Monday, September 9, 2013

Mie Mikri : Not Just a Noddle

"Mie Mikri, Bukan Sekedar Mie"
.
Mie Ayam. Ya, mie ayam. Siapapun pasti pernah mendengar dan mencicipi makanan yang satu ini. Bahkan ketika isu flu burung menghantam negeri ini, para penggila mie ayam tetap setia menyantapnya, walau ayamnya harus diganti dengan jamur atau lainnya. Tak lengkap rasanya hidup ini kalau lambung belum terisi mie ayam barang satu mangkok sekali dua hari.
Dari sekian banyak kedai mie ayam di sudut-sudut negeri ini, ada satu yang boleh dicoba bagi yang tinggal di timur ibukota.
Nama kedainya "Mie Mikri", diambil dari nama pengelola kedai ini, yaitu mpok Mila dan bang Fikri. Kedai ini hanya menyediakan mie ayam, just mie ayam ungkul, not else, mie ayam boleh dengan tambahan bakso atau pangsit rebus atau sosis bakar.
Posisi kedainya cukup strategis, di Jl. Pondok Kelapa Raya, 20 meter dari lampu merah Kali Malang. ................
"Baru segini artikelnya? dan ilustrasinya masih belum menjual tuh. Bikin yang spontan dan alami aja. Jepret secara random, biar faktual dan terpercaya", Zul menyerahkan kembali Tab milik Ryan.
"Hasil eksekusinya ada di laptop, lupa gue kopi PDF-nya. Brosurnya gue bikin lipat dua dan didove. Bagian judul dan gambar mie gue spot UV", ujar Ryan sambil menyeruput es kelapa mudanya.
Sejurus kemudian dua mangkok mie ayam pesanan mereka datang.
"Ini buat mas Ryan, mie ayam pangsit. Ini buat uda Zul, mie ayam sosis bakar balado. Silah......", cekatan sekali wanita ini menyajikan pesanan untuk pelanggannya.
"Makasih, mpok Mila......", Ryan menarik botol saus sambal dan menuang ke mangkok secukupnya.
"Tugas dari kampus kalian sudah jadi? Kalau ada yang kurang, kami siap sedia 24 jam loh", mpok Mila menatap Zul yang belum menyentuh mangkoknya.
"Sudah, mpok. Besok kami kasih dummynya", balas Ryan sambil ikutan melirik ke arah luar yang dilihat oleh Zul.
Sebuah mobil Avanza yang berhenti di seberang jalan rupanya menarik perhatian Zul. Tiga wanita dan seorang pemuda berkaos biru muda sepertinya tak asing bagi mata Zul. Begitu pemuda itu turun, Ryan dan Zul tersenyum tipis saja.
Pemuda itu menyeberang dan masuk ke kedai.
"Pesan apa, den?", tanya mpok Mila yang yakin betul kalau pemuda ini baru tumben ke kedainya.
"Mie ayam bakso, mpok. Kering ya? Thanks......", jawab pemuda yang dipanggil Alung itu sambil menuju meja di sisi kiri bagian tengah.
"Hello, brooo..... Sorry agak telat......", pemuda itu langsung duduk menghadap tembok belakang.
Ryan dan Zul cengar cengir saja, sementara dua gadis berseragam SMA yang duduk di sisi kanan tak sedikitpun melepaskan tatapannya ke Alung.
"Ngos-ngosan banget sih. Kewalahan ya ngadepin mereka?", Zul menyodorkan air mineral ke arah Alung sementara Ryan melirik ke kedua anak SMA yang asyik berbisik-bisik.
"Ganteng banget ya?.....", bisik gadis yang satu.
"Putih, tinggi, atletis....... hmmm...... komplit deh.... mudah-mudahan sinyalnya ngga lelet.....", jawab yang lainnya juga sambil berbisik.
Ryan dan Zul memperhatikan Alung yang sibuk memeriksa saku celana jeansnya.
"Sialan!! Hape gue jatuh kayaknya.....", Alung tampak cemas dan pucat pasi wajahnya.
"Terakhir loe pegang kapan?", Zul ikutan panik, soalnya memorycardnya ada di hape Alung, bisa berabe kalau jatuh ke orang lain.
Tak lama, sebuah Avanza tiba-tiba masuk ke parkiran kedai Mie Mikri, tepat di samping kiri mocin si Zul. Tiga orang wanita tampak di dalamnya dan hanya satu yang turun dan bergegas masuk ke kedai sambil menyapukan pandangannya ke ruang dalam kedai.
"Pesan apa, tante?", tanya bang Fikri ramah.
"Ah, ngga..... Mau ketemu mereka", jawab tante Dela.
Tante Dela langsung memburu Alung.
"Hello, manis...... Ini hape kamu jatuh di mobil", suara manja tante Dela bikin jengah dua gadis SMA yang terbakar cemburu.
"Waduuuh..... makasih, mami. Untung jatuh di mobil", Alung senang sekali hapenya tak jadi hilang.
"Oh iya.... ini bonus dari aku buat Alung yang manis.... bonus atas goyangannya yang maknyuuzzzz......", tante Dela menyodorkan sebuah amplop coklat.
"Asyiiik..... makan gratis kitaaa....", seru Ryan ditimpali salam tos tangan oleh Zul.
"Oh ya, mami.... Ini Zul dan Ryan sohib aku", Alung hampir lupa mengenalkan teman kuliahnya.
Ryan dan Zul pun menyalami tangan halus dan wangi tante Dela. Sementara itu dua gadis SMA itu berbisik-bisik gundah.
"Kapan aku bisa pake kamu lagi, manis?", ucap tante Dela sebelum pergi.
"Rabu malam, bagaimana?", jawab Alung.
"Hmmm...... bagaimana ya?", tante Dela sepertinya tak bisa. Calon suami oyotnya yang super tajir pulang siang itu dari kunjungan kerja di Sidoarjo dan minta dijemput.
"Ganteng sih ganteng..... tapi doyannya sama emak-emak....", bisik gadis SMA.
"Cabut yuk?!!", ajak yang satunya.
Dua gadis SMA itu beranjak dari mejanya, membayar ke bang Fikri lalu pergi meninggalkan kedai.
Karena tante Dela belum memutuskan, Alung pun memberi usulan.
"Terserah kapan mami bisa, aku siap sedia kok. Gimana?"
"Okey. Nanti aku hubungi deh. Ciaoo, manis....", dan tante Dela pun meninggalkan mereka.
Setelah Avanza tante Dela pergi, Zul menyenggol lengan Alung.
"Gimana permainan mereka? Yahud?", selidik Ryan.
Mie ayam pesanan Alung datang.
"Silahkan, den.....", suara ramah mpok Mila menahan jawaban Alung ke Ryan.
"Tengkyu, mbak.... eh mpok.....", Alung rada tertarik sama mpok Mila adiknya bang Fikri.
"Gimana, Lung?!", Zul juga ngga sabar menunggu jawaban si Alung.
"Namanya juga emak-emak, megang raket aja masih harus pake dua tangan. Kayak mau mukul kucing. Belum lagi kalo dikasih bola lambung, malahan lepas raket tenisnya. Cape banget pokoknya melatih mereka", jawab Alung sambil mengunyah mie ayamnya.
"Iya juga sih. Mereka latihan itu kayaknya cuma buat gengsi doang. Apalagi yang ngelatih mahasiswa Borobudur....", celoteh Zul membuat pecah tawa Ryan dan Alung.
"Terus.... proyek loe gimana, Ry?", Alung ingat tugas kampus mereka.
"Dah kelar dong. Tinggal produksi. Tugas kalian nanti nyebarin brosurnya, ya?", Ryan menjawab mantap.
"Ilustrasinya masih belum okey tuh. Gimana kalo pake jepretan loe aja Lung, mau?", Zul masih belum puas.
"Boleh.... ngga masalah", Ryan dan Alung sepertinya sepakat.
"Kalo gitu gue ama Zul cabut duluan. Ada responsi jam 3.... Loe hubungin aja mpok Mila ya?", Ryan melirik Alung yang kadang-kadang mencuri pandang ke mpok Mila.
"Gimana, Lung?!", tanya Zul sambil meninju lengan kiri Alung.
"Oh... ah... wadawww..... okey.... Kalian pergilah sana buruan. Semua gue yang bayar", jawab Alung sambil melihat senyum manis mpok Mila yang ternyata juga mencuri mata ke arah Alung.
Nah, begitulah sodara-sodara sekalian, kisah Satu Perjaka Tiga Janda untuk hari ini. Lain waktu jika yang di atas mengijinkan, gue lanjutin lagi dengan angle dan frame yang berbeda.
Bagaimanakah nasib Alung dan Tiga Janda?
Akankah Alung dan mpok Mila saling mengikat tali kasih?
Sudahkah sodara-sodara makan mie ayam hari ini?
..... SELESAI .....