadis itu tak melihatnya saat dia berjalan di depannya. Sambil memasukkan tangannya ke saku celana, dia berjalan lurus. Dalam hati dia sempat ingin agar salju muncul dengan lebat sekarang agar sosoknya tak dapat ditangkap oleh mata gadis itu. Tak peduli kedinginan karena dia hanya memakai seragam sekolah.
Megumi yang menyadari orang yang dicarinya muncul dari balik pohon dan berjalan lurus didepannya, segera berjalan cepat agar bisa mengejar. Apa pun itu, dia harus menemui orang itu sekarang. Hatinya sudah terlalu memaksanya. Dan dia tak bisa menghindar lagi. Megumi mempercepat langkahnya, tinggal 5 meter lagi dia bisa berjalan di samping orang itu. Tanpa ragu, dia berjalan di samping orang itu. berdesah sebentar dan mulai mengajak bicara.
'Ini dia, Ryuu…' pikirnya dalam hati.
Ryuu yang sedikit kecewa karena harapannya tak terkabulkan, memutuskan untuk menatap lurus ke arah depan tanpa mempedulikan keberadaan gadis di sampingnya.
"Amakusa-kun… Kau Amakusa Ryuu-kun kan?" sapa Megumi lirih.
Ryuu dengan ragu menoleh pada Megumi. Padahal niatnya adalah tak mempedulikan. Tapi tubuhnya secara paksa menolak. Tapi tekat Ryuu untuk tak mempedulikan juga besar. Jadi dia sedang bergelut dengan tubuh dan hatinya. Namun akhirnya dia hanya menoleh sekilas dan memberi tatapan dingin. Sedingin salju yang sedang turun.
"Aku Minami Megumi, siswa baru yang sekelas denganmu… Salam kenal…" Megumi berusaha memberikan kesan terbaik pada Ryuu. Bagaimanapun juga, tujuannya adalah ingin berteman. Teman yang baik.
Namun Ryuu tetap diam saja. Tanpa ekspresi yang jelas. Entah Ryuu tak mendengar atau tak mau mendengarkan Megumi. Megumi sebenarnya bingung juga, harus bagaimana sekarang. Dia menatap Ryuu dengan tatapan senang. Entah kenapa dia merasa senang, padahal dia sedang dicampakkan oleh Ryuu. Tapi dia senang karena bisa bertemu dengan Ryuu dan berbicara walaupun sepihak, dan berada sedekat ini.
Tanpa sadar Megumi sudah sampai ke rumahnya. Karena terlalu senang memandangi Ryuu yang berjalan dia sampingnya, dia tak tahu kalau rumahnya sudah di depan mata. Dia sendiri menjadi tahu bahwa jalan yang diambil Ryuu adalah jalan yang sama dengannya. Meskipun Megumi sampai lebih dulu. Dia berpikir, dia pasti akan bisa bertemu dengan Ryuu setiap hari. Dan pulang bersama. Dia merasakan kesenangan yang berlipat ganda.
"Baiklah, ini rumahku… Kita berpisah sampai di sini…" kata Megumi lembut sambil menunjukkan pagar rumahnya. Dia tetap memberikan kesan ramah di saat-saat akhir, dan memberi senyuman serta lambaian tangan Ryuu yang masih berdiri mematung. Lalu dia masuk ke dalam rumah.
Ryuu menghentikan langkahnya dan memandang Megumi yang sudah masuk ke dalam rumah. Dia mengamati rumah itu dengan seksama. Lalu melangkah pergi dengan tatapan yang dingin.
.
.
Tsuzukete
.
.

Saturday, April 7, 2012

Crime Scene Investigation (CSI)



Kalau serial yang satu ini pastinya ga asing donk. Crime Scene Investigation (CSI)pertama kali tayang di negara asalnya yaitu Amerika Serikat pada bulan Oktober tahun 2000.
Serial yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer dan Anthony E. Zuiker sebagai sang kreatornya, berkisah mengenai tim forensik yang mencari bukti-bukti fisik untuk memecahkan kasus - kasus kriminal.
Sungguh sangat menarik jika kita menyaksikan bagaimana cara mereka dalam mencari bukti-bukti tersebut. Alat-alat yang digunakan di dalam laboratorium forensiknya pun sungguh sangat canggih (wowwww…).
Memang kadang serial ini agak vulgar dalam menggambarkan korban-korban tindak kriminal tersebut, tapi mungkin seperti itulah adanya. Dan mungkin seperti itulah adanya pula cara-cara tim forensik di negara paman Sam tersebut dalam mencari fakta kebenaran dari sebuah tindak kriminal.
Karena serial ini begitu sukses di Amerika, pihak CBS segera melebarkan sayap dengan membuat CSI NY ( Crime Scene Investigation New York) dan CSI Miami. Sedangkan CSI yang sebelumnya telah ada menjadi CSI Las Vegas. Sesuai dengan namanya, pastinya CSI tersebut menceritakan kisah-kisah kriminal di masing-masing wilayahnya. Pengen deh sekali-sekali melihat antara CSI NY kerjasama dengan CSI Las Vegas.
Mungkin ga ya??apa mungkin masing-masing punya wilayah hukum yang tidak diintervensi ya?hmmm..anyway, sampai saat ini CS LV sudah sampai pada season 9, CSI NY season 6 dan CSI Miami season 8.
Pastinya CSI ini adalah tontonan yang menarik, tapi jangan ditonton oleh anak belasan tahun ya,miss perception hehehe. Saya penggemar kisah-kisah kriminal macam ini, dan sebenarnya berniat untuk membeli DVD nya, tapi apa daya, keliatannya harus menguras banyak cost ya.
Well.. buat para penggemar kisah detektif dan sejenisnya, serial ini boleh jadi referensi nomor satu. Banyak hal juga koq yang bisa dipetik dari serial ini, salah satunya komitmen dan profesionalitas dalam menjalankan tugas.
Selamat menikmati.

Friday, April 6, 2012

SosMed : Media Paling MANI PULA TIF



Manipulasi sama dengan kelicikan, muslihat, tipu daya, dan akal bulus.
Bisa diartikan sebagai penggelapan atau penyelewengan atau upaya seseorang atau kelompok untuk memengaruhi perilaku, sikap dan pendapat orang/kelompok lain tanpa orang itu menyadarinya.
Dalam bisnis, ada istilah manipulasi permintaan atau manipulasi penawaran. Contoh manipulasi permintaan adalah antrian di sebuah toko padahal yang mengantri bukan pembeli alami, melainkan karyawan toko sendiri. Para pedagang kaki lima juga sering meminta temannya bolak-balik membeli barangnya hanya untuk menunjukkan ke orang lain bahwa dagangannya laris-manis!
Dalam politik, kecenderungan manipulatif seakan menjadi jati diri kedua. Mulai dari memanipulasi jumlah dukungan sampai manipulasi pasal 7 ayat 6 UU APBN-P 2012 seperti yang saya (dan juga Anda) tonton di sidang paripurna kenaikan harga BBM, akhir minggu lalu. Dan para politikus yang melakukan korupsi, jelas-jelas menggunakan beribu taktik manipulasi, pertama agar korupsinya berjalan sukses, dan kedua agar tidak dijebloskan ke penjara. Tanpa manipulasi, tentu sulit mencuri uang negara yang jumlahnya bermilyar-milyar tak terhingga!
Sampai di sini, saya ingin mengatakan bahwa manipulasi ada di mana-mana, menjadi bagian dari kecerdasan manusia dalam mengolah kata, fakta dan data.
Manipulator Online
Sebelum teknologi web 2.0 lahir dan sebelum era media sosial tiba, manipulasi di dunia internet tidak bisa dilakukan secara terbuka apalagi berjamaah. Karena waktu itu orang yang sedang online hanya bisa membaca, tanpa bisa menulis apa-apa. Manipulasi hanya dilakukan oleh pemilik website dan pengelolanya yang memiliki kekuasaan untuk menginput dan mengedit konten lewat papan panel pengelola konten tersembunyi.
Di era blog, media warga dan jejaring sosial saat ini, setiap pengguna internet punya kesempatan yang sama untuk melakukan manipulasi karena, cukup dengan satu-dua klik, konten bisa dikirim, diedit dan dihapus oleh setiap pengguna.
Maka bermunculan lah konten sampah yang seakan membom ruang pribadi kita. Juga banyak konten bohong atau hoax yang terlanjur dipercaya isinya. Sebuah informasi bisa dibuat seolah-olah asli. Pembuatnya bisa berganti identitas sesuka hati. Manipulasi berserakan di sana-sini.
Manipulasi dilakukan dengan hanya bercerita, atau dengan memanipulasi identitas pengirim, bahkan sampai manipulasi domisili. Satu orang dengan mudah dapat membuat banyak sekali email (karena pembuatan akun mengacu pada alamat email sebagai identitas pembuatnya). Bahkan cukup dengan satu email, Anda sudah bisa membuat banyak akun.
Saya berikan satu bocorannya. Bila Anda pengguna layanan Gmail, Anda tidak perlu repot-repot membuat tiga email hanya untuk membuat tiga akun di Twitter. Cukup dengan satu alamat email yang ada, misalnya inipunyasaya@gmail.com, Anda sudah bisa membuat banyak sekali akun Twitter. Caranya dengan memasukkan tiga kombinasi alamat email untuk tiga kali registrasi (inipunyasaya@gmail.com, ini.punyasaya@gmail.com, dan ini.punya.saya@gmail.com). Gampang kan?
Artinya, dengan adanya media sosial, orang-orang punya banyak sekali senjata untuk melakukan aksi muslihat, baik sekedar untuk iseng atau yang merugikan orang lain. Masih ingat kan dengan kasus pernikahan dua Facebooker di Bekasi yang ternyata istrinya adalah seorang pria?
Manipulator Kompasiana
Di Kompasiana, manipulasi lebih banyak lagi ragam dan modusnya. Tidak hanya manipulasi konten, tapi juga manipulasi atribut yang melekat pada konten. Jumlah pembaca, jumlah komentar, jumlah peringkat dan banyak lainnya.
Jumlah pembaca adalah kasus paling lawas. Karena Kompasiana dikelola sebagai sebuah media warga, maka orang berusaha setengah mati agar tulisannya (seolah-olah) dibaca oleh banyak orang. Awalnya jumlah pembaca bisa dikatrol hanya dengan mengklik tombol F5 (refresh). Tapi kemudian ini tidak lagi berlaku. Lalu otak kembali diputar, solusinya adalah dengan memperbanyak akun, melancarkan serangan fajar dan memperbanyak promosi.
Untuk meredam masalah ini, Kompasiana mengganti fitur “Terfavorit” (kumpulan tulisan paling banyak dibaca) menjadi “Terekomendasi” (tulisan pilihan berdasarkan jumlah pembaca terbanyak dalam waktu tertentu). Selain untuk meredam munculnya tulisan yang ‘asal-populer’, moderasi tulisan seperti ini juga memungkinkan munculnya lebih banyak tulisan di kolom Terekomendasi dalam satu hari.
Lalu belakangan muncul kasus manipulasi terhadap peringkat kualitatif tulisan (Teraktual, Inspiratif, Bermanfaat, Menarik). Ada pengguna Kompasiana yang berusaha agar tulisannya muncul dan berlama-lama di kolom tersebut. Karena fitur peringkat tulisan menggunakan voting engine, alias satu akun untuk  bisa memberi satu nilai, maka dibuatlah banyak akun agar tulisannya bisa diberi banyak nilai-sesuka hati.
Dengan adanya ulah segelintir orang ini, Kompasianer lain yang tulus ikhlas berbagi jadi terusik. Tulisan yang mendapat nilai alami hilang dari peredaran. Dan tulisan yang benar-benar aktual maupun bermanfaat akhirnya dicurigai telah dimanipulasi oleh penulisnya. Parahnya, ada orang yang sengaja memberi nilai terhadap satu tulisan dengan akun-akun palsu yang dia miliki. Niatnya adalah untuk menyebar fitnah agar seolah-olah si pemilik tulisan telah melakukan rekayasa atas tulisannya sendiri agar muncul di kolom ‘ter-teran’.
Sebenarnya, cara termudah untuk menanggulangi hal ini adalah dengan menghapus kolom untuk tulisan-tulisan dengan peringkat tertinggi. Tapi apakah itu solusi yang harus diambil setiap ada kasus manipulasi yang muncul? Apakah dengan menghapus kolom tersebut menjamin tidak akan ada lagi manipulasi di Kompasiana?
Ada cara lain. Yaitu dengan menggunakan kontrol Kompasiana seperti yang dilakukan saat mengubah kolom Terfavorit menjadi kolom Terekomendasi. Tapi saya berpikir, kalau semuanya dikendalikan, maka hilanglah dinamika alami yang menjadi keniscayaan sebuah media sosial.
Kolom peringkat tertinggi sejatinya dibuat agar untuk memberikan apresiasi lebih terhadap sebuah konten. Untuk mengembalikan maksud dan tujuan dari kolom ini, Kompasiana telah melakukan beberapa langkah agar tulisan-tulisan di kolom tersebut tidak dimanipulasi sesuka hati.
Langkah pertama yang telah dilakukan adalah memoderasi tulisan yang pencapaian peringkatnya dianggap manipulatif. Untuk memperlancar moderasi, Kompasiana mempersilakan teman-teman Kompasianer untuk melaporkan tulisan yang dianggap manipulatif.
Selanjutnya, Kompasiana akan melakukan pembatasan dan pembersihan yang tentu saja teknisnya tidak akan dijabarkan secara terbuka. Nama-nama pemberi peringkat juga akan ditampilkan di bawah tulisan, sehingga setiap orang bisa melacak ada tidaknya aksi manipulasi di dalamnya.
Kolom-kolom tersebut juga nantinya akan ditampilkan secara bergantian agar pengguna tidak terlalu memaksakan diri memberi nilai ‘Aktual’ untuk tulisan yang sebenarnya ‘Bermanfaat’.
Sebenarnya, langkah-langkah tersebut tidak perlu diambil kalau Kompasianer yang sering melakukan manipulasi tahu diri dan punya sedikit rasa malu saat memanipulasi tulisannya hanya untuk mengejar posisi di kolom Teraktual dan sejenisnya.
Tapi inilah realitas media sosial. Di sini setiap orang punya kesempatan untuk memanipulasi orang lain. Yang  perlu dipahami, apapun niatnya, manipulasi merupakan bentuk lain dari ketidakjujuran yang cenderung meresahkan (juga merugikan) orang lain!