Showing posts with label Friends Notes. Show all posts
Showing posts with label Friends Notes. Show all posts

Wednesday, October 31, 2012

Kapan Pengiriman TKI ke Saudi Arabia Dibuka Lagi ?



Kapankah pengiriman TKI ke Saudi Arabia dibuka lagi ?  Pertanyaan itu hampir tiap hari datang pada saya dari ibu-ibu tetangga saya di Madinah…Hari ini saya mengantar puteri saya yang baru saja masuk kelas satu SD di Madrasah Ibtidaiyah Banat nomor 97 Madinah…baru saja saya mengantarkan puteri saya masuk ke dalam kelasnya, salah seorang guru kelas satu tiba-tiba dengan suara keras mengeluarkan pernyataan begini : “kata saudari saya, Amir Saud bn Faisal bilang tidak akan pernah membuka lagi kerjasama penerimaan tenaga kerja Indonesia ke Saudi, tidak akan pernah lagi mendatangkan pembantu dari Indonesia”….Nah, lho, pernyataan yang tidak ada ujung pangkal, namun saya menyadari maksud ibu guru itu kepada saya karena saya satu-satunya WNI yang ada di tempat itu…saya dengan jengkel namun mencoba menahan diri menjawabnya :  ” Bukan cuma Saudi yang nggak mau buka kerjasama lagi dengan Indonesia, Bu Guru,  dalam hal ketenagakerjaan terutama pembantu rumah tangga, pihak Indonesia pun nggak mau buka lagi bila apa yang dituntut oleh pemerintah Indonesia tidak dikabulkan pihak Saudi”…si ibu guru ngotot, mungkin niatnya mau bersilat lidah pagi-pagi…tapi saya tidak punya selera melayaninya, karena saya tahu persis ibu guru itu tidak memahami apapun mengenai masalah pengiriman tenaga kerja Indonesia ini…si ibu guru hanya mewakili segelintir kaum wanita Saudi yang merasa sok tahu dan merasa superior dibanding saya yang WNI…saya pikir kenapa harus buang energi pagi-pagi berdebat dengannya….
Pulang ke rumah, ternyata saya terus terganggu oleh pernyataan si ibu guru itu…saya akhirnya menghabiskan waktu di depan laptop dan mencari jawaban, kapankah moratorium ini akan dibuka kembali ? Saya tidak menemukan jawaban.  Dari BNP2TKI.com belum ada kabar terbaru tentang pembukaan ini, juga tidak ada tulisan sudah sampai dimana prosesnya…yang saya maksud proses negosiasi dari team delegasi RI yang sudah beberapa bulan ini berkali-kali rapat dengan pihak Saudi di Jeddah maupun di Riyadh…apakah hasilnya ? sudah seberapa baik kemajuan negosiasinya ? apakah situasinya menguntungkan pihak RI ataukah tetap pihak Saudi superior ?
Saya bukan tenaga kerja Indonesia, saya hanya seorang ibu rumahtangga biasa…tapi kerap kali saya mendapat kesempatan untuk membantu para tenaga kerja Indonesia baik di sekitar tempat tinggal saya di Hijam st. Kota Madinah maupun melalui sahabat-sahabat….Itulah sebabnya saya merasa cukup tahu mengenai realita TKI setelah mereka tiba di Saudi…Beberapa tenaga kerja kerap mengirim sms pada saya, meminta bantuan, ataupun hanya sekedar minta saran nasehat saja…saya anggap semuanya saudara yang harus saya bantu.
Kembali ke pertanyaan yang menggelitik kepala saya, kapankah moratorium ini berakhir ? Kapan dibuka kembali pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Saudi Arabia ? Benarkah pihak Saudi tidak mau dan tidak akan pernah membuka kembali dengan Indonesia ?…Saya tidak punya jawaban kapan, namun ini yang saya temukan dalam kehidupan saya bertetangga : hampir semua tetangga saya, orang Saudi asli,  menunggu,  kapan Indonesia dibuka kembali…walaupun saat ini sudah berjalan visa housemaid Ethiophia, namun kebanyakan tetangga saya tidak mau mengambil pembantu dari Ethiophia, maupun negara lain seperti Kenya, Bangladesh ataupun Srilanka ataupun Maroko…mereka menunggu mendapat pembantu dari Indonesia.  Alasannya pembantu Indonesia bersih, sopan, taat, dan mereka sudah terbiasa mendapat pembantu Indonesia sejak neneknya, ibunya, sejak dulu di rumah mereka selalu bekerja pembantu Indonesia.
Saya selalu berusaha menjelaskan pada ibu-ibu tetangga saya orang-orang asli Madinah itu, bahwa Pemerintah Indonesia menutup pengiriman TKI ke Saudi karena mengharapkan perbaikan dalam sistem perlindungan TKI, mengharapkan peningkatan gaji TKI, dan mengharapkan peningkatan kesejahteraan TKI selama bekerja yang dalam hal ini saya contohkan mengenai jam kerja dan hari libur.
Beberapa kasus TKI yang pernah saya dengar, mengeluhkan jam kerja mereka begitu panjang sampai tidak cukup istirahat tidur, ada yang mengalami jam tidurnya hanya 4-5 jam sehari…tentu saja lama-lama mereka sakit, stress, dan kehilangan mood, akhirnya lama-lama hasil pekerjaannya semakin tidak memuaskan pihak majikan dan memicu perselisihan dengan majikan…namun saya tidak pernah menemukan TKI yang menuntut hari libur….mau pergi kemana hari libur ? Pergi keluar rumah majikan takut, tidak ada tempat tujuan berlibur, dan tidak ada muhrim untuk keluar rumah…Jadi saya sering bilang pada suami saya, alangkah baiknya bila pemerintah Indonesia punya “Rumah Indonesia” seperti gedung Tabung Haji Malaysia di depan Baqia, satu gedung dengan papan besar bertuliskan “Tabung Haji Malaysia” mudah ditemukan orang yang mencarinya….bila ada Indonesian Centre, semacam Rumah Indonesia yang berada di daerah strategis seperti dekat Nabawi, mudah ditemukan, mudah diakses darimana saja, maka rumah itu yang bisa menjadi tujuan para TKI berlibur, maka tentunya keinginan memperjuangkan adanya hari libur bagi para pembantu rumahtangga Indonesia yang kerja di Saudi akan ada gunanya dan bisa direalisasikan….Tapi saya percaya para TKI akan lebih memilih over time 50 riyal per hari dibanding memilih hari libur, karena teknisnya bepergian menuju Indonesia Centre atau Rumah Indonesia itu tidak mudah…tidak mudah bagi seorang TKI wanita bepergian, keluar rumah sendirian dari rumah majikannya menuju ke shelter atau rumah Indonesia itu karena masalah muhrim, transportasi, dsb…. Tidak mudah.
Dalam masalah perlindungan TKI, ini juga tidak mudah.  Sistem masyarakat Saudi yang sangat melindungi privacy tiap keluarga Saudi, sangat tidak memudahkan, begitu seorang TKI masuk ke dalam rumahtangga seorang Saudi, maka tidak mudah untuk mengakses TKI itu, kecuali pihak TKI sendiri menciptakan akses komunikasi dengan sering berkomunikasi pada keluarganya atau temannya melalui sarana telpon atau HP, ataupun dengan berteman dengan sesama TKI lain di sekitarnya….Masalahnya banyak sekali orang Saudi yang tidak berkenan bila pembantunya punya HP…saya sering menemukannya, ada yang sampai menyita HP pembantunya….Jadi, perlindungan TKI hanya akan bisa berhasil bila dasarnya ada daya tahan, ada move dari pihak TKInya dulu…tidak akan terdeteksi adanya masalah menimpa TKI di tempat bekerjanya bila pihak TKI tidak berani mengadu, atau tidak berusaha agar perselisihannya dengan pihak majikan segera diselesaikan melalui pihak yang bisa membantu….bila pihak TKI diam, tidak ada akses komunikasi dari tempatnya bekerja, maka semuanya masalahnya akan terkubur dan tak akan diketahui orang lain yang bisa membantunya, maka artinya semua kertas Perlindungan TKI ini gak akan efektif berfungsi sesuai tujuannya melindungi seorang TKI…pangkal mulanya ada pada daya tahan, daya juang pihak TKI itu sendiri, karena demikianlah adanya, sistem privacy di rumah-rumah orang Saudi begitu eksklusif sehingga tidak mudah diakses pihak luar.
Dalam hal banyaknya kasus perselisihan tenaga kerja dengan pihak majikan, hal ini menurut saya wajar sifatnya… ada yang berselisih karena merasa tidak cocok, ada yang tidak betah, ada yang tidak sanggup dengan beban pekerjaan, membuat TKI berselisih dengan majikannya…dalam hal ini menurut saya pihak Maktab Agency yang harus berfungsi maksimal…pihak Maktab Agency inilah yang seharusnya bisa diharapkan membantu mencari jalan keluar dari perselisihan TKI dengan majikannya karena biasanya para majikan begitu merasa ada masalah dengan pembantunya maka mereka akan mengadukannya ke pihak Maktab Agency…Dalam hal ini saya pikir ada baiknya mengusulkan agar semua Maktab Agency memiliki tenaga penerjemah Indonesia di maktabnya masing-masing yang tugasnya dikhususkan menangani perselisihan antara kafil dan TKI…saat ini banyak Maktab Agency yang tidak memiliki tenaga penerjemah, dan tidak ada pegawai yang secara khusus tugasnya menangani perselisihan atau menangani pengaduan….Membenahi tiap maktab agency lebih mungkin dengan mewajibkannya punya tenaga penerjemah Indonesia yang bertugas menangani perkara TKI, agar perselisihan tenaga kerja dengan pihak majikan bisa diatasi secara dini sebelum terjadi hal-hal yang lebih serius seperti kecelakaan, kematian atau tindakan kriminal yang merugikan pihak TKI maupun pihak majikan…Menurut pemikiran saya :  mewajibkan tiap maktab agency memperkerjakan orang Indonesia sebagai penerjemah dan sekaligus tugasnya bekerja menangani pengaduan pihak majikan dan TKI di maktab - maktab, itu akan lebih berhasil meningkatkan perlindungan bagi tenaga kerja Indonesia….dasar pemikiran saya karena seorang majikan bila merasa ada masalah dengan pembantunya, maka yang akan pertama dia telpon, yang pertama kali dia cari adalah pihak maktab agency.  Pihak majikan akan mengadukan pembantunya kepada pihak maktab agencynya…maka seorang TKI pun bila merasa ada masalah harus meminta kepada majikannya untuk diantarkan ke pihak Maktab Agency untuk diselesaikan masalahnya….ini menurut saya bisa langsung membantu menaikkan derajat perlindungan terhadap TKI dan bisa meminimalisir terjadinya musibah-musibah terhadap TKI….libatkan pihak maktab agency agar bertanggungjawab, caranya dengan diharuskan mempekerjakan orang Indonesia untuk menangani tiap TKI di maktab mereka…wajibkan setiap maktab agency untuk mempekerjakan seorang penerjemah Indonesia dan sekaligus tugasnya penerjemah itu menangani pengaduan dari kedua pihak yaitu TKI dan Kafilnya.
Jadi, kapan moratoriumnya dicabut ? Apakah akan menunggu pihak Saudi yang selalu superior untuk menyetujui tuntutan persyaratan-persyaratan PK (Perjanjian Kerja) yang banyak lampirannya, yang mengharuskan pihak majikan menandatangani langsung PKnya di Perwakilan RI, dan harus mencantumkan foto semua anggota keluarga Saudi itu, atau menunggu pihak Saudi menyetujui MoU perlindungan tenaga kerja, atau menunggu sampai rakyat di kampung-kampung di Indonesia protes nggak punya pekerjaan, nggak punya uang, pengen kerja di Saudi tapi nggak bisa berangkat ?
Harga yang harus dibayar oleh seorang calon majikan untuk mendapatkan pembantu Indonesia, terakhir sebelum diberlakukan moratorium berkisar antara 8,000 - 10,000 riyal untuk kota Madinah…saya dengar di kota seperti Riyadh sampai 12,000 riyal yang harus dibayarkan kepada Maktab Agency untuk mendapatkan pembantu dari Indonesia…harga itu belum termasuk uang untuk pembuatan visa housemaid Indonesia yang harganya 2,000 riyal…sedangkan yang harus dibayarkan pihak Maktab Agency Saudi kepada PPTKIS di Jakarta saat itu berkisar antara 2,000 dolar amerika sampai 2,500 dolar amerika per satu TKI pembantu….Mahal sekali bagi warga Saudi untuk mendapatkan pembantu Indonesia…dibandingkan dengan pembantu Ethiophia misalnya, warga Saudi hanya harus membayar sekitar 6,000 riyal kepada maktab agency, dan pihak maktab agency membayar sekitar 1,000 dolar amerika kepada pihak perusahaan pengerah tenaga kerja di Adis Ababa…..tapi secara tradisional, secara kebiasaan, warga Saudi lebih memilih punya pembantu Indonesia dibandingkan pembantu dari negara lain, karena sudah terbiasa…maka mereka menunggu.
Jadi, menurut saya kasus-kasus yang mencuat mengenai penganiayaan TKI, kematian TKI, dan berbagai masalah lainnya, memang hal itu benar sangat penting untuk ditanggapi oleh Pemerintah RI..namun, jangan dimatikan inti sarinya….dimanapun masalah pasti ada…tidak akan bisa nihil…Pemerintah RI telah bekerja secara nyata untuk meningkatkan martabat bangsa dalam masalah ketenagakerjaan di Saudi, itu tidak diragukan lagi…Teknokrat, Politisi, dan Ilmuwan telah bekerja…Saya menghimbau pengiriman tenaga kerja ke Saudi dibuka lagi segera, perbaikan sistem bisa dilakukan sambil berjalan…rakyat di kampung tidak bisa ditunda terlalu lama untuk mencari nafkah, nanti banyak anak putus sekolah, banyak anak yang kekurangan gizi, banyak yang sakit yang tidak bisa berobat, karena ibu-ibu di kampung masih banyak yang ingin bekerja ke Saudi untuk membiayai keluarganya….tidak akan pernah ada sistem pembekalan yang cukup untuk para calon TKI yang akan berangkat ke Saudi walaupun masa pendidikan di BLK sudah diwajibkan 20 hari atau sebagainya, karena pembekalan akan berpulang kembali kepada sikap mental dan kesiapan pihak TKI sendiri untuk menjaga dirinya dan bertahan untuk berhasil, sehingga bisa bekerja sesuai kontrak 2 tahun….Bila TKI bisa paham untuk menyesuaikan diri dengan pihak keluarga majikannya, kemungkinan untuk berhasil sangat besar…Bila TKI paham beratnya beban kerja yang akan dihadapinya dan menjalaninya dengan sabar dan teguh, kemungkinannya untuk berhasil sangat besar…Bila TKI paham kepada siapa harus mengadu meminta pertolongan, paham apa yang harus dilakukannya bila menemukan perselisihan dengan majikannya, maka semua musibah-musibah penganiayaan, kematian, tindakan kriminal terhadap TKI akan bisa diusahakan diminimalisir sekecil mungkin….Timbulnya penganiayaan yang sangat kejam, atau sampai kematian, adalah hasil proses perselisihan yang bukan satu dua hari antara TKI dengan majikan atau keluarga majikan,namun tidak segera diselesaikan, sehingga bertambah parah dan berakhir menjadi musibah.
Dibanding pilihan bekerja ke Taiwan, Hongkong, atau Malaysia, bagi beberapa kalangan rakyat Indonesia bekerja ke Saudi masih merupakan pilihan teratas…Hal ini karena masih ada motivasi lain selain mencari uang yang biasanya dicari seorang TKI, salah satunya adalah peluang untuk menunaikan ibadah Haji dan Umroh…bekerja di Saudi telah mendekatkan para muslimin muslimah itu untuk menunaikan kewajiban Haji karena sudah dekat tempatnya dan sudah akan murah biayanya…bagi seorang TKI biasanya cukup membayar 3,000 riyal sudah bisa menunaikan ibadah haji, beberapa yang beruntung biaya menunaikan ibadah hajinya dibayar oleh pihak majikannya, tidak perlu lagi merogoh saku sendiri.
Jadi, alangkah baiknya bila moratorium ini segera dicabut oleh Pemerintah Indonesia…bukan hanya lost devisa yang besar bagi negara, tapi langkah pembenahan, langkah peningkatan perlindungan ini bukan instant, tidak akan cukup sebulan dua bulan, melainkan harus proses terus menerus….moratorium ini bila diberlakukan 3 bulan, 6 bulan, bahkan setahun pun gak akan cukup karena bisnis ini menyangkut subyek manusia bukan barang yang mudah diatur…insaniyah, manusia yang punya keinginan dan karakter masing-masing…Pemerintah telah bekerja, LSM telah bekerja, semua yang terkait sudah bekerja, itu sudah sangat cukup…pelajaran untuk semua sudah cukup, hantaman untuk semua pihak sudah cukup….antara Indonesia dan Saudi saling membutuhkan…seperti yang saya tuliskan di atas, suara ibu-ibu tetangga saya orang Madinah asli pun mengharapkan agar Indonesia segera dibuka kembali, anggap itu suara umum ibu-ibu Saudi, semua mengharapkan Indonesia segera dibuka kembali…demikian pula harapan tetangga-tetangga keluarga saya di kampung-kampung di Indonesia, Pengiriman ke Saudi segera dibuka kembali.

#08


#07


#06


#05


#04


#03


#02


#01


Sunday, April 22, 2012

Ubuntu : Sebuah Kearifan Budaya Suku Xhosa Afrika



Seorang antropolog menawarkan sebuah permainan kepada anak-anak dari sebuah suku di Afrika. Dia menempatkan sekeranjang penuh buah di dekat sebuah pohon. Kemudian sang antropolog mengatakan kepada anak-anak bahwa anak pertama yang bisa berlari dan mendapatkan keranjang itu maka dialah yang akan mendapat buah-buah yang manis.
Ketika dia memerintahkan anak-anak kecil ini untuk berlari, ternyata semuanya kemudian bergandengan tangan dan lari bersama-sama menuju ke keranjang buah. Kemudian mereka duduk bersama dan menikmati hadiah itu bersama-sama juga.
Saat ditanya mengapa mereka berlari seperti itu padahal jika salah satu dari mereka memenangkan perlombaan maka dia bisa menikmati sekeranjang buah itu sendirian, mereka menjawab: UBUNTU. 
"Bagaimana mungkin salah satu dari kami merasa bahagia saat yang lainnya merasa sedih?"kata mereka.
UBUNTU dalam budaya Xhosa artinya "Saya ada karena kami ada" atau "I am because we are".
UBUNTU : I am because we are.

Makin Kau Kejar, Makin Ia Menghindar, Itulah Kupu-Kupu Yang Bernama Cinta



Cinta ibarat kupu-kupu. Makin kau kejar, makin ia menghindar. Tapi bila kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.
Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti, tapi cinta itu hanya istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerima. Jadi tenang2 saja, jangan ter-buru2 dan pilihlah yang terbaik.
Kepada sahabat2ku yang............ RAGU-RAGU DENGAN PERNIKAHAN
Cinta bukannya perkara menjadi "orang sempurna"- nya seseorang. Justru perkara menemukan seseorang yang bisa membantumu menjadikan dirimu menjadi se-sempurnanya.
Kepada sahabat2ku yang............ TIPE PLAYBOY/PLAYGIRL
Jangan katakan "Aku cinta padamu" bila kau tidak benar2 peduli. Jangan bicarakan soal perasaan2 bila itu tidak benar2x ada. Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hati. Jangan menatap ke dalam mata bila apa yang kau kerjakan cuma berbohong. Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali 'tuk menerimanya saat ia terjatuh.........
Kepada sahabat2ku yang............ SUDAH MENIKAH
Kalau Cinta jangan katakan "Ini salahmu!", tapi "Maafkan aku, ya?" Bukan "Kau dimana!", melainkan "Aku disini, kenapa?" Bukan "Kok bisa sih kau begitu!" tapi "Aku ngerti." Dan juga bukan "Coba, seandainya kau..." akan tetapi "Terima kasih ya, kau begitu....."
Kepada sahabat2ku yang............ BERTUNANGAN
Tolok ukur saling mencocoki bukanlah berapa lamanya waktu yang kalian habiskan bersama, melainkan untuk berapa saling baiknya anda berdua.
Kepada sahabat2ku yang............ PATAH HATI
Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya. Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan hikmahnya.
Kepada sahabat2ku yang............ BELUM PERNAH JATUH CINTA.
Bagaimana kalau jatuh cinta: Mau jatuh jatuhlah tapi jangan sampai terjerumus, tetaplah konsisten tapi jangan terlalu "ngotot", berbagilah dan jangan sekali2 tidak fair, berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut, siap2lah untuk terluka dan menderita, tapi jangan kau simpan semua rasa sakitmu itu.
Kepada sahabat2ku yang............ INGIN MENGUASAI.
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan orang lain, tapi
akan lebih sakit lagi mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak
bahagia denganmu.
Kepada sahabat2ku yang............ TAKUT MENGAKUI.
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang. Itu malah lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu. Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu [terhadapnya].
Kepada sahabat2ku yang ............MASIH BERTAHAN MENCINTAI SEORANG YANG SUDAH PERGI.
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu dan kau telah menyiakan ber-tahun2 untuk seseorang yang tidak layak Kalau sekarangpun ia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi, lupakan.......

Sunday, April 15, 2012

Hanya Lampu Merah, Tak Kurang Tak Lebih



Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.
Mike segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang.
Lampu berganti kuning. Hati Mike berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.
Mike bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja.
“Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prit!!!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Mike menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu kan Jack, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Mike agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Jack. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Mike.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” Tampaknya Jack agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. “Jack, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”
Oh-oh, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Mike harus ganti strategi. “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Mike. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”
Dengan ketus Mike menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Jack menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Jack mengetuk kaca jendela. Mike memandangi wajah Jack dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Jack kembali ke posnya.
Mike mengambil surat tilang yang diselipkan Jack di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Mike membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Jack.
“Halo Mike,
Tahukah kamu Mike, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.
Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Mike. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.
Jack”
Mike terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Jack. Namun, Jack sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita.
Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Tuesday, April 3, 2012

When U Search "Ryan Bakkaru" with Google, U Can Fine This


first page
.
.
.
.
.
2nd

.
.
.
.
.

.
3rd

.
.
.
.
.
.
.
4th

.
.
.
.
.
.
.
.
5th

.
.
.
.
.
.
what do u fine?
.
.
.
.
.
.
.
black shadow...............
.
.
.
'couse I am nothing..............
.
.
.

Sunday, April 1, 2012

Twitting Revolutions : 140 Characters at a Time



Sultan Al Qassemi introduces himself using his full name, Sultan Sooud Al Qassemi. He says, “It’s always better if you use my late father’s name, because there are so many Sultan Al Qassemis.”
The United Arab Emirates-based businessman and writer is best known for his role on Twitter, curating and sharing articles from all over the Arabic and English Web, live tweeting significant events in Egypt and beyond, sharing all the news he can find on the Arab uprisings and news emerging from the Middle East, 140 characters at a time.
His activity on Twitter has landed him on several top 100 lists of Twitter users in the Arab region, including the number one spot on Forbes Middle East’s top 100 Arab Twitter users as well as appearing in the top 10 list put together by Arabic London-based daily, Al Sharq Al Awsat, alongside a mixture of Arab politicians, royalty, activists and entertainers.
He dismisses the lists quickly and modestly. ”The lists are very subjective. It depends on who uses them. If you’re doing an Arabic list, I probably wouldn’t figure on that list because I tweet in English. I make a point of tweeting in English. It gets me a lot of criticism, but I feel there’s a market gap for tweets about the Middle East that are in English.”
Tweeting about and for Egypt                           
Despite being from the UAE, one of Sultan’s main topics of focus is Egypt, ”90% of my tweets are about Egypt, and the rest are about Saudi, and the Gulf states.”
Explaining the reasons for his choice of focus, he says, “I feel that with Egypt’s demographic and cultural weight, and Saudi Arabia with its financial and religious weight, these are two pillar states. They are the two countries that affect the rest of the Arab world. If these countries are reformed, then I feel the benefit is exponentially multiplied to regional countries in the case of Egypt, and to Gulf states in the case of Saudi. So if Egypt is a success story, then all of us are going to benefit, including people in the Gulf, in the North Africa, in the Levant.”
It’s impossible to miss Sultan’s passion for Egypt, whether on Twitter, or when speaking to him. We walked down a street in downtown Cairo, a stone’s throw away from the now infamous Tahrir, and he takes in the graffiti that has become an intrinsic part of how some activists choose to express themselves.
Walls have been erected throughout Cairo’s downtown streets, and artists have come all over the country to paint them. The most striking of these is one that paints the scene of the street, as though the wall was not there.
We don’t reach these walls because there is more than enough graffiti adorning the walls of the American University in Cairo. We stop and take a few photos. An old Egyptian man with an unruly head of white hair, wearing a pinstripe suit, walks up to us, and asks us for a minute of our time. Sultan is more than happy to stop and listen for a few minutes before we head back to a coffee shop that has witnessed the best and worst that Egypt’s uprising has had to offer.
Sultan is a writer first, before anything else. He’s been blogging, and has been active Twitter user for about 3 or 4 years. He explains the appeal that Twitter holds for him, “I felt it was complimentary to my writing. If you write an 800 word article, it will be read by a certain number of people, but the reach with social media is so much greater.”
It’s not about opinion, but that doesn’t mean it’s not personal
There is a self-imposed limitation on his tweets:
“I purposely avoid tweeting my opinion, because I’ve never felt, and still don’t feel, that I’m capable of giving an informed opinion a few minutes after an event takes place. I feel that I need to absorb the event, and then maybe three or four days later, write an op-ed about it.”
He uses Twitter instead to share articles he’s reading, and to live tweet events as they’re happening, giving the facts and nothing more. “I used to translate speeches, and it was always easier to tweet the speech rather than blog about it. It would take you maybe 15 or 20 minutes to edit the blog, and punctuate everything, and by then it’s too late. People need to know the news instantaneously, especially during the uprisings in Egypt, and throughout the region.”
The convenience of Twitter has turned it into the ultimate broadcasting tool for the journalist, and in the process, has earned him over 100,000 followers, and at least three or four replies from those followers per minute. ”Twitter was a tool that allowed me to broadcast in soundbites or in ‘text bites’.”
He goes on, “And I don’t just tweet everything I agree with. I tweet a lot of articles I don’t agree with – because I tweet my reading list. Ultimately everything I tweet are articles that I read. When I’m back home, I read four to five hours a day. That’s my job. I read. Out of the five hours, four are about Egypt.”
While it might not be about his own personal opinion, it’s still very much a personal experience. Asking Sultan what his most exhilarating and most difficult moments have been, tweeting through the Arab uprisings, both moments are firmly entrenched in the 18 days of Egypt’s movement.
“The most exhilirating moment on Twitter was when Hosni Mubarak stepped down. The most painful was Wael Ghonim’s interview [after he was released].”
Sultan doesn’t elaborate on the night that Mubarak stepped down, but chooses to focus instead on the interview with the Google Executive Wael Ghonim, who was the administrator behind the Facebook page that played a role in mobilizing protesters, the same day he was released from prison.
He says, “It was about 13 days after the uprising started, and I had a lot of emotions built up and I didn’t let any of them out, and then in the interview, they showed him photos of the martyred protesters, and he broke down, and I broke down. I remember crying for the first time since my father died. I said, I’m sorry I’m going to stop tweeting, and I did. I stopped tweeting for the next 12 hours so I could regain my composure. On a personal level, that was probably the pinnacle of my emotional attachment with Twitter.”
Citizen journalism meets The New York Times
Aside from a strong following, and earning the reputation as a credible and highly cited source, Sultan’s tweets have been the very basis of other professional journalists stories. He tells us about two examples.
“The New York Times wrote their article about Wael Ghonim based on my tweets. Time Magazine wrote their Gaddhafi exposé based on my translations. That’s when I realised that someone sitting in a small apartment in the Arab world can make a difference. His or her work can go to these huge media corporations that are 100+ years old, and can be used by these professional journalists to educate the rest of the world about what’s happening.”
Much has been said about the future of journalism and Twitter, and we’ve seen the effects, with major networks like CNN letting go of photojournalists in favour of citizen journalists. Sultan sees his own personal situation in a positive light. “For me it was ok, as long as they cited me. I liked that. As long as you were given credit for your work. I still think that people should be paid for their work as well, but in those days, we were all cheering the revolution, and weren’t thinking of ways to make money out of it.”
It all comes down to one thing, and it’s clear that as long as the story was getting out, that trumped any other concerns he may have had. He explains in one short sentence, ”I felt that it was making a difference.”
The real role of social media in the Middle East
Speaking to one of the Middle East’s most prominent social media users, it seems impossible to avoid the question, what was the real role of social media in the uprisings? Egyptians loathe the expression The Facebook Revolution, and with good cause, but that doesn’t mean that social media didn’t play some sort of role in the grassroots movement that burst out into Egypt’s streets, nor in the countries beyond, from Tunisia to the Gulf.
“It’s an enabling tool,” Sultan says.
“It allows us to find each other. It’s a very democratic tool – everyone is equal, and this is something we lack in the Gulf. So it was nice to see royalty from the Gulf and ministers and even rulers coming onto social media where people can ask them questions, and sometimes criticise them. It’s a very democratizing tool.”
Rather than focus on Egypt as an example, Sultan turns to his second favourite topic – Saudi Arabia. He refers to International Women’s Day, when Saudi women took to the streets for a different kind of protest. Instead of walk the streets of their city, these women did the one thing they are expressly forbidden from doing – they drove.
Twitter played a significant role on that day. He explains, ”Men and women in the streets in the Saudi cities, were warning the women drivers which roads to avoid while driving. They would tell them, there’s a police vehicle here or there’s a security check point there. And the women drivers had a passenger and the passenger would read the tweets, and say, ‘Don’t turn here, there’s a police officer.’ That was a great example of the community coming together to help a cause.”
Middle Eastern governments are trying to catch up
Governments in the region have had a rocky start on social media, and while some appear to continue to have a hard time with the tool, others have learned to manipulate the platform to their advantage. “They’re becoming more savvy now,” Sultan says, “But they’re also hiding behind trolls. In the Gulf, and in Syria, and other parts of the Arab world, you see regimes using a number of people who work with them. Either they sympathise with the government, or they’re employees. They go around and troll, intimidate users, they spam them. Bahrain is a great example of this.”
The trolling methods are varied – from flooding hashtags to the point where they become unusable to attacking activists online, questioning their patriotism and loyalty to their country, in what Sultan describes as an online form of McCarthyism.
“They use it to defame people, and in the Gulf recently, they use it to threaten people on social media. Sometimes the authorities say that they will arrest you.”
He cites an example when the Chief of Dubai Police told a UAE citizen on Twitter that he had a warrant for his arrest. “Does this indicate a future trend or is that an anomaly?” Sultan asks, and quickly answers his own question, “That is something we have yet to find out. It could be abused, which is worrying.”
That is not the only concern when it comes to governments and their growing awareness, and grasp, of social media. Sultan says, “I think that the legacy governments of the Arab world will probably start to wake up to the ‘dangers’ of social media and start legislating laws about its use, and we’ve seen Swaziland legislate that they’re going to enforce lese-majesty laws against insulting the leader.”
He points also to recent developments in Egypt, ”We’ve seen it over the past few weeks, with Islamist parties slowly imposing their understanding of what media should look like. Verbally in the beginning, and legislatively like we’ve seen with thebanning of pornographic websites. That’s the beginning. You can then find sites that are anti-Islamic, or seem to be promoting other ideologies like anarchy or atheism. So where do you stop? With pornography, does that mean banning anatomy, or biological websites? Or that educate you about male and female biological make up?”
Do we need a localized platform?
Sultan is quick to dismiss the idea of a localized social media platform for the Middle East. “Young Arabs are like youngsters all over the world. We are as special or as ‘unspecial’ as anybody else. I’m kind of biased towards young Arabs these days, but Twitter has been great at adapting – allowing hashtagging in Arabic in the past couple of weeks. So Twitter is adapting, but there’s much to go.”
While Twitter works out the kinks, after having added support for right-to-left languages including Arabic, there is one matter which is of far greater importance – translating Twitter’s Terms of Service into Arabic.
“Right now, very few websites have terms and conditions in Arabic,” Sultan says. “This does not allow people to know what their limitations and rights are. They don’t know that social media websites will not protect you. People assume that if governments demand your information that social media websites will not hand over the information, but the truth is that sometimes they are obliged to.”
A power Twitter user’s setup
His set up consists of two phones, three or four laptops, a TV with 2 different decoders. He’s subscribed to three or four breaking news services online, several email alert services, and is on private mailing lists.
“Twitter, obviously, is a huge resource,” and Sultan has one interesting use for his favourites. He explains, “I don’t tweet about the UAE, because it’s not as interesting, to me as Saudi Arabia or Egypt. There’s no politics. There are no political parties, but whenever there is a Human Rights Watch or Amnesty Statement, or any kind of report, I will tweet it and favourite it.”
The method hasn’t gone unnoticed by his followers, “I had someone tell me, I’ve never seen anyone favourite their own tweets, as in that it’s very arrogant of me. I explained to her that I don’t favourite them because I like what I tweet, I favourite them because I can direct people who ask me, “How come you never tweet about your country?” I tell them, go to my favourites, and you’ll see them all saved there.”
While Twitter is his social media tool of choice, Sultan is also active on Facebook, but he’s had to employ a few different tactics. “I started hiding people on Facebook – my friends. I care about them, and they’re great people, but I was so concentrated on the news, that I found myself hiding regular friends’ updates like their holidays, which also remind me of what I’m missing out on, and I read more about what other journalists post.”
I ask him, if he feels he’s missing out on a lot. Without a moment’s hesitation, he says, “This is exactly what I want to be doing. I don’t want to be doing anything else today. This takes me to other countries, and the best thing of all is that it brings me to Egypt.”

Wednesday, March 28, 2012

Perkumpulan Rahasia Paling Berbahaya



Keyakinan agama dan tradisi masyarakat dogmatis sering membuat orang menjadi kelompok-kelompok ideologis dan menyebabkan mereka untuk mengisolasi dari masyarakat arus utama dan menjadi keyakinan rahasia defensif. Mereka percaya menjadi bagian dari beberapa misi suci untuk mengubah dunia dan menghabiskan hidup mereka mengikuti ajaran-ajaran pemimpin mereka. Ini sering menimbulkan masyarakat yang bergerak secara tertutup namun memiliki akar yang tersebar di seluruh bangsa-bangsa. Mereka memiliki undang-undang rahasia mereka dan kegiatan yang sering tersembunyi dari non-anggota. Organisasi-organisasi ini membuat doktrin esoteris hanya diketahui oleh anggota mereka dan tersembunyi dari masyarakat biasa.
Mari kita lihat beberapa perkumpulan rahasia dunia yang terbentuk sejak masa lampau dan sebagian besar masih ada, hidup dan melaksanakan gerakan mereka secara diam-diam.
The Order of Nine Angles (ONA)
The Order of Nine Angles (Ona) adalah organisasi setan rahasia yang muncul di antara orang-orang dari Inggris Raya pada tahun 1980-an dan 1990-an. Masyarakat ini mengaku menjadi pengikut Satanisme dan menganggapnya sebagai individual yang sangat mengejar untuk menciptakan keunggulan diri sendiri dan kebijaksanaan, dengan menghadapi tantangan dan mengatasi batas-batas fisik dan mental. Saat ini, ONA diatur di sekitar sel-sel rahasia yang dikenal sebagai nexions tradisional dan di menyusup ke dalam suku-suku menyeramkan. Tulisan-tulisan ONA yang aneh mempertimbangkan korban manusia sebagai cara untuk menghilangkan kelemahan dan mengklaim bahwa suku-suku jahat adalah bagian penting dari strategi jahat untuk menjalankan misi, cara hidup lebih menyenangkan, dan untuk mengganggu dan akhirnya menaklukkan masyarakat biasa.
Thule Society
Thule Society Jerman. Persaudaraan Kematian Masyarakat yang idenya berpusat pada mencapai Tata Dunia Baru yang sangat aneh dalam istilah sederhana berarti membunuh orang untuk mengurangi populasi. Para anggota masyarakat yang berada di Thule mempraktekkan Seksual Black Magic dan Magic. Pameran Thule Society supranatural rutin diselenggarakan, selama itu mereka berkomunikasi dengan setan-setan yang mati, entah orang atau yang hanya muncul sebagai roh yang membimbing mereka. Adolf Hitler juga bergabung dengan masyarakat ini pada tahun 1919 di bawah kepemimpinan Dietrich Eckhart. Eckhart melibatkan Hitler untuk ritual sihir setan yang pada akhirnya membuat Hitler impoten secara seksual yang dianggap sebagai penyebab mengapa Hitler menjadi pembunuh yang begitu sadis.
Freemasonry
Menurut definisi Wikipedia, Freemasonry adalah organisasi persaudaraan bersemangat publik yang telah ada sejak abad ke-17. Kegiatan sentral Freemasonry amal tetap bekerja dalam lokal atau masyarakat yang lebih luas tetapi masyarakat memiliki sejumlah besar kontroversi dan rahasia yang sebenarnya terpendam dalam sejarah panjang. Telah dikatakan bahwa kaum Mason mengklaim bahwa Masonry terbuka untuk salah satu dari setiap iman dan bahwa itu adalah persaudaraan untuk membantu kaum Mason lain. Tapi itu hanya untuk menarik lebih banyak orang kepada masyarakat ini. G simbol yang digunakan dalam tanda-tanda mereka benar-benar diterjemahkan menjadi Masonik Gnosis atau generasi dengan Lucifer dan Allah sebagai musuh utama kekristenan. Mason mengambil sumpah agak mematikan sumpah darah untuk setiap derajat hingga 33 derajat. Mereka bersumpah setia kepada Tuhan Masonry dan negara di atas segalanya dan di bawah ancaman hukuman mati, bersumpah tidak akan mengungkapkan rahasia Freemasonry - bahkan tidak kepada istri-istri mereka.
The Order of Skull and Bones
The Order of Skull and Bones, sebuah komunitas dari Universitas Yale, awalnya dikenal sebagai Persaudaraan Kematian dan didirikan pada tahun 1832 oleh para mahasiswa. Masyarakat ini dikelilingi oleh teori-teori konspirasi; yang paling populer mungkin adalah ide bahwa pendiri CIA adalah anggota kelompok ini. Tetapi kebenaran lain yang lebih mengejutkan adalah bahwa seperti yang lain, masyarakat menyembunyikan rahasia gelap praktik kejahatan juga. Kegiatan seksual mereka dimasukkan ke dalam praktek-praktek mereka di mana mereka berbaring telanjang dalam peti mati memberitahu mereka rahasia seksual paling dalam dan paling gelapnya, sebagai bagian dari inisiasi mereka. Seperti ONA tujuan utama mereka adalah New World Order. Ron Rosenbaum dalam tulisan-tulisannya juga menunjukkan bahwa Bones dan Bavarian Illuminists berhubungan erat satu sama lain, memberikan bukti seperti 'menghantui foto ruang altar di salah satu logo Masonik di Nuremberg yang terkait erat dengan Illuminism. "Mengejutkan, Presiden Bush adalah seorang ahli dalam Persaudaraan Amerika dari Yale Skull and Bones Society”.
Terlepas dari beberapa perkumpulan rahasia yang sangat terkenal sepanjang masa adalah Rosikrusianisme, Ordo Templis Orientis, Hermetik Order of The Golden Dawn, The Knights Templar, Illuminati, Opus Dei dan Biarawan Sion.
The Assassins
The Assassins dianggap sebagai yang paling menakutkan dari semua masyarakat, rahasia, yang dibunuh, setiap korban lepas dari penjagaan dan personel keamanan. Mereka melakukan pembunuhan kejam terhadap orang-orang ternama dan ditakuti oleh raja-raja, pangeran, para syekh, dan sultan. Sebagian besar anggota awal kelompok rahasia pengikut Nizari cabang Iliyya Isma sekte Muslim Syiah dan berlokasi terutama di Suriah dan Persia. Masyarakat dipimpin oleh Hasan bin Sabbah (1034-1124) yang menciptakan suatu kelompok yang terdiri dari penggemar, yang dikenal sebagai Fedayeen, yang melakukan apa pun yang ia perintahkan dengan ketaatan buta. Mereka tampil sebagai petani sederhana selama siang hari, tetapi menjadi ganas dan sangat mampu pejuang di dalam kegelapan malam, menyerang korban-korban mereka dalam kegelapan.